Hanyut Bersama Mimpi-mimpi Lintang
December 1st, 2008 by astriparawitaWaktu meluncur bersama escalator di the best meeting point di daerah Semanggi, pandanganku tertuju pada sebuah standing banner dengan gambar yang amat aku kenal, seorang perempuan berkerudung yang sedang memainkan gitar, benar saja, standing banner di depan sebuah toko buku yang gerai-gerainya sedang banyak yang direnovasi dan memberikan diskon2 besar (tidak termasuk gerai yang kukunjungi hari itu), mengundang para pembaca untuk segera memiliki buku yang mungkin paling ditunggu-tunggu di Indonesia saat ini, buku pamungkas dari tetralogi Laskar Pelangi, Maryamah Karpov. Tanpa pikir panjang lagi, segera aku melangkah masuk ke toko buku tersebut, langsung mencari ke bagian buku baru, dan terpajanglah, puluhan buku Maryamah Karpov.
Akhirnya, buku yang aku nanti-nantikan ada di tanganku juga. Tiga hari aku habiskan untuk membaca kumpulan cerita setebal 500 halaman lebih sedikit itu. Seperti buku-buku sebelumnya, buku pamungkas ini membuat emosiku tak hanya larut bahkan hanyut dalam setiap kisah yang dirangkai Ikal. Dari antara 3 buku sebelumnya, Edensor, yang paling membuat aku merinding, terutama kisah perjalanan Ikal dan Arai menyusuri benua Eropa sampai ke Afrika. Tapi Maryamah Karpov, punya daya tarik tersendiri.
Maryamah Karpov, mempunyai judul kecil yaitu mimpi-mimpi lintang. Kalimat kecil yang ada di atas judul tersebut yang selama ini luput dari perhatianku. Di dalam lembar demi lembar Maryamah Karpov kutemukan mimpi-mimpi lintang itu, sekaligus sedikit mengobati kerinduanku kepada Isaac Newton Petani Kopra itu.
Di awal cerita, Andrea banyak berkisah tentang hubungannya dengan sang ayah, lebih banyak hubungan emosional yang unik antara Ikal dengan sang ayah; kuli timah yang digambarkan sangat pendiam dan bersahaja serta berjiwa besar itu. Puncak dari hubungan emosional antara ayah – anak tersebut ditutup dengan begitu dahsyat sekaligus unik di satu halaman sebelum penutup buku, halaman 502. (Sebetulnya aku sangat ingin menuliskan kutipan-kutipan kalimat dalam buku tersebut yang menarik buatku, namun demi menghormati mimpi-mimpi lintang yang baru saja diluncurkan belum sampai satu minggu, dan demi rasa hormatku kepada penulisnya; aku tahan saja niat menuliskan kalimat demi kalimat tersebut; tapi dengan satu perkecualian, sebuah puisi, nanti akan kutulis).
Pembaca akan terperangah dan terpesona, membaca halaman-halaman awal, tidak hanya larut dalam hubungan emosional ayah dan anak, tapi juga kebesaran jiwa seorang kuli timah yang tak pernah mengecap nikmatnya sekolah bahkan nyaris buta huruf. Hubungan emosional yang digambarkan selalu dengan kisah ikal kecil yang pergi dengan sang ayah sering dinaikkan di boncengan sepeda Forever dan diikat kaki-kakinya agar tidak tersangkut di jari-jari sepeda. Hal sederhana yang mengandung cinta mendalam dari seorang ayah pada anaknya, demikian pun sebaliknya kisah sederhana yang dituliskan oleh sang anak bermakna cinta yang begitu mendalam dari sang anak pada sang ayah.
Inilah salah satu keunikan tulisan Andrea, selain penuh metafora dan berliku-liku (sehingga terkadang agak bosan membacanya) tapi Andrea bisa menggambarkan emosi yang kuat dengan begitu sederhana tapi mengena.
Hubungan ayah – anak tersebut juga digambarkan dengan unik oleh Andrea yaitu bagaimana ia bisa membaca pikirannya ayahnya yang sangat pendiam itu dari ekspresi wajah dan senyuman sang ayah. Unik dan menggelitik. Ayahnya yang pendiam yang digambarkan tidak mampu berkata tidak pada sang anak yang nakal dan ikal. Ayah yang bersahaja yang selalu ingin melakukan apapun untuk anaknya dan demi harga dirinya sebagai ayah bahkan berhadapan dengan sekawanan lutung yang marah pun, ayah ini tak gentar.
Kebesaran jiwa sang ayah digambarkan oleh anaknya dengan lugas dalam kisah Asap Hok Lo Pan, menguap. Kekecewaan karena kesalahan administrasi, membuatnya malu di hadapan ribuan kuli timah yang naik jabatan, sang ayah sempat tertunduk beberapa saat namun kemudian berjalan tegak lagi bahkan menghampiri rekan-rekannya yang berhasil. Dengan jiwa besar mengucapkan terima kasih pada orang yang membuat kesalahan yang telah membuatnya malu di hadapan banyak orang, dan harapan sederhananya, kebaya encim baru untuk lebaran sang istri dan tas sekolah baru serta lezatnya kue hok lopan untuk sang anak, pupus sudah.
Lagi-lagi, Andrea Hirata membawa emosi pembacanya hanyut dan terombang-ambing dalam haru, sedih sekaligus kagum pada saat yang bersamaan.
Beberapa bab terdepan juga menceritakan sedikit akhir kisah perjalanan Ikal di altar suci Sorbonne, dengan sedikit keberuntungan dan kebaikan hati sang profesor pembimbing, akhirnya Ikal mampu keluar dari altar suci pendidikan dengan senyum.
Sidang tesis terakhir digambarkan juga dengan gaya khas Andrea Hirata, ironi menertawakan kondisi yang paling pahit sekalipun. Dan selalu ditutup dengan pelajaran tentang nilai-nilai yang tidak bernada menggurui. Berhadapan dengan profesor Italia narsis dalam kondisi nyaris mendekati titik terendah hipoglikemi di bulan puasa di Eropa yang hari-harinya jauh lebih panjang. Akhir dari kisah itu ditutup dengan ajaran bahwa orang yang berpuasa tidak akan lepas dari pertolongan Tuhan.
Hari-hari terakhir di Eropa diceritakan juga dengan tak lupa menyisipkan informasi-informasi menarik tentang seni budaya. Dari kisahnya tentang farewell party yang diadakan mahasiswa dari berbagai negara, Andrea menceritakan kepada kita tentang budaya dan gambaran umum kepribadian berbagai bangsa, mulai dari orang-orang daratan Cina yang menghargai tamu dan persahabatan dengan mulia serta mempersiapkan segala sesuatu dengan rapi dan penuh ritual, anak-anak Paman Sam yang pragmatis, bebas dan kasar; Jerman yang efektif dan fokus pada satu tujuan (mabuk), The Brits dan Belanda dengan musik berdentum-dentum dan tekanan pada party; India dan Amerika Latin yang dramatis, Indonesia yang filosofis dengan ceramah dan pengajian; sampai Yahudi yang tidak pernah mengundang siapapun selain orang Yahudi.
Kekaguman Andrea pada seni juga tergambar dari ceritanya bagaimana ia masih menyempatkan diri untuk melihat seni arsitektur dan lukisan-lukisan di Eropa. Andrea Hirata yang kekagumannya pada seni merupakan perpaduan menarik antara Anthoni Gaudi, Rembrandt, dan Rhoma Irama. Walau sudah melangkah sampai ke daerah yang dikatakan puncak tertinggi seni dunia, Paris dan Eropa lainnya, tetap tidak melupakan darah Melayunya dengan kecintaannya pada bang Rhoma. Cinta seni Andrea juga digambarkan dengan unik dan menggelitik pada saat perjalanan pulang naik bis butut ke kampung halamannya. Diceritakan sang supir bis yang adalah mantan artis lokal paling terkenal se-Belitong, mantan pemimpin orkestra melayu yang paling terkenal se-Belitong; yang dikalahkan oleh kecanggihan organ tunggal. Bang Zaitun yang sederhana namun paham betul lagu-lagu yang menggambarkan pribadi seseorang, mulai dari seorang sarjana akuntansi lulusan Jakarta yang digambarkannya lewat lagu Sting, calon dokter yang juga calon mempelai diberinya lagu Always – Atlantic Star, pensiunan pejabat dengan My Way – Frank Sinatra; dan pemuda ikal asli Belitong, lulusan Sorbonne – Paris digambarkan dengan lugas oleh Bang Zaitun dengan lagu kasidah dangdut perdamaian…perdamaian…
Cerita tentang seni itu menggambarkan seorang Andrea Hirata, seorang anak kampung melayu Belitong yang berani bermimpi untuk menggapai Perancis dan berhasil meraih mimpinya itu, yang mengagumi karya seni tinggi Eropa tapi juga menilai sangat tinggi seni negrinya sendiri.
Pribadi Andrea Hirata dan semua ceritanya adalah perpaduan dua kutub yang sangat berlawanan. Dan semua tergambar dengan lugas dalam keempat bukunya. Bagaimana Andrea menggambarkan madu sekaligus kepahitan hidupannya. Sesaat di kemewahan Eropa, saat lain di keterpurukan tanah airnya, dari kemewahan maskapai penerbangan Eropa, sampai kemelaratan transportasi laut negrinya, yang membuat bahkan seorang anak kecil harus menuruni tangga tali licin dari ketinggian sekian meter kapal besar ke sebuah kapal kecil di pagi-pagi buta dengan laut ganas yang siap menelannya jika ia tergelincir jatuh.
Yang paling menarik dalam tetralogi Laskar Pelangi adalah benang merah bahwa apapun bisa dilakukan asal berani bermimpi. Aku ingat kata-kata Andrea saat diwawancara di sebuah stasiun TV lokal Jakarta, bermimpi itu bukan tidur, bermimpi itu berarti bangun, mandi dan bekerja untuk meraih mimpi itu.
Itulah yang dilakukan Andrea, dari menjadi tukang kayu yang menghasilkan sebuah masterpiece mimpi-mimpi lintang, sampai menjadi kapitan hook yang menjelajah samudera menghadapi pimpinan tertinggi pirates of selat malaka. Mimpi-mimpi Lintang adalah dua halyang mengandung satu makna – mimpi raksasa yang terwujud. Meminjam bahasa sapaan dan gaya bahasa yang dipakai Andrea di buku keempatnya: bacalah bukunya kawan, maka kau akan temukan dua wujud konkrit nan dahsyat dari MIMPI-MIMPI LINTANG itu. Sesudah itu, kau akan temukan, betapa luar biasa, dua hal tersebut lahir dari sepasang tangan yang sama.
Cerita menarik lain adalah bagaimana Andrea memadukan ilmu, ilmu mistik dan ilmu fisika. Dua hal yang terpadu dalam persahabatannya dengan Mahar dan tentu saja si genius, Isaac Newton dari Belitong, tokoh Laskar Pelangi idolaku, LINTANG. Dua sahabat genius di bidangnya masing-masing. Bagian mengharukan pertemuan pertama Ikal dengan sahabat-sabahat Laskar Pelangi sepulangnya dari Eropa. Bagaimana Lintang digambarkan tetap menjadi penyemangat. Mengharukan tatkala mereka mengunjungi sekolah mereka; nostalgia mereka digambarkan dengan menatap garis-garis tinggi badan, yang ada di dinding sekolah. Garis-garis yang berkurang satu pada kelas tiga SMP, menandakan mereka kehilangan seorang sahabat, bintang kelas yang terpaksa ‘kalah’ oleh serangan ekonomi. Khas Andrea Hirata, tidak sekedar menggambarkan nostalgia dari bangunan sekolah, pohon tempat mereka duduk, tapi juga dari sebuah hal yang sangat personal, perkembangan tinggi badan masing-masing. Andrea juga menggambarkan ironi dari kehidupan mereka, bagaimana sahabat-sahabat kecilnya, tidak pernah pergi jauh dari kampungnya namun menemukan apa yang mereka cari, sementara Ikal, sang pemimpi yang telah menjelajahi benua Eropa sampai ke Afrika, ternyata tidak menemukan apa yang ia cari.
Kembali ke perpaduan mistik dan fisika dalam sebuah persahabatan. Ironi lagi, bagaimana Ikal menjadi bual-bualan orang-orang di kampungnya dengan dijadikan obyek taruhan karena mimpi-mimpinya. Namun di saat Ikal hampir putus asa dan berniat melepaskan mimpi-mimpinya, datang para sahabat – para pemimpi – Laskar Pelangi. Lintang tetap dengan kegeniusannya, Mahar dengan mistiknya. Laskar Pelangi menjadi penyemangat dan pemantik yang mengobarkan lagi api mimpi Ikal. Kekuatan dalil Lintang dan kekuatan magis Mahar, membawa Ikal mewujudkan apa yang bahkan oleh orang sekampung dianggap tidak mungkin. Membawanya kembali bertemu tidak hanya dengan Tuk Bayan Tula, dukun sakti yang dianggap siluman, tapi juga turunan keluarga penguasa lautan masa lalu yang tak kalah hebat kekuatan mistiknya, serta pimpinan bajak laut masa kini yang kejam lengkap dengan bukti-bukti kekejaman yang dilihat Ikal dengan mata kepalanya sendiri.
Ada hal menarik dalam pertemuan Ikal dengan Tuk Bayan Tula, yaitu cerita ‘persaingan’ Mahar dengan sang Guru mistik itu; bagaimana Mahar berusaha keras merebut hati sang guru dengan berbagai benda magis yang luar biasa, namun sang guru sama sekali tidak tertarik karena ternyata segala benda magis luar biasa yang dimiliki Mahar masih kalah jauh dengan apa yang ia miliki. Sebuah benda magis dengan kekuatan besar dan langka yang dimiliki Mahar, ternyata Tuk sudah punya dua buah. Seekor cicak langka yang dimiliki Mahar kalah ‘oleh’ tokek Tuk. Namun akhirnya ‘pertarungan’ dimenangkan oleh Mahar, berkat sebuah benda, yang dipersembahkan oleh Mahar untuk sang guru, yang tidak pernah dimiliki bahkan dilihat oleh sang dukun sakti. Sebuah benda dengan kekuatan ‘magis teknologi’ telah mampu membantu Mahar merebut hati Tuk. (Bacalah kawan, maka kau akan tahu benda apa itu! Lagi-lagi khas Andrea Hirata, yang menceritakan sesuatu dengan tak terduga-duga; di buku Andrea menggambarkan Mahar sebagai selalu tak bisa diramalkan – namun sebetulnya, Andrea-lah yang tak bisa diramalkan). Dan ternyata, Mahar bisa juga jatuh cinta.
Lintang, tetap Lintang, teman sebangku Ikal yang super genius, Andrea menggambarkan dengan kalimat Qui genus humanum ingenio superavit. Terkadang ada terbersit rasa tak percaya atau pikiran ini terlalu berlebihan, ketika membaca cerita demi cerita tentang Lintang dan dalil-dalil fisikanya. Namun jika mau melihat lebih jauh, Lintang selalu melihat fisika dengan sederhana, dari kehidupan sehari-hari. Itulah bagaimana ia bisa membuat rumus-rumus yang menghasilkan perahu asteroid, serta ‘menghidupkan’ perahu lanun yang sudah lama terbenam di dasar sungai; dengan teknik sederhana, logis; yaitu dengan drum. Kisah ini menggambarkan kekaguman dan kecintaan Andrea pada sahabatnya yang genius namun terlebih lagi kekaguman Andrea pada ilmu fisika.
Kegeniusan Lintang dalam ilmu fisika, sebetulnya sederhana, namun Andrea mengisahkan dengan luar biasa; mungkin ini gambaran kecintaan Andrea sendiri pada fisika. Lintang melihat fisika selalu dari kehidupan sehari-hari dan mampu melihat kehidupan sehari-hari sebagai fisika. Bagaimana Andrea mengisahkan Lintang yang mengajarinya fisika dari sudut biola. Hal yang pada akhirnya membuat Ikal belajar biola dengan ilmu fisika. Ini lagi-lagi sebuah daya tarik tulisan Andrea, mampu menggambarkan bagaimana ilmu fisika itu sebenarnya sederhana (sesuatu yang sebetulnya di dalam pikiranku masih belum percaya – aku tak suka fisika –mungkin itu salah satu sebab juga mengapa aku jatuh cinta pada Lintang).
Daya tarik tulisan Andrea adalah ia mampu menggambarkan sebuah persahabatan, bukan hanya dengan kata-kata manis dan indah, tapi juga dengan cerita perjuangan, cerita kongkrit tentang sahabat yang tidak hanya menjadi penyemangat namun juga teman dalam menggapai mimpi. Lintang dengan dalil fisikanya, Mahar dengan dalil mistiknya, juga keberadaan, Lintang menemani Ikal saat ‘membangunkan’ perahu lanun dan melahirkan mimpi-mimpi lintang, Lintang yang menyambut Ikal sesudah mengarungi samudera membuktikan betapa percayanya Lintang pada kemampuan sahabatnya yang diragukan oleh orang sekampung. Mahar menemani Ikal saat mengembara di lautan, Samson dan A Kiong menemani dan membantu Ikal menebang dan membawa kayu dari hutan. Semua itu menggambarkan bahwa dalam persahabatan ada kepercayaan, ada keyakinan, ada kehadiran dan keikutsertaan.
Dan benang merah dari semua itu adalah menggapai mimpi, sebuah pencarian yang berujung pada cinta. Cinta mampu membuat seorang melakukan apa yang dianggap tidak mungkin, cinta mampu membuat seorang mempertaruhkan nyawa dan mengarungi samudera dengan tuntunan sebuah pertanda samar. Kalimat sederhana LOVE WILL FIND A WAY, terbukti benar, walau dengan sebersit apa iya ada yang bisa mencinta sampai demikian hebatnya? Tidak hanya kisah Ikal tapi Arai pun demikian. Jika kita mau percaya, yakinlah, bahwa CINTA MEMANG DEMIKIAN HEBATNYA. Tergambar dengan jelas, semua perjalanan Ikal, sampai ke altar suci pendidikan, sampai menginjak benua Eropa, sampai menemukan Edensor, sampai ke pulau Batuan di selat Malaka yang berbahaya; semua demi mengejar kuku-kuku cantik dari toko Sinar Harapan.
Puncak semua emosi yang dicampur aduk itu ada pada CINTA, cinta seorang ayah pada anaknya, cinta seorang anak pada ayahnya, cinta antara laki-laki dan perempuan.
Membaca akhir kisahnya aku masih terombang-ambing, seperti berada di atas mimpi-mimpi lintang yang terombang-ambing antara selat karimata dan selat malaka. Yang paling kongkrit adalah berharap masih adanya satu buku lagi. Sisanya, kekuatan tulisan, yang mampu mengombang-ambing perasaan dan pikiran…
Tapi yang pasti, mengakhiri buku keempat ini, memunculkan kerinduan yang amat besar, kerinduan kepada seseorang yang sepertinya begitu lekat di hati, ah, mungkin aku menderita gangguan jiwa nomor F22 gangguan waham menetap. Aku begitu yakin, begitu rindu…
Ini sebuah puisi, dengan permohonan maaf sebesar-besarnya pada Andrea Hirata dan penerbit Bentang karena aku mengutip puisi itu dan menuliskannya di sini:
LINTANG
Dengan pisau lipat
Kuukir pelan-pelan
Kalimat yang dalam
Dari perasaanku yang larat
Karena hormatku yang sarat
Untuk pesona persahabatan dan kecerdasan
Lintang, Lintang, hatimu yang benderang
Qui genus humanum ingenio superavit
Manusia genius tiada tara