Archive for November, 2006

melanjutkan langkah…

Sunday, November 12th, 2006

akhirnya…untuk pertama kalinya dalam 4 bulan ini, 4 hari yang lalu,  gue bisa betul-betul merasa lega, beban yang mengganjal di hati selama ini terangkat dengan begitu ringannya…

itulah hidup..dan..gue lega, akhirnya gue bisa melanjutkan langkah..ada yang pergi ada yang kembali ada yang datang, tapi semua mengarah ke hal yang baik dan gue yakin semakin baik…

sisa-sisa kesalahan mudah-mudahan akan semakin membaik, penerimaan yang lapang, mudah2an bisa dilakukan oleh semua…

akhir yang baik, langkah yang baik, semua akan indah pada waktunya..dan entah kenapa..gue semakin yakin..semua akan indah pada waktunya…

selalu

dengan KASIH

us3

puisi- puisi sang idola

Sunday, November 12th, 2006

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba

Pada suatu hari yang biasa

Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelan-pelan

Di lembah kasih, lembah Mandalawangi

Kau dan aku tegak berdiri

Melihat hutan-hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu

Ketika kudekap kau

Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Lampu-lampu berkelipan di

Jakarta

yang sepi

Kota

kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

Tanpa kata, tanpa suara

Ketika malam yang basah menyelimuti

Jakarta

kita

Apakah kau masih akan berkata

Kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua

Kecuali dalam cinta

Hari pun menjadi malam

Kulihat semuanya menjadi muram

Wajah-wajah yang tak kita kenal berbicara

Dalam bahasa yang kita tidak mengerti

Seperti kabut pagi itu

Manisku, aku akan jalan terus

Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan

Bersama hidup yang begitu biru

Selasa, 1 April 1969

Selasa, 11 November 1969

Ada

orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah

Ada

orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada

serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang,

Ada

bayi-bayi yang mati lapar di

Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayangku.

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.

Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.

HIDUP

Terasa pendeknya hidup memandang sejarah.

Tapi terasa panjangnya karena derita.

Maut; tempat perhentian terakhir.

Nikmat datangnya dan selalu memberi salam.

5 Januari 1962

PESAN

Mata yang mengantuk ini,

Adalah mata untuk memandang

Wajahmu yang bening

Seperti riak air

Tangan yang kasar ini

Adalah tangan untuk membelai

Rambut halusmu

Dan hati yang marah ini,

Adalah hati untuk mencintai kau,

Gadis-gadis yang rendah hati

Bersandarlah pada tangan ini

Tangan-tangan yang kuat dan terkepal

Dan marilah tengadah ke langit hitam

Sambil menghitung bintang-bintang

Atau bicara tentang cita-cita rakyat yang agung

Tentang sekolah anak-anak Bu Siti

Atau cita-cita Pak Miun

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang bicara tentang kemerdekaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran-tiran

Aku mengenali mereka

Yang tanpa tentara

Mau berperang melawan diktator

Dan yang tanpa uang

Mau memberantas korupsi

Kawan-kawan,

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

MANDALAWANGI PANGRANGO

Senja itu ketika matahari turun ke dalam jurang-jurang mu

Aku datang kembali

Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Cintaimu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan berbicara padaku tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya

Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar

Terimalah dan hadapilah

Dan di antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara

Aku terima ini semua

Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup

19 Juli 1966

soe hok gie