Kepedulian Dari yang Tidak Dipedulikan
…Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras…
…Tangan-tangan yang kuat dan terkepal
Dan marilah tengadah ke langit hitam
Sambil menghitung bintang-bintang
Atau bicara tentang cita-cita rakyat yang agung
Jumat, 2 Februari 2007
Hari ini menjengkelkan sekali, entah kenapa aku merasa lelah, kemarin memang habis jaga malam, tapi tidak ada pasien, aku menghabiskan malam dengan online…rasa-rasanya ingin sekali pulang, tapi belum waktunya, nanti jam 3 sore baru bisa pulang.
Ada kabar dari rumah, jalanan banjir, tidak mungkin pulang, ah…aku jengkel sekali, aku ingin sekali pulang, ingin istirahat…
Ada telpon dari sanggar, banyak warga yang kebanjiran mengungsi di sanggar, khawatir banyak yang sakit, apa aku bisa datang? Aku pasti mau datang, tapi sepertinya tidak mau hari ini, aku cape dan rasanya malas untuk bekerja, membantu orang sekalipun…
Aku bingung…aku harus ke mana? Menginap lagi di RSCM, mungkin bisa online lagi malam ini, tapi rasa-rasanya sudah jenuh dengan kamar jaga itu…tawaran dari Yunita untuk menginap di rumahnya, mungkin bisa…
Akhirnya aku dan karimun hitam yang semakin setia, keluar dari RSCM, tumben, jalan diponegoro lancar, belok kanan memasuki salemba, masih lancar, belok kiri ke pramuka, lancar juga, terus tanpa hambatan sampai perempatan pemuda, belok kiri lagi memasuki bypass ke arah tanjung priok, masuk tol di pintu tol pulomas, semua lancar, kosong sekali jalanan hari ini, katanya banjir di mana-mana???
Terus lancar sampai lewat pluit, terpikir ke pluit, tapi pasti banjir…terus ke arah grogol…banyak mobil dari arah berlawanan, kenapa? YA AMPUN…antrian panjang kendaraan terlihat padat sekali, berjalan perlahan, lambat sekali, aku melihat ke bawah jembatan layang tol itu, ternyata grogol banjir cukup dalam, hampir sepinggang orang dewasa, di jalur tol juga ada genangan yang cukup dalam, penyebab kemacetan, selepas genangan lancar sekali, tapi untuk bisa ke taman anggrek, aku harus keluar di slipi dan berputar arah, dan ternyata slipi padat sekali, juga saat putar arah ke tomang, padat sekali…tapi, akhirnya, sampai juga aku di taman anggrek…menghabiskan malam dengan hedonisme, seperti biasa di hari jumat, tapi kali ini di sebuah kafe di TA, ingin ke chiyyo sebetulnya, tapi tidak mungkin…
Malamnya menikmati keindahan Jakarta dari PL, dari jauh tampak antrian kendaraan di jalur tol masih juga padat, malam
Jakarta
tampak indah…padahal, ada kedinginan dan kegetiran di banyak tempat akibat luapan air…
Sempat bermain CM sebelum tidur, entah kenapa, selalu dan selalu, seperti ada yang memenuhi dan berkecamuk di pikiran, belum juga hilang…tapi malam itu, aku senang, seorang teman yang begitu kurindukan, membalas dan membalas sms, hal yang jarang sekali dia lakukan, apalagi mendengar kemajuan yang dia raih, mulai bekerja..miss u, bro
Sebetulnya Shirley pulang tadi malam, tapi tidak mungkin bertemu dengan kondisi seperti ini, akhirnya hanya via telpon…
Malam itu, aku berencana…besok HARUS ke AKAR…
Dan..hujan turun lagi…
Sabtu, 3 Februari 2007
Pagi hari aku terbangun…jam 8, aku lihat di ponselku, yunita sudah bangun, dan sepertinya sedang visit pasien via telpon, hebat…sudah seperti konsulen dia…hehehe…
Setelah mandi, aku dan yunita turun untuk makan, resto jepang, terakhir kali aku makan di resto ini yang di plangi, bersama seorang sahabat, yang sepertinya cukup sering mengganggu pikiranku belakangan ini…
Sehabis makan, kami belanja, biskuit, air kemasan, susu, tidak bisa terlalu banyak karena keterbatasan ekonomi J setelah itu aku berpisah dengan yunita, menjemput eva ke pluit, ambil beberapa obat di klinik gereja, lalu menuju akar…
Tol pluit tanjung priuk lagi2 lancar, tapi di km 17 antrian padat sekali dan kendaraan berjalan lambat, sms ke radio yang rajin sekali mengupdate berita banjir dan lalulintas, akhirnya menjadi rutin sms ke sana sepanjang perjalanan ke Akar…
Di daerah kelapa gading, banyak mobil dan warga di pinggir jalan, banyak yang tampak akan mengungsi, kelapa gading memang daerah terparah…
Selepas itu lancar, masih terus mengirim sms ke radio itu…keluar kebon nanas, tidak bisa lewat, banjir cukup tinggi, padahal sudah dekat sekali, terpaksa berputar, keluar taman mini, lewat RS polri, melewati genangan cukup tinggi, sampai akhirnya bisa menembus kemacetan jalan dan tiba dengan selamat di akar walau hari mulai gelap…
Di akar tidak begitu ramai, kawan-kawan tampak sibuk memasak, rupanya mereka menyiapkan nasi bungkus. Ada beberapa pengungsi di lantai 3, memeriksa beberapa orang kemudian memeriksa persediaan obat, banyak yang kurang…
Ada 2 lokasi yang kabarnya membutuhkan obat, penas dan halim, aku mau lihat lokasi itu, kawan-kawan memberitahukan, harus nerobos banjir, masalah atau tidak untukku? Ah, tidak pernah masalah, sampah, lumpur, banjir…samar2 aku ingat 5 tahun yang lalu pun aku menikmati banjir mengunjungi warga yang membutuhkan obat…
Kawan-kawan akan membagikan lilin untuk warga penas yang masih bertahan di rumah…dan perjalanan pun di mulai…
Kaki-kaki kami melangkah menyusuri jalan menuju lokasi banjir, yang ternyata adalah daerah yang tadi kami hindari dengan mobil, perlahan air yang kami tembus semakin meninggi, sampai di atas pinggangku, melewati pohon yang setengah tumbang, menyusuri gang kecil dan…di ujung gang, seperti sebuah sungai…ternyata daerah itu adalah rumah-rumah di pinggir kali, antara jalan setapak dan kali yang berarus cukup deras itu hanya di batasi pagar kayu yang tidak begitu jelas, namun ada tambang di sepanjang jalan, entah bagaimana caranya melewati semua itu…tapi kawan-kawan Akar memang luar biasa, kekagumanku semakin bertambah, hampir sepanjang jalan mereka menjaga aku, eva dan linda dengan mengambil posisi di belakang kami, seakan membatasi kami dengan kali, di sisi jalan ini pun terasa arus cukup deras…kami terus berjalan, aku dengan susah payah mempertahankan keseimbangan dengan berpegangan pada tambang, air sudah setinggi leher…kami tiba di rangkaian rumah-rumah kayu berlantai 2, membagikan lilin sambil menanyakan apa ada yang membutuhkan obat, kami janjikan besok untuk membawakan obat…kami terus berjalan, melewati jembatan yang hanya kelihatan pegangannya saja, menembus arus kali yang deras, sampai di sebrang kami membagikan lilin lagi ke rumah-rumah di sana, semakin sulit buatku karena arus lebih deras, tapi lagi-lagi, dengan bantuan kawan-kawan, aku bisa melewatinya…di satu rumah sempat cemas dengan seorang ibu yang sudah cukup tua yang tinggal sendiri, kami mencoba membujuk untuk mengungsi ke sanggar, tapi si ibu tidak mau, terpaksa kami tinggal dengan hati cemas…
Perjalanan pulang bukan mudah, bahkan lebih sulit karena harus melawan arus, kawan-kawan tetap menjaga kami dengan baik, sehingga aku lebih tenang, hebat sekali mereka, sudah hafal betul jalan yang kami lalui, bahkan mereka tahu persis di tempat-tempat tertentu ada gerobak yang terbenam, ada selokan atau ada undakan…
Semakin mendekat ke gang, semakin deras arus yang dilalui, lagi-lagi kawan-kawan selalu berdiri di antara kami dan kali, sesekali mereka membantu kami berpegangan, sampai akhirnya kami kembali ke jalan besar kebon nanas…
Banyak yang memenuhi pikiranku sambil melangkah dengan basah sekujur tubuh di jalan aspal yang kering, luar biasa kawan-kawanku ini, kawan-kawan yang seringkali mengalami ketidakpedulian masyarakat, kawan-kawan yang mungkin menjadi bagian dari ‘kelompok’ yang sering tersisih dan disisihkan, tapi mereka pun seakan tidak peduli dengan semua itu, mereka terus dan terus berkarya, musik, teater, pendidikan alternatif, bahkan membantu sahabat-sahabat kecil yang terkena gempa di klaten sampai menolong korban banjir, tanpa memikirkan imbalan, balasan apalagi penghargaan…bahkan seakan tanpa memikirkan keselamatan dan kesehatan diri sendiri…ketika di luar kami bertemu dengan beberapa orang yang mau memberikan nasi bungkus tapi tidak tahu caranya mencapai rumah warga, kawan-kawan yang baru saja keluar dari air, kembali lagi mengantar mereka sambil membawa gerobak nasi bungkus, hebat sekali…
Betapa aku semakin merasa kecil, betapa aku semakin merasa malu…dan terus muncul pertanyaan untuk diri sendiri, apa yang sudah kamu lakukan untuk orang lain???
Minggu, 4 Februari 2007
Hari ini anniversary orang tuaku, tapi aku belum bisa pulang, sudah bisa mungkin, karena banjir di jalan kabarnya sudah surut, tapi hari ini aku memilih ke Akar, teringat warga di penas dan penampungan halim yang kemarin aku jenguk sehabis dari penas…pulang dari Akar, aku dan eva sempat mampir ke gereja, mengambil beberapa obat lagi…aku bingung sekali, bagaimana harus melengkapi obat-obat yang sangat minim, banyak sekali yang mengganggu pikiran tapi aku tidak bisa berpikir, akhirnya aku dan eva tertidur jam 2 pagi…di kos eva…
Esoknya kami baru bangun jam 7 walaupun alarm sudah berbunyi sejak jam6.30, lelah dan mengantuk, aku segera mandi, ada pesan singkat dari yunita, untunglah dia bisa ikut ke Akar karena eva hari ini tidak bisa. Aku dan eva pergi ke pasar Gloria, glodok untuk membeli obat di apotik dewi, untunglah kami mendapat diskon dan sumbangan vitamin serta obat batuk untuk anak, terima kasih ya…
Di Gloria, tergoda sekali untuk makan yang enak-enak, hehehehe…
Pulang belanja, kembali ke gereja, mengambil 5 dus air kemasan, menunggu yudy yang juga mau ikut, mengantar eva ke kos, menjemput yunita di depan hotel di slipi…langsung berjalan ke Akar…sempat bingung jalan mana yang bisa dilewati, akhirnya dengan panduan pak de dan dijemput kribo, sampai juga aku, yunita, yudy di Akar, jauh terlambat dari waktu yang dijanjikan…
Kami segera membagi diri, aku dan yunita ke penampungan halim, yudy ikut kawan-kawan Akar membagikan makan siang di penas, sambil membawa paket-paket obat yang sudah kami siapkan, sempat mencemaskan yudy karena kabarnya air naik jauh lebih tinggi dari kemarin…bahkan melampaui tinggi badan omat yang cukup tinggi…
Tapi sudahlah, yudy pasti bisa, kawan-kawan pasti menjaga…
Aku dan yunita mulai berjalan ke penampungan halim, dengan kursi kayu dan meja panjang kami mulai memeriksa pasien satu demi satu…batuk pilek, gatal-gatal, panas dingin, pegal-pegal dan sakit kepala yang mendominasi, beberapa mulai diare, terutama anak-anak; ternyata cukup banyak orang dewasa dan tua yang darah tinggi…semakin dan semakin lelah, namun pasien tak juga berhenti, lapar sekali rasanya…dan seperti biasa, belum bersentuhan dengan kafein, membuat mood yang cenderung disforik menjadi iritabel, ini salah satu kelemahanku di kala lelah, mulai mengeluh dan mengomel walau hanya dalam pikiran…
Untung kemudian datang bantuan, JC-yehezkiel, teman kuliah dulu, sudah lama sekali tidak ketemu JC, dia lagi libur PTT dan rupanya rumahnya dekat sini, dia dan teman-teman datang membantu, juga membawa obat, cukup lega…aku dan yunita memutuskan beristirahat sebentar untuk makan siang…ditemani opung, kami makan di sebuah warung…opung bercerita bagaimana ia dan kawan-kawan memasang tambang ketika banjir mulai datang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa melakukan hal itu, memasang tambang di tengah arus banjir yang cukup deras, bahkan dengan tambang pun aku kesulitan berjalan di sana, apalagi harus memasang tambang tanpa pegangan, dengan ketinggian air yang lebih tinggi dari yang aku lewati kemarin. Cuma satu kalimat yang disampaikan opung kepada kawan-kawan; ‘yang mau ikut berani mati’. Itu saja kalimat itu bukan ancaman atau mengada-ada, karena arus memang deras dan kedalaman air melebihi ukuran tinggi rata-rata kawan-kawan termasuk opung. Tapi mereka bisa melakukan itu…obrolan kemudian berpindah ke gunung, rinjani masih menjadi tawaran opung, tentu saja aku mau, tapi mengatur waktu yang sulit. Terpikir untuk mengajak teman-teman ke gede atau pangrango, karena kemarin waktu melawan arus banjir, andre sempat bilang, ini lebih berat dari naik gunung. Mendengar itu langsung aku tawarkan rencana naik gunung yang disambut semangat oleh kawan-kawan. Usai membereskan pengobatan di penampungan, kami kembali ke sanggar, terima kasih JC dan teman2 untuk bantuan tenaga dan obat-obatan…
Yunita dan opung pergi ke penas, opung akan mengecek tali dan keadaan di sana, yunita mau melihat seperti apa kondisi penas. Jam 5 aku, yudy dan kawan-kawan pergi sambil membawa makan malam, lilin dan obat untuk warga penas. Mendorong gerobak berisi 5 boks makanan ramai-ramai menyusuri jalan menuju penas. Di tepi jalan sebelum wilayah banjir, tampak tronton berisi pria-pria tegap berseragam (aku tidak begitu mengerti itu seragam apa, hanya ada tulisan paskhas or something seperti itu di badan tronton), lengkap dengan perahu karet, entah apa yang mereka lakukan karena kemudian mereka pergi…aneh, aku pikir, mereka tidak tampak basah, berarti mereka tidak turun, apa mereka hanya ditugaskan memantau keadaan? Apa mereka tidak tau kalau masih ada puluhan warga yang bertahan di rumah di pinggir kali tanpa makanan dan obat selain yang diberikan kawan-kawan akar? Apa mereka tidak melihat kawan-kawan mendorong gerobak berisi tumpukan boks? Apa mereka tidak terpikir untuk bertanya di mana yang membutuhkan bantuan? Apa mereka tidak berpikir untuk membantu? Entahlah, tapi mereka pergi begitu saja, dengan tronton, perahu karet dan badan tegapnya…dan kami kembali menembus banjir…
Perjalanan kali ini sepertinya akan lebih sulit karena membawa beban boks berisi nasi dan air minum, lucu juga, boks bisa dihanyutkan sehingga tidak perlu berat menggotong. Tim membagi 2, sebagian melewati gang yang kemarin aku lalui, sebagian melewati sebuah gedung yang belum selesai di bangun, menurut kribo, pilihannya adalah, melalui gang-melawan arus kali yang deras atau melalui gedung-tertusuk paku; hehehe, pilihan yang sulit…
Aku memilih melewati gedung karena kemarin sudah melewati gang, di gedung itu bertemu dengan 2 orang ibu dan anaknya yang juga sedang mengungsi, sayang aku tidak membawa cukup obat yang diminta ibu itu…aku bisa melalui gedung dengan selamat, paling tidak tanpa tertusuk paku. Kembali bergabung dengan kawan-kawan; sempat merasakan nikmat dan tegangnya naik rakit, karena ternyata ada rakit yang dibawa kawan-kawan untuk mengangkut 2 boks. Tapi hanya sebentar, kemudian aku turun, ternyata lebih nyaman tanpa rakit, karena di atas rakit terlalu bergoyang, lebih khawatir jatuh dari rakit.
Sampai di jembatan kami berhenti, tidak semua ke sebrang jembatan, sebagian menunggu kawan-kawan yang membagikan nasi ke beberapa rumah di seberang jembatan, sebagian lagi menunggu di jembatan. Rupanya di atas jembatan sudah dipasang bekas meja pingpong, sehingga bisa dijadikan tempat duduk. Lucu juga, aku duduk di atasnya dan menikmati makanan ringan bersama linda. Menikmati derasnya arus kali, pikiranku menerawang…sampai dikagetkan oleh ambon yang mengingatkan, jangan bengong di kali, hahahha….
Setelah semua nasi dibagikan, kami kembali, menentang arus pinggir kali. Kami berjalan sambil tertawa dan bercanda, menyenangkan sekali bekerja dengan kawan-kawan ini, seakan semua dijalani dengan santai, bukan beban, bahkan beratnya arus kali, bolak-balik sekian kali setiap hari, bagi mereka adalah suatu hal yang menyenangkan, dijalani dengan tawa dan canda; mau tidak mau membuat mood ku terangkat, menyenangkan bekerja dengan mereka…
Kembali ke sanggar, aku mandi dan membereskan obat. Menikmati segelas kopi hangat, kemudian terasa mengantuk, aku harus mengantar yunita dan yudy. Maka kami pamit pulang…
Dan akhirnya…aku pulang ke rumah…