lanjutan…
Friday, April 28th, 2006
Lanjutan catatan perjalanan…
Pagi harinya saya terbangun oleh suara teriakan teman-teman yang sudah lebih dulu bangun, sayup-sayup saya mendengar mereka kegirangan karena matahari bersinar cerah. Untuk orang yang baru saja merasakan dingin bak neraka yang membeku semalaman, tentu saja sinar matahari merupakan anugerah yang luar biasa. Tapi, rasanya saya malas untuk keluar tenda, teriakan teman-teman tentang hangatnya mentari tidak begitu menggoda. Saya terduduk di tenda, rasanya mulut ini ingin menikmati sesuatu yang manis, maklumlah semalam hanya kemasukan sedikit mie instan. Dan mata saya tertuju pada sebungkus biskuit coklat, tanpa mempedulikan kondisi mulut di pagi hari, saya langsung menyantap biskuit tersebut, haahh…nikmatnya…Setelah puas makan biskuit barulah perlahan muncul dorongan untuk beranjak keluar tenda. Apalagi kemudian terdengar teriakan teman yang menyuruh saya keluar untuk melihat pemandangan. Ah, pemandangan gunung di pagi hari, tentu saja sangat menggoda untuk dilihat. Dan, benar saja, begitu saya keluar tenda dan menuju tempat teman-teman berkumpul, alam menyajikan sarapan pagi yang luar biasa. Seakan ada tangan raksasa yang menyibakkan tirai gelap semalam, pemandangan indah terhampar begitu saja di depan mata saya. Puncak Gede terlihat di sebelah kanan saya dengan tebing dan kawahnya yang indah, di sebelah kiri tampak puncak Pangrango yang seakan menggoda saya untuk mendatanginya. Kembali saya teringat lembahnya yang konon tak kalah indah, tempat abu sang idola tertabur, lembah mandalawangi. Dan di antara kedua puncak gunung itu, terhampar perbukitan indah dan kota Bogor tampak samar di kejauhan. Kesemuanya itu bertambah indah dengan selimut kabut tipis. Hanya Tangan yang Maha Agunglah yang mampu menciptakan lukisan seindah itu.
Pagi itu kami isi dengan kesibukan mengeringkan segala sesuatu yang basah oleh hujan tadi malam. Kami tidak memasak, karena selain persediaan air minum yang mulai menipis, waktu yang terbatas membuat kami lebih memfokuskan untuk membereskan barang-barang. Untuk sarapan, seperti kemarin siang, kami kembali menikmati nasi uduk dan bakwan goreng. Di sela-sela kesibukan, tentu saja kami tidak lupa untuk mengabadikan semua keindahan ini dengan kamera.
Waktu berjalan terus, kami memutuskan untuk segera beranjak dari tempat menginap itu. Puncak gede dan lembah suryakencana sudah menanti untuk kami kunjungi. Setelah semua persiapan beres dan masing-masing telah mengepak barang-barangnya, kami melanjutkan langkah menuju puncak. Perjalanan ke puncak walau tampak dekat, namun tidak bisa dibilang mudah, terutama untuk pemula. Perjalanan menanjak yang cukup curam membuat rasa lelah kembali datang, apalagi istirahat semalam ditengah udara yang dingin menggigit rupanya tidak cukup mengembalikan stamina. Namun, suguhan pemandangan indah di kanan kiri, membuat rasa lelah tidak begitu terasa, sebaliknya semangat untuk segera mencapai puncak, membantu menguatkan langkah kami. Jalan setapak menuju puncak diapit jurang di kanan-kirinya, namun alih-alih merasa seram, kami justru menikmati pemandangan yang semakin dan semakin indah. Di sebelah kiri, masih serupa dengan pemandangan tadi pagi, namun kawah gede semakin jelas terlihat dan tetap indah, dengan kepulan asap yang keluar dari beberapa tempat. Di sebelah kanan, terhampar pemandangan yang sangat luas, aneka warna dengan dominasi warna hijau, tampak juga danau situgunung yang kebiruan. Di belakang, puncak Pangrango tetap setia mengikuti langkah kami. Semakin mendekati puncak, pemandangan lembah suryakencana di kejauhan mulai tampak. Dari jauh saja lembah ini sudah tampak begitu indah, dominasi warna hijau dengan hamparan putih di beberapa tempat, padang Edelweiss. Melihat sebuah bukit di sebelah kanan kami, seorang teman mengatakan bahwa bukit itu adalah tempat tinggal rajawali sakti (Condor heroes), sesaat setelah ia mengatakan hal tersebut, tampaklah elang jawa melintas dengan gagahnya dan melayang-layang disekitar tebing puncak Gede, tampak gagah.
Akhirnya, kaki-kaki kami mencapai ketinggian 2910m di atas permukaan laut. Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama berada di titik tertinggi itu, karena waktu yang semakin pendek dan perjalanan kami yang masih panjang. Setelah mengambil foto, kami segera meneruskan langkah menuju lembah suryakencana.
Perjalanan ke lembah suryakencana bagi saya sangat menyenangkan, selain karena jalan yang menurun, rimbunan pepohonan membuat perjalanan itu semakin nyaman. Daun pohon yang rimbun membuat udara sejuk, batang-batang pohon di sepanjang perjalanan, membuat saya mudah dalam menuruni jalan itu karena selalu ada pohon yang siap dijadikan tempat berpegangan, oh..I love tree…
Ketika rimbunan pepohonan itu habis, terbukalah pemandangan yang kembali luar biasa indah, lembah hijau yang begitu luas, dengan hamparan bunga edelweiss di berbagai tempat, indah sekali! Melihat padang yang begitu luas, kaki ini seakan ingin berlarian, taman eden di bumi, begitu kata seorang sahabat. Dengan segera saya menggabungkan diri bersama teman-teman, melepas ransel dan membaringkan diri di rumput yang nyaman, sambil menatap langit biru yang dihiasi awan-awan putih, ahh..betul-betul serasa di taman eden.
Rasanya tak puas-puasnya menikmati keindahan lembah suryakencana, namun kami harus mulai memasak. Segala bahan makanan yang dibawa dari Jakarta yang masih banyak karena kalah bersaing dengan nasi uduk di hari sebelumnya, mulai kami masak. Sosis, ham, corned, telur, tuna, nasi goreng, wah serasa piknik keluarga yang menyenangkan.
Keindahan edelweiss menggoda saya untuk memetiknya, sebagai bunga abadi, ingin rasanya saya membawakan bunga itu untuk seseorang di Jakarta. Namun, hati ini rasanya tak tega merenggut keindahan bunga itu dan membawanya ke Jakarta, akhirnya, saya cukup puas dengan berfoto di antara bunga-bunga edelweiss.
Selain pemandangan yang menakjubkan, lembah suryakencana masih menyisakan kejutan lain. Teman-teman ternyata sudah menyiapkan lilin berbentuk angka 28 di atas sebuah batu, meniup lilin dan mengucapkan harapan ulang tahun di tempat yang begitu indah, ahh..pengalaman yang tak akan terlupakan, semoga harapan itu terkabul…
Ketika akhirnya kami mulai berjalan lagi menyusuri lembah suryakencana menuju jalur gunung putri, hujan mulai turun. Segera saja kami mengenakan jas hujan. Berjalan di bawah guyuran hujan, bersama teman-teman yang istimewa, tetap terasa menyenangkan.
Kami tiba di ujung lembah, dan mulai memasuki hutan gunung putri. Sampai bertemu lagi lembah nan indah, dalam hati saya berbisik, suatu hari nanti, saya pasti kembali dan menginap di lembah ini.
Jalur gunung putri kami pilih sebagai jalan pulang, dengan pertimbangan jarak yang lebih pendek. Walau medan cukup berat, tapi kami berharap dengan jarak yang lebih pendek, kami dapat segera tiba di bawah sebelum gelap datang. Seperti sudah diduga sebelumnya, perjalanan menurun melalui jalur gunung putri tidak bisa dibilang mudah, terutama bagi pemula. Tanah yang licin dan becek sering kali membuat saya terjatuh. Untunglah kemudian saya menemukan cara yang cukup jitu jika melalui turunan yang cukup sulit. Sebelum saya terjatuh, saya sudah menjatuhkan diri dan berjalan memanfaatkan otot-otot gluteus, saya menyebutnya sebagai jurus ngesot; tetap menyenangkan. Karena selain saya aman dari jatuh, saya juga bisa melemaskan kaki sesaat karena posisi duduk.
Hujan yang mengguyur di awal cukup menghambat. Untungnya tak lama kemudian hujan berhenti. Sayangnya, kondisi kelelahan yang dialami membuat langkah kami juga semakin lambat. Dan akhirnya kami tak kuasa menahan kejaran gelap yang datang mendahului kami. Dengan kondisi yang gelap, perjalanan menjadi jauh lebih lambat. Ditambah lagi kaki-kaki ini rasa-rasanya sudah tidak mau lagi diajak melangkah. Bukan hanya sekali dua kali sebagian besar dari kami, terutama saya, terjatuh. Jurus ngesot sudah tidak lagi berguna. Untunglah sahabat yang setia mendampingi langkah saya, sangat membantu. Walau ia sendiri mengalami cedera di kakinya dan terasa sakit, membuat ia seringkali terjatuh, namun ia tetap membantu langkah saya dengan setia. I love you, sweet bro…
Entah apa yang merasuki hati saya, tiba-tiba saja, sekitar 3km sebelum akhir perjalanan, emosi datang menyergap. Kelelahan terasa begitu kuat, kaki semakin menolak melangkah, sehingga membuat saya tersandung-sandung, ditambah melihat teman-teman yang juga mulai mencapai titik akhir kelelahan. Semua itu membuat saya merasa begitu marah, jengkel dan kesal kepada diri sendiri. Penyesalan pun mulai merambati hati saya, kenapa saya begitu egois? Hanya untuk mewujudkan impian, merayakan ulang tahun di gunung, saya membuat teman-teman saya mengalami kelelahan yang amat sangat. Kenapa pula saya merasa begitu lelah dan tidak bisa melangkah dengan benar sehingga saya menyusahkan sahabat saya yang juga sudah sangat lelah. Untunglah sahabat yang lain datang membantu, ia mnguatkan hati saya untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, kami sampai di sebuah sungai, segera saja saya mereguk air sungai itu. Begitu air dingin mengalir di esofagus, kesegaran perlahan tapi pasti merambati diri saya, tidak maksimal memang, tapi cukup menenangkan. Apalagi ketika kaki saya sesaat direndam di dinginnya air sungai, sesuai anjuran sang sahabat, seakan kekesalan dan penyesalan tadi mengalir keluar terbawa oleh air sungai itu.
Beristirahat sejenak di tepi sungai, tapi kami harus meneruskan langkah karena malam semakin larut dan perjalanan masih panjang. Jalan menanjak menuju hamparan kebun penduduk, untunglah bisa kami lewati. Perjalanan menyusuri pematang ladang, ditemani aroma daun bawang, sebetulnya bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan. Namun, karena kelelahan yang sangat, kami mengumpulkan sisa-sisa energi untuk tetap berkonsentrasi pada langkah kaki.
Akhirnya, tibalah kami di akhir pejalanan, setelah melapor ke pos penjagaan, kami berjalan menuju sebuah warung dan menikmati minuman sesuai selera, ada teh hangat, ada es teh, ada pula minuman ringan bersoda. Kami kembali ke Cibodas dengan menyewa angkot. Dan saya tertidur dalam perjalanan ke Cibodas.
Ketika akhirnya kami kembali menikmati sate kambing di rumah makan pak Haji Kadir pada pkl 2.00 pagi, saya menyadari bahwa berkat TUHAN begitu besar bagi kami. Rasa-rasanya tadi perjalanan kami tidak akan pernah berakhir, kelelahan akan membuat kami terjatuh dan tak mampu melangkah lagi. Namun ternyata, kami bisa kembali menikmati sate di rumah makan ini dalam keadaan baik walau lelah, mengantuk dan kaki terasa sakit. Tuhan sungguh-sungguh mendampingi perjalanan kami dan memberikan pengalaman sangat berharga, tentang arti kebersamaan, tentang arti persahabatan, tentang arti persaudaraan, tentang arti kasih sayang, antar manusia, antar alam dengan manusia; juga tentang arti perjuangan, harapan dan kehidupan. Terima Kasih TUHAN. Amin….