Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat
Lampu-lampu berkelipan di
Jakarta
yang sepi
Kota
kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti
Jakarta
kita
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru
Selasa, 1 April 1969
Selasa, 11 November 1969
Ada
orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada
orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada
serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang,
Ada
bayi-bayi yang mati lapar di
Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.
HIDUP
Terasa pendeknya hidup memandang sejarah.
Tapi terasa panjangnya karena derita.
Maut; tempat perhentian terakhir.
Nikmat datangnya dan selalu memberi salam.
5 Januari 1962
PESAN
Mata yang mengantuk ini,
Adalah mata untuk memandang
Wajahmu yang bening
Seperti riak air
Tangan yang kasar ini
Adalah tangan untuk membelai
Rambut halusmu
Dan hati yang marah ini,
Adalah hati untuk mencintai kau,
Gadis-gadis yang rendah hati
Bersandarlah pada tangan ini
Tangan-tangan yang kuat dan terkepal
Dan marilah tengadah ke langit hitam
Sambil menghitung bintang-bintang
Atau bicara tentang cita-cita rakyat yang agung
Tentang sekolah anak-anak Bu Siti
Atau cita-cita Pak Miun
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang bicara tentang kemerdekaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran-tiran
Aku mengenali mereka
Yang tanpa tentara
Mau berperang melawan diktator
Dan yang tanpa uang
Mau memberantas korupsi
Kawan-kawan,
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
MANDALAWANGI PANGRANGO
Senja itu ketika matahari turun ke dalam jurang-jurang mu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintaimu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan berbicara padaku tentang kehampaan semua
Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah
Dan di antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
19 Juli 1966
soe hok gie