Archive for April, 2006

lanjutan…

Friday, April 28th, 2006

Lanjutan catatan perjalanan…

Pagi harinya saya terbangun oleh suara teriakan teman-teman yang sudah lebih dulu bangun, sayup-sayup saya mendengar mereka kegirangan karena matahari bersinar cerah.  Untuk orang yang baru saja merasakan dingin bak neraka yang membeku semalaman, tentu saja sinar matahari merupakan anugerah yang luar biasa.  Tapi, rasanya saya malas untuk keluar tenda, teriakan teman-teman tentang hangatnya mentari tidak begitu menggoda.  Saya terduduk di tenda, rasanya mulut ini ingin menikmati sesuatu yang manis, maklumlah semalam hanya kemasukan sedikit mie instan.  Dan mata saya tertuju pada sebungkus biskuit coklat, tanpa mempedulikan kondisi mulut di pagi hari, saya langsung menyantap biskuit tersebut, haahh…nikmatnya…Setelah puas makan biskuit barulah perlahan muncul dorongan untuk beranjak keluar tenda.  Apalagi kemudian terdengar teriakan teman yang menyuruh saya keluar untuk melihat pemandangan.  Ah, pemandangan gunung di pagi hari, tentu saja sangat menggoda untuk dilihat.  Dan, benar saja, begitu saya keluar tenda dan menuju tempat teman-teman berkumpul, alam menyajikan sarapan pagi yang luar biasa.  Seakan ada tangan raksasa yang menyibakkan tirai gelap semalam, pemandangan indah terhampar begitu saja di depan mata saya.  Puncak Gede terlihat di sebelah kanan saya dengan tebing dan kawahnya yang indah, di sebelah kiri tampak puncak Pangrango yang seakan menggoda saya untuk mendatanginya.  Kembali saya teringat lembahnya yang konon tak kalah indah, tempat abu sang idola tertabur, lembah mandalawangi.  Dan di antara kedua puncak gunung itu, terhampar perbukitan indah dan kota Bogor tampak samar di kejauhan.  Kesemuanya itu bertambah indah dengan selimut kabut tipis.  Hanya Tangan yang Maha Agunglah yang mampu menciptakan lukisan seindah itu.

Pagi itu kami isi dengan kesibukan mengeringkan segala sesuatu yang basah oleh hujan tadi malam.  Kami tidak memasak, karena selain persediaan air minum yang mulai menipis, waktu yang terbatas membuat kami lebih memfokuskan untuk membereskan barang-barang.  Untuk sarapan, seperti kemarin siang, kami kembali menikmati nasi uduk dan bakwan goreng.  Di sela-sela kesibukan, tentu saja kami tidak lupa untuk mengabadikan semua keindahan ini dengan kamera. 

          Waktu berjalan terus, kami memutuskan untuk segera beranjak dari tempat menginap itu.  Puncak gede dan lembah suryakencana sudah menanti untuk kami kunjungi.  Setelah semua persiapan beres dan masing-masing telah mengepak barang-barangnya, kami melanjutkan langkah menuju puncak.  Perjalanan ke puncak walau tampak dekat, namun tidak bisa dibilang mudah, terutama untuk pemula.  Perjalanan menanjak yang cukup curam membuat rasa lelah kembali datang, apalagi istirahat semalam ditengah udara yang dingin menggigit rupanya tidak cukup mengembalikan stamina.  Namun, suguhan pemandangan indah di kanan kiri, membuat rasa lelah tidak begitu terasa, sebaliknya semangat untuk segera mencapai puncak, membantu menguatkan langkah kami.  Jalan setapak menuju puncak diapit jurang di kanan-kirinya, namun alih-alih merasa seram, kami justru menikmati pemandangan yang semakin dan semakin indah.  Di sebelah kiri, masih serupa dengan pemandangan tadi pagi, namun kawah gede semakin jelas terlihat dan tetap indah, dengan kepulan asap yang keluar dari beberapa tempat.  Di sebelah kanan, terhampar pemandangan yang sangat luas, aneka warna dengan dominasi warna hijau, tampak juga danau situgunung yang kebiruan. Di belakang, puncak Pangrango tetap setia mengikuti langkah kami.  Semakin mendekati puncak, pemandangan lembah suryakencana di kejauhan mulai tampak.  Dari jauh saja lembah ini sudah tampak begitu indah, dominasi warna hijau dengan hamparan putih di beberapa tempat, padang Edelweiss.  Melihat sebuah bukit di sebelah kanan kami, seorang teman mengatakan bahwa bukit itu adalah tempat tinggal rajawali sakti (Condor heroes), sesaat setelah ia mengatakan hal tersebut, tampaklah elang jawa melintas dengan gagahnya dan melayang-layang disekitar tebing puncak Gede, tampak gagah. 

          Akhirnya, kaki-kaki kami mencapai ketinggian 2910m di atas permukaan laut.  Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama berada di titik tertinggi itu, karena waktu yang semakin pendek dan perjalanan kami yang masih panjang.  Setelah mengambil foto, kami segera meneruskan langkah menuju lembah suryakencana.

          Perjalanan ke lembah suryakencana bagi saya sangat menyenangkan, selain karena jalan yang menurun, rimbunan pepohonan membuat perjalanan itu semakin nyaman.  Daun pohon yang rimbun membuat udara sejuk, batang-batang pohon di sepanjang perjalanan, membuat saya mudah dalam menuruni jalan itu karena selalu ada pohon yang siap dijadikan tempat berpegangan, oh..I love tree…

          Ketika rimbunan pepohonan itu habis, terbukalah pemandangan yang kembali luar biasa indah, lembah hijau yang begitu luas, dengan hamparan bunga edelweiss di berbagai tempat, indah sekali!  Melihat padang yang begitu luas, kaki ini seakan ingin berlarian, taman eden di bumi, begitu kata seorang sahabat.  Dengan segera saya menggabungkan diri bersama teman-teman, melepas ransel dan membaringkan diri di rumput yang nyaman, sambil menatap langit biru yang dihiasi awan-awan putih, ahh..betul-betul serasa di taman eden. 

          Rasanya tak puas-puasnya menikmati keindahan lembah suryakencana, namun kami harus mulai memasak.  Segala bahan makanan yang dibawa dari Jakarta yang masih banyak karena kalah bersaing dengan nasi uduk di hari sebelumnya, mulai kami masak.  Sosis, ham, corned, telur, tuna, nasi goreng, wah serasa piknik keluarga yang menyenangkan. 

          Keindahan edelweiss menggoda saya untuk memetiknya, sebagai bunga abadi, ingin rasanya saya membawakan bunga itu untuk seseorang di Jakarta.  Namun, hati ini rasanya tak tega merenggut keindahan bunga itu dan membawanya ke Jakarta, akhirnya, saya cukup puas dengan berfoto di antara bunga-bunga edelweiss.

          Selain pemandangan yang menakjubkan, lembah suryakencana masih menyisakan kejutan lain.  Teman-teman ternyata sudah menyiapkan lilin berbentuk angka 28 di atas sebuah batu, meniup lilin dan mengucapkan harapan ulang tahun di tempat yang begitu indah, ahh..pengalaman yang tak akan terlupakan, semoga harapan itu terkabul…

          Ketika akhirnya kami mulai berjalan lagi menyusuri lembah suryakencana menuju jalur gunung putri, hujan mulai turun.  Segera saja kami mengenakan jas hujan.  Berjalan di bawah guyuran hujan, bersama teman-teman yang istimewa, tetap terasa menyenangkan. 

          Kami tiba di ujung lembah, dan mulai memasuki hutan gunung putri.  Sampai bertemu lagi lembah nan indah, dalam hati saya berbisik, suatu hari nanti, saya pasti kembali dan menginap di lembah ini. 

          Jalur gunung putri kami pilih sebagai jalan pulang, dengan pertimbangan jarak yang lebih pendek.  Walau medan cukup berat, tapi kami berharap dengan jarak yang lebih pendek, kami dapat segera tiba di bawah sebelum gelap datang.  Seperti sudah diduga sebelumnya, perjalanan menurun melalui jalur gunung putri tidak bisa dibilang mudah, terutama bagi pemula.  Tanah yang licin dan becek sering kali membuat saya terjatuh.  Untunglah kemudian saya menemukan cara yang cukup jitu jika melalui turunan yang cukup sulit.  Sebelum saya terjatuh, saya sudah menjatuhkan diri dan berjalan memanfaatkan otot-otot gluteus, saya menyebutnya sebagai jurus ngesot; tetap menyenangkan.  Karena selain saya aman dari jatuh, saya juga bisa melemaskan kaki sesaat karena posisi duduk. 

          Hujan yang mengguyur di awal cukup menghambat.  Untungnya tak lama kemudian hujan berhenti.  Sayangnya, kondisi kelelahan yang dialami membuat langkah kami juga semakin lambat.  Dan akhirnya kami tak kuasa menahan kejaran gelap yang datang mendahului kami.  Dengan kondisi yang gelap, perjalanan menjadi jauh lebih lambat.  Ditambah lagi kaki-kaki ini rasa-rasanya sudah tidak mau lagi diajak melangkah.  Bukan hanya sekali dua kali sebagian besar dari kami, terutama saya, terjatuh.  Jurus ngesot sudah tidak lagi berguna.  Untunglah sahabat yang setia mendampingi langkah saya, sangat membantu.  Walau ia sendiri mengalami cedera di kakinya dan terasa sakit, membuat ia seringkali terjatuh, namun ia tetap membantu langkah saya dengan setia.  I love you, sweet bro…

          Entah apa yang merasuki hati saya, tiba-tiba saja, sekitar 3km sebelum akhir perjalanan, emosi datang menyergap.  Kelelahan terasa begitu kuat, kaki semakin menolak melangkah, sehingga membuat saya tersandung-sandung, ditambah melihat teman-teman yang juga mulai mencapai titik akhir kelelahan.  Semua itu membuat saya merasa begitu marah, jengkel dan kesal kepada diri sendiri.  Penyesalan pun mulai merambati hati saya, kenapa saya begitu egois?  Hanya untuk mewujudkan impian, merayakan ulang tahun di gunung, saya membuat teman-teman saya mengalami kelelahan yang amat sangat.  Kenapa pula saya merasa begitu lelah dan tidak bisa melangkah dengan benar sehingga saya menyusahkan sahabat saya yang juga sudah sangat lelah.  Untunglah sahabat yang lain datang membantu, ia mnguatkan hati saya untuk terus melangkah dan melangkah.  Akhirnya, kami sampai di sebuah sungai, segera saja saya mereguk air sungai itu.  Begitu air dingin mengalir di esofagus, kesegaran perlahan tapi pasti merambati diri saya, tidak maksimal memang, tapi cukup menenangkan.  Apalagi ketika kaki saya sesaat direndam di dinginnya air sungai, sesuai anjuran sang sahabat, seakan kekesalan dan penyesalan tadi mengalir keluar terbawa oleh air sungai itu. 

          Beristirahat sejenak di tepi sungai, tapi kami harus meneruskan langkah karena malam semakin larut dan perjalanan masih panjang.  Jalan menanjak menuju hamparan kebun penduduk, untunglah bisa kami lewati.  Perjalanan menyusuri pematang ladang, ditemani aroma daun bawang, sebetulnya bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan.  Namun, karena kelelahan yang sangat, kami mengumpulkan sisa-sisa energi untuk tetap berkonsentrasi pada langkah kaki. 

          Akhirnya, tibalah kami di akhir pejalanan, setelah melapor ke pos penjagaan, kami berjalan menuju sebuah warung dan menikmati minuman sesuai selera, ada teh hangat, ada es teh, ada pula minuman ringan bersoda.  Kami kembali ke Cibodas dengan menyewa angkot.  Dan saya tertidur dalam perjalanan ke Cibodas.

          Ketika akhirnya kami kembali menikmati sate kambing di rumah makan pak Haji Kadir pada pkl 2.00 pagi, saya menyadari bahwa berkat TUHAN begitu besar bagi kami.  Rasa-rasanya tadi perjalanan kami tidak akan pernah berakhir, kelelahan akan membuat kami terjatuh dan tak mampu melangkah lagi.  Namun ternyata, kami bisa kembali menikmati sate di rumah makan ini dalam keadaan baik walau lelah, mengantuk dan kaki terasa sakit.  Tuhan sungguh-sungguh mendampingi perjalanan kami dan memberikan pengalaman sangat berharga, tentang arti kebersamaan, tentang arti persahabatan, tentang arti persaudaraan, tentang arti kasih sayang, antar manusia, antar alam dengan manusia; juga tentang arti perjuangan, harapan dan kehidupan.  Terima Kasih TUHAN. Amin….

catatan perjalanan

Tuesday, April 25th, 2006

Catatan perjalanan seorang yang baru pertama kali merasakan sentuhan kasih sebuah gunung…

48 jam di Gede

Pluit - Jumat, 21 April 2006, pk.20.00

Perjalanan panjang itu dimulai dengan menembus kemacetan jalan kota Jakarta, setelah berjuang dengan susah payah, akhirnya sampai juga kami di tol jagorawi yang untungnya cukup lancar.  Keluar dari tol, perjalanan di puncak pun cukup lancar.  Berhenti sebentar untuk makan malam di rumah makan pak Haji Kadir, sate ayam dan sate kambing sebagai energi untuk pendakian. Sesudah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju cibodas.

Cibodas dipilih sebagai jalur pendakian kami dengan alasan medan yang lebih ‘ringan’ jika dibandingkan jalur gunung putri, walaupun memang lebih panjang.  Pilihan tersebut atas dasar adanya 3 peserta perempuan yang baru pertama kali mendaki, dan salah satunya adalah saya.

Sesampainya di cibodas, kami segera mendaftarkan diri di pos, untuk kemudian memulai perjalanan panjang menuju puncak. Pada awalnya, langkah-langkah kaki kami masih terasa ringan, menikmati kegelapan malam sambil bersenda gurau dan bernyanyi (mulai dari lagu top hits sampai lagu rohani dan tentu saja lagu andalan Cahaya Bulan dan Gie).  Tiba-tiba, jalan tanah habis dan kami sampai di suatu jembatan kayu yang sangat panjang.  Awalnya saya tidak menyadari ada keindahan alam di atas sana, sampai seorang teman memberitahukan untuk melihat ke atas. Luar biasa, langit kelam yang tadi tertutup awan kini terbuka lebar, memperlihatkan lukisan indah, kerlap-kerlip bintang yang sangat cantik menerangi langit malam…

Sabtu, 22 April 2006 pk.03.00

Akhirnya setelah 3 jam berjalan, kepenatan mulai menggayuti tubuh.  Kami tiba di sebuah ’shelter’,  bangunan kecil terbuka serupa pos hansip, dengan dikelilingi 3 tembok dan jendela terbuka serta atap.  Kecil dan sederhana, tapi rasa-rasanya cukup nyaman untuk melepaskan kepenatan.  Jadilah, setelah membereskan alas tidur dan menikmati susu coklat hangat beramai-ramai dari sebuah gelas yang dibuat dari bekas botol air mineral, kami ber12 memenuhi bangunan kecil itu. Namun ternyata hanya maksimal untuk 10 orang, terpaksalah 2 orang di antara kami tidur di luar. Tidur berdesakan di udara yang dingin ternyata cukup nyaman, paling tidak membuat lebih hangat.  Namun rupanya,  rasa lelah dan tempat yang sempit juga mengganggu tidur.  Beberapa kali saya terbangun dan merasakan sakit pada betis dan kaki, bahkan sempat terasa kram; hal tersebut saya atasi dengan menikmati irama dengkuran teman-teman yang bersahut2an sehingga membuat saya kembali masuk ke alam mimpi.

Sabtu, 22 April 2006 pk.06.00

Pagi itu, saat saya terbangun, ada perasaan nyaman yang sulit dilukiskan (tentu bukan karena orang yang tidur di sebelah kanan saya :) begitu membuka mata, tampak langit cerah di antara pepohonan, suasana yang sangat nyaman untuk bangun tidur.  Perlahan teman-teman satu demi satu mulai terbangun. Sebagai perempuan, saya dan dua orang teman lain mulai menyiapkan kompor untuk masak mie instan dan susu coklat.

Setelah semua kenyang dan barang2 dibereskan, kami memulai perjalanan lagi dengan target puncak dan berharap bisa bermalam di lembah suryakencana.

Perjalanan panjang semakin berat, rasa lelah semakin menggayut, namun kami terus berjalan.  Hari itu cibodas cukup ramai, beberapa kali kami berpapasan dan saling susul dengan beberapa pendaki dari berbagai kelompok.  Sampai suatu kali, kami bertemu dengan seseorang yang kami kira pendaki namun ternyata dia menawarkan…nasi uduk. Ya ampun, ada tukang nasi uduk di atas gunung!!!Jadilah kami melanjutkan perjalanan dengan beban tambahan berupa 12 bungkus nasi uduk.

Sekitar jam2 siang kami tiba di kandang badak, tempat peristirahatan sekaligus area camping yang cukup luas.  Di sana kami beristirahat sambil menikmati nasi uduk, bubuk susu coklat dan agar-agar kopi. Setelah cukup kenyang, kami melanjutkan perjalanan.

Langkah-langkah saya semakin berat, namun semangat tetap ada untuk terus berjalan.  Akhirnya, kami sampai di tantangan terberat itu, tanjakan setan, dan tepat saat itu lah hujan mulai turun.  Dengan susah payah (terutama untuk kami para pemula), kami menaiki tanjakan itu, bergantung pada tali yang tersedia.  Sampai 3/4 perjalanan, hujan turun dengan derasnya, bivak yang dibangun tidak cukup untuk menahan guyuran hujan.  Sambil menunggu teman-teman yang lain tiba, saya duduk kedinginan di tepi jurang, di belakang bivak.  Bingung memikirkan bagaimana caranya melewati sisa 1/4 tanjakan lagi yang cukup terjal namun tali penyangga sudah putus. Tiba-tiba, 2 orang teman memutuskan untuk naik, dengan bantuan tali yang tersisa.  Entah bagaimana caranya akhirnya mereka berhasil sampai di atas dan memasang tali untuk kami naik.  Pengalaman yang luar biasa buat saya yang baru pertama kali, cuma dengan kepasrahan kepada Tuhan dan kepercayaan pada dua sahabat yang membantu di atas, saya memegang tali dan mengangkat badan menaiki lereng terjal yang licin di bawah guyuran hujan. Begitu sampai di atas dengan selamat, saya merasakan euforia yang luar biasa, apalagi ketika sahabat saya meneriakan ‘coba lihat belakang tuh’, dan ketika saya berbalik, tampaklah pemandangan luar biasa, puncak pangrango!

Setelah mengganti baju sebisanya, kami melanjutkan perjalanan yang semakin berat.  Hujan tidak berhenti mengguyur tubuh kami, walau jas hujan sudah terpasang, namun dinginnya udara gunung tidak bisa tertahan, apalagi kaki saya diselimuti kaus kaki dan sepatu yang sudah sangat basah.  Perjalanan pun semakin dan semakin lambat.

Tanpa terasa waktu, kegelapan serta rasa lelah berjalan lebih cepat daripada langkah-langkah kaki kami.  Dengan berat hati kami terpaksa menghentikan perjalanan hari ini sebelum tiba di puncak, pupus sudah harapan untuk bermalam di lembah surya kencana.  Yang bisa menghibur lagi-lagi adalah pemandangan.  Malam yang kelam, membuat lampu-lampu kota tampak indah, kota Bogor terlihat cantik di kejauhan; membuat saya teringat pada seorang teman yang mungkin akan kagum juga jika melihat pemandangan cantik kota kelahirannya dari atas gunung.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan, membuat salah seorang teman nyaris jatuh pada hipotermi.  Segera kami membantunya menghangatkan diri dengan kertas aluminium foil, jaket, sleeping bag, sarung tangan, kaus kaki; untunglah setelah mendapat minum hangat dan sedikit mie instan, kondisinya mulai membaik.

Hujan ternyata tidak hanya membasahi tubuh kami, beberapa sleeping bag dan matras alas tidur kami juga kebasahan.  Jadilah malam itu sebagian besar dari kami tidur dalam kedinginan.  Walau sudah mencoba saling berpelukan, tetap saja rasa dingin menyerang.  Lama sekali rasanya ketika akhirnya pagi datang…

Minggu, 23 April 2006, pk.07.00

Pagi itu, saya terbangun dengan teriakan-teriakan teman-teman yang sudah lebih dulu bangun. Mereka kegirangan melihat matahari yang bersinar cerah. Untuk orang yang baru saja menghabiskan malam seperti di neraka yang membeku, sinar matahari memang anugerah yang luar biasa. Saya sendiri masih malas untuk keluar tenda, tapi rasa-rasanya ingin menikmati sesuatu yang manis.  Mata saya tertuju pada sebungkus biskuit, akhirnya saya dan teman-teman di tenda itu menikmati biskuit coklat sebagai ‘pencuci mulut’ di pagi hari.

Begitu keluar dari tenda, lagi-lagi saya dikejutkan oleh pemandangan.  Setelah kegelapan yang menyelimuti malam sebelumnya, pagi itu seakan ada tirai raksasa yang membuka, dan terhamparlah pemandangan luar biasa indah. Puncak gede di sisi kanan, tebing dan kawahnya, bukit-bukit dan kota bogor di kejauhan, serta puncak pangrango di sebelah kiri yang seakan mengundang untuk datang.  Semua itu diselimuti kabut tipis yang menambah keindahan.  Sungguh, melihat semua itu, kepenatan, rasa lelah dan kedinginan hari sebelumnya terhapus sudah, rasa syukur yang luar biasa karena bisa melihat pemandangan seindah itu, sehari setelah genap berusia 28 tahun, betul-betul mimpi yang menjadi kenyataan.  Terima kasih TUHAN, terima kasih TUHAN….

p.s: udah cape, masih panjang ceritanya, ini baru catatan perjalanan pertama, masih ada sambungannya, belum lagi pemaknaannya, sabar ya teman2, gue lanjutin besok, soale jalannya aja 48 jam, ceritanya juga panjang kan, foto2nya juga belum sempet di upload nih…sampe besok…

selalu

dengan KASIH

us3

Happy Easter

Saturday, April 15th, 2006

CARITAS CHRISTI URGET NOS, semoga KASIH YESUS mendorong kita untuk tetap setia menjadi PELAYAN KASIH yang melintas batas…HAPPY EASTER

p.s : mungkin tidak sehubungan dengan paskah, tp gue sangat berharap gue bisa menjadi lebih baik, terutama dalam bersikap, sehingga apapun yang gue lakukan, yang apa adanya gue lakukan, tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman karena gue selalu mencoba untuk tulus tanpa menuntut apapun dari siapapun..

gue tadi mencoba mengedit sebuah tulisan di blog ini, tp kayaknya gagal deh, bukan bermaksud tidak bertanggung jawab akan apa yang udah gue tulis, tp gue khawatir tulisan itu menimbulkan kesalahpahaman lagi, atau membuat pihak2 tertentu merasa dirugikan; kalau ada pihak2 yang ingin minta konfirmasi tentang apapun yang gue tulis di blog ini, silakan tulis comment ato hubungi gue langsung, gue akan menerima dengan terbuka apapun itu, karena setiap masukan dari seorang sahabat pasti mempunyai makna…

GBU all…

selalu

dengan KASIH

us3

cerita baru

Tuesday, April 11th, 2006

sebetulnya lagi ga gitu pengen nulis, tp iseng deh…kemarin akhirnya gue kembali melakukan kegiatan yang beberapa tahun lalu pernah gue tinggalkan, setelah sekian lama mencari akhirnya gue menemukan dan kembali lagi, mudah2an ga akan gue tinggalkan lagi; kesan pertama…mnyenangkan, semuanya fun, temen2nya enak, suasananya menyenangkan, gurunya nice, walopun gue lagi2 cewe sendiri, tp ga masalah, semua membantu, dan gue seneng…seperti yang gue baca di buku, harus menyenangkan, dan gue merasa senang kemarin…

hari ini, seperti biasa kuliah lagi, dr lukas, menyenangkan, masih dengan teori eksistensialistiknya, terus ketemu pasien, dua pasien neurotik, dua psikotik dengan permasalahannya masing2, satu pasien sepertinya perlu di CBT, tp kayaknya gue tadi terlalu ‘nafsu’ menCBT, hehehe…besok protokol wawancaranya mau gue kasih buat kuliah mami, mudah2an ada masukan..tp ada satu kalimat yang menarik dari pasien itu, dia bilang sukses untuk dia adalah ketika dia bisa melakukan sesuatu yang selama ini menurut orang lain tidak bisa dia lakukan tapi dia bisa melakukan itu dengan rasa senang dan bisa membuat orang lain bangga…masih gue pikirkan kata2 itu untuk mencari maknanya…

ada beberapa hal yang terjadi minggu lalu yang seharusnya bagus untuk ditulis di sini, tp karena udah lewat gue jadi agak2 malas nulisnya, hehehe…secara umum gue memang lagi diserang rasa malas terus nih, ga tau kenapa, liburan juga lebih banyak gue habiskan dengan menonton dvd, kali ini lagi pengen nonton harry potter lagi, ada yang menarik dari kata2 dumbledore ‘happiness can be found even in the darkest time if only we remember to turn on the light’ kurang lebih gitu lah, bingung ya, sori kalo bahasa inggrisnya ngaco, hihihi, ntar gue cek lagi deh…

seorang sahabat kembali mengingatkan gue akan makna keberadaan seseorang untuk orang lain, tanpa gue sadari ternyata dia memaknai keberadaan gue, di saat gue menolak seseorang, justru dia menyatakan siapa gue buat dia, dan itu membuat gue berpikir, yah..gue bisa menerima keberadaan siapapun seberapa itu mengganggu, apalagi kalau gangguan itu sebenernya ga bisa gue jelaskan…

ketemuan sama yuyu, cukup menyenangkan, walau gue lagi lelah banget, sori ya yu kalo waktu itu gue seperti kata loe, ga kayak biasa, bukan apa2, gue memang cape banget minggu lalu, melelahkan banget…diawali dengan11 pasien yang udah gue cerita di blog sebelumnya dan ditutup dengan kesalahan BESAR yang gue lakukan, semakin mengingatkan gue untuk PERHATIKAN PASIEN LOE!!! saking perhatiannya, gue konsul ke sana - sini tp lupa melakukan hal sederhana namun PENTING, CEK TENSI, booo…loe dokter bukan sih??? ternyata tensinya tinggi, GILA, gue kayak ditampar banget, narsisistik injury, tp ga penting injury gue, yg penting pasien baik2 aja, tp gue yakin masalahnya bukan cuma tensi tinggi dan gejala ‘psikotik’ yang tampak tp lebih dari itu ada masalah dinamik yang ga mudah…tp dari situ gue kembali belajar dan diingatkan untuk PERHATIKAN PASIEN LOE!!!

hari sabtunya lelah juga, jaga pagi sampe malem, besoknya…jalan2, membawa wisatawan dari singapur, gaya bener, puluhan tahun hidup di jakarta, baru 2 tahun di sing, balik jakarta udah kayak turis, hehehe, wisata kuliner dan ke musium!!!tp gue juga hampir 28 tahun hidup di jakarta baru kali itu menginjakkan kaki di china townnya jakarta, dan ke musium sejarah jakarta, gue seneng sih, pengalaman unik, sebetulnya daerah kota, petak 9, pasar gloria itu, kalo di manage dengan baik pasti ga kalah sama chinatownnya sing, dan makanannya enak2, pasti yang ga halal dong..huehehehehe….

musium sejarah jakarta juga unik, kalo menurut nyokap sih gue pernah ke sana waktu masih kecil tp gue ga inget tuh, menarik banget ternyata di dalemnya, dan lumayan rame juga lho pengunjungnya, bayangin aja ada pedang yang dari jaman belanda yang udah dipake puluhan ribu kali mungkin untuk menggal kepala orang, belum lagi penjara2nya yang menarik banget, tp kalo gue disuruh ke situ rada sorean pasti ga berani gue!!! liat aja foto2nya, udah gue upload kok…

udah ah ceritanya, biasa aja kan, lagi ga mood nulis, dan paha gue pegel banget, dari tadi kalo abis duduk pasti sakit pas bedirinya, maklum deh, kurang pemanasan, hehehe….

si edo udah manggil2 tuh, bawel bener sih dia…

selalu

dengan KASIH

us3

kembali ke fitrah

Monday, April 3rd, 2006

GILA…hari ini pasien gue 11!!!kacau banget, pasti efek long wiken deh, jadi pasien pada ketumpuk di hari ini semua, sampe kram otak gue…untungnya Tuhan masih memberkati pasien2 itu karena gue masih bisa berkonsentrasi penuh untuk tiap pasien walopun setiap habis satu pasien gue ngerasa kayak habis naik tangga 7 tingkat!!! cape banget…kalo mau sedikit religius, memang Tuhan selalu tau kebutuhan manusia, pagi ini gue bangun dengan perasaan hampa (cieee…) pokoknya gue ngerasa ga semangat, ga ada motivasi, ga ada dorongan bergerak, haruskah gue beraktivitas hari ini? itu yang ada di otak gue saat gue membuka mata pagi ini, gue tidur dengan tidak nyaman tentunya, karena si ratu sihir (as known as kakak gue), hehehe…dengan cueknya tidur di kamar gue gitu karena lemari barunya di kamar dia masih bau cat, terpaksa lah gue bersempit2an di tempat tidur gue yang mungil itu, gapapa deh, toh hari ini dia balik ke sing dan akan balik indo lagi jumat malem, gila, dia pikir jakarta-singapur kayak puri-TA kali, bolak-balik gitu…gue males banget bangun pagi ini, males ke kampus, males kuliah, males kerja, males ketemu pasien, rasa2nya gue juga kebayang bahwa gue masih 2 tahun lagi kuliah, dan gue males banget, entah kenapa tadi pagi gue merasa begitu males dan hilang motivasi; mungkin efek2 pembicaraan dengan edo sebelumnya masih mengganggu tidur gue, atau juga sms dari serambi mekah yang menimbulkan perasaan bersalah lagi dalam diri gue, belum lagi masalah hormon…yah begitulah, gue bangun pagi dengan tidak nyaman…tp untungnya walau dengan penuh perjuangan gue masih bisa menempatkan free psychic energy gue di tempat yg benar, sehingga adult ego state gue yg bisa bekerja, walo dengan susah payah dan tarik menarik dengan child ego state gue…tp dr kuliah pagi ini, gue juga sedikit ‘tertampar’ seperti biasa, karena hari ini membahas adult ego state, yg menggunakan reality testing ability dan salah satunya adalah mau melihat dan melakukan alternative solution; sepertinya beberapa hari ini gue lagi ditegur untuk keluar dari pola pikir gue yang terlalu rigid belakangan ini ato keluar dari egosentris gue; diawali dengan pembicaraan hampir tengah malam, dengan kata-kata ‘it’s all in ur head’ kiriman dari bogor; besoknya gue menemukan horoskop gue (padahal gue ga percaya dan ga pernah baca horoskop di yahoo) yang menganjurkan gue untuk keluar dari ‘box’ ditambah dengan lagi2 ‘tamparan’ dari manila (jelas oleh edo) bahwa gue terus denial, gue kaku, kenapa gue jadi malas, kenapa gue jadi cuek, dll, dll…dan hari ini kuliah menunjukkan seperti itu…sebenernya gue cape banget dengan semua ini, gue menyadari kalo gue menjadi semakin egosentris, autistik…mungkin seperti biasa gue memaksakan diri gue untuk terus berjalan bahkan berlari padahal seharusnya gue berhenti dan diam…

sebetulnya long wiken itu cukup melelahkan, baik psikis maupun fisik; lagi2 gagal ke gunung karena pada ga bisa (tp untungnya bulan depan udah pasti tanggalnya, ntar gue cerita belakangan)…setelah ketemuan lagi sama tim boyjone dan anak2 bio, seneng juga walo cuma sebentar, malamnya terlibat pembicaraan yang ternyata melelahkan (jauh sih, jakarta-bogor, hehehe) yg setelah gue pikir2 agak aneh juga ya, kenapa jadi topik itu yg dibahas di tengah malam gitu; walo gue udah dengan tegas2 menolak untuk merenung seperti yang disarankan temen gue itu, ternyata malam itu gue ga bisa tidur, akhirnya ditemani oleh dr Jack on LOST (keren banget ‘dokter’ yang satu ini) gue menikmati insomnia beberapa jam sampe ketiduran, ga sampe 3 jam tidur, harus bangun lagi karena harus bantu acara bedah buku, untung jalanan kosong, jadi gue ga telat, dan dapet sms yg pada awalnya bikin gue kesel, ga ada orang, jadi gue harus ke cilincing, setelah berpikir2, akhirnya gue dengan agak berat hati menerima permintaan itu dan membatalkan rencana fitnes :( dan setelah 4 bulan…akhirnya gue kembali ke ‘fitrah’ sebelum ini memang beberapa kali panggilan dari cilincing menggoda gue untuk kembali ke sana; bukannya gue ga mau kembali, gue pasti kembali, tp nanti, bulan mei, karena masih ada beberapa hal yang harus gue bereskan yang membuat gue belum bisa ke sana lagi, tp gue pasti kembali; seperti biasa ada perasaan bersalah terhadap pasien2 gue di sana, tp gue mengabaikan selama ini…dan sambutan yang hangat di sana membuat gue didera lagi oleh perasaan bersalah, cilincing masih seperti dulu, kembali entah kenapa, walau dengan amat lelah, gue cukup bisa berkonsentrasi, udah 4 bulan gue ga ketemu pasien lain selain pasien jiwa, sempet ragu, apa gue masih bisa, apalagi gue sendiri, yg lain adek2 gue, tp untunglah lagi2 Tuhan yang bantu, gue bisa cukup konsentrasi…tp yah…itu lah, pertahanan yang gue bangun selama 4 bulan ini nyaris runtuh, mungkin udah runtuh sebagian, tiba2 aja gue menyadari, I missed him, or maybe I miss him!di rumah kerang, tiba2 flashback itu datang, perjalanan pulang, tambah kuat, apalagi rute yang dilewati seakan gue napak tilas masa lalu, mengantar adek2 gue satu demi satu di pluit perjalanan pulang ke rumah di malam hari, dan betul, membuat pertahanan gue runtuh, dan kenapa dia begitu baik?kenapa dia begitu perhatian?malam ini ketika sms itu datang lagi, gue sebenernya belum tidur, tp gue ga sanggup membalasnya, kembali didera rasa bersalah, apa sih yang gue cari??? gue ga bisa kembali dan gue ga mau kembali, tp kenapa gue ga kuat menghadapi flashback2 itu…please, forgive me…

dan long wiken ditutup lagi2 dengan melayani Tuhan (sok religius ya), bantu baksos di gereja bojong, walopun paroki lama, tp karena dipanggil yah mau ga mau gue datang, untung lagi, gue bisa bekerja dengan cukup baik (menurut gue, hehehe), banyak juga pasiennya..mungkin minggu kemarin gue ditegur, untuk ga terus menerus larut dalam masalah gue sendiri, untuk kembali menengok ke sekeliling, untuk keluar dari kotak (ato tempurung?), untuk kembali ke fitrah…

barusan mata gue tertumbuk pada tulisan di iklan layar komputer ini, stay motivated! mungkin ga gitu nyambung, tp gue jadi teringat kata2 mistereko ‘don’t mistake coincidence as a fate’ hah! seakan2 begitu banyak ‘coincidence’ dan pernah berharap bahwa memang ini adalah ‘fate’ tp belum tau gimana selanjutnya…

kembali ke gunung, thanks GOD, akhirnya jalan ke gunung semakin jelas, setelah kemarin gue gagal urus ijin ke cibodas, hari ini wahyu, joni dan mario sukses menjalankan misi itu dan kita berangkat ke gede tanggal…22 APRIL!!! yess, on my bday, hehehe…jadi inget GIE, on his 27th bday, dia naik semeru, on my 28th bday gue akan naik gede,untuk pertama kalinya, insyaallah, tp gue masih punya banyak utang, jadi gue berharap masih bisa merayakan ulang tahun ke 29 dan moga2 saat itu gue ga sendiri, hehehe…

dan setelah semua yang terjadi hari ini, gue menemukan semangat gue lagi, motivasi itu ada lagi, belum maksimal memang, tp paling ga, semakin sore gue merasa semakin baik, maklumlah bipolar…kebetulan tadi ada ‘kunjungan’ dari yang punya lamotrigine, mungkin harus gue coba tuh,hihihi…eh iya, sebenernya ada yang pengen gue curhatin soal dokter dan obat2an, tp ga usah di sini deh, sensitif sih, mudah2an temen curhat gue soal dokter dan farmasinya belum bosen ama gue soale gue lagi pengen ngomel2 lagi tentang hal yang sama…

udah panjang nih kayaknya curhatnya, aduh kenapa vesica urinaria gue penuh di saat yang ga tepat sih, kan susah gue untuk diuresis sekarang…ntar disambung lagi deh, ga konsen nih…

selalu

dengan KASIH

us3