Archive for March, 2008

Lintang, Mutiara di Tengah Lautan Timah

Thursday, March 13th, 2008

Semua pembaca buku Laskar Pelangi pasti mengenal sosok Lintang, seorang murid jenius yang gagal meneruskan sekolahnya ‘hanya’ karena keterbatasan ekonomi…

Lintang mencuri hati para pembaca Laskar Pelangi tidak hanya karena kejeniusannya melainkan juga karena semangatnya yang luar biasa. Puluhan kilometer ditempuhnya dengan sepeda, berbagai rintangan sampai seekor buaya besar pun tidak bisa menghalanginya untuk masuk sekolah, seharipun Lintang tidak pernah membolos sekolah; begitulah yang ditulis Ikal dalam Laskar Pelangi. Namun pada akhirnya Lintang harus menyerah, menyerah pada rintangan terakhir, rintangan terberat yang sebetulnya telah membayanginya sejak ia mempunyai niat untuk bersekolah; yaitu kemiskinan.

Lintang tentu saja tidak sendirian. Sebagai seorang anak yang dirampas hak pendidikannya, ia ditemani oleh jutaan anak lain, tidak hanya di Belitong, Jakarta, tapi juga seluruh Indonesia dan mungkin juga seluruh dunia.

Jenius, pejuang dan miskin; suatu ironi yang diceritakan dengan begitu gamblang oleh sang sahabat, rekan sebangku Lintang. Pada saat duduk di samping Ikal, Lintang mungkin tidak pernah berpikir kalau Ikal akan menceritakan kepada dunia tentang dirinya dan persahabatan mereka. Saat berhenti bersekolah, Lintang mungkin tidak pernah berpikir kalau nasibnya itu akan menjadi cambuk pelecut semangat sang sahabat untuk terus belajar. Saat menyetir truk di Belitong, Lintang mungkin tidak pernah berpikir, bahwa suatu hari kelak jutaan orang akan terhenyak membaca kisahnya, pejuang jenius yang terkalahkan.

Tapi sebetulnya Lintang tidak pernah kalah. Dengan caranya sendiri, Lintang telah menang melawan penjajah kemiskinan. Lintang memenangkan pertandingan melawan hambatan bersekolah dengan memberikan motivasi bagi begitu banyak orang. Lintang tanpa disadari oleh dirinya sendiri telah menggugah jutaan orang untuk terus berjuang. Bukti yang paling nyata terwujud dalam diri teman sebangkunya selama 9 tahun di sekolah Muhammadiyah, Ikal.

Sosok Lintang merupakan ironi yang begitu pahit. Tidak hanya dalam kehidupannya sendiri namun juga di kehidupan pada umumnya. Betapa banyak anak yang mendapat fasilitas sekolah, di tempat yang dianggap sekolah terbaik, sekolah favorit, sekolah teladan atau bahkan sekolah internasional, menyia-nyiakan kesempatan itu dengan bersantai, bermalas-malasan dan bersikap tidak peduli. Ironi itu menjadi semakin pahit ketika datang dari anak-anak yang senasib dengan Lintang, dibatasi oleh kondisi ekonomi untuk bisa sekolah. Sayangnya, ada juga anak-anak dengan keterbatasan tersebut, ketika mendapat fasilitas untuk bersekolah atau menjalani pendidikan lain; menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan alasan bosan, malas, jenuh, tidak bisa mengikuti pelajaran, tidak tertarik dengan pelajaran atau pendidikan yang diberikan, pelajaran yang susah; ternyata tidak sedikit anak-anak pinggiran yang mendapat fasilitas untuk belajar akhirnya juga menyia-nyiakan kesempatan itu. Sungguh suatu ironi dibandingkan dengan setiap kayuhan sepeda Lintang dan setiap perhitungan langkah Lintang saat menghadapi buaya; demi mencapai sekolahnya.

Pribadi Lintang menjadi semakin dikagumi dengan kesederhanaannya. Lintang tidak ingin diekspos media. Lintang mungkin tidak sadar bahwa ada banyak orang yang telah jatuh cinta dan begitu merindukan dirinya. Lintang tetap Lintang, seorang jenius yang penuh semangat namun sederhana. Sebuah mutiara yang kilaunya dipaksa tenggelam di dalam lautan timah namun dia tetap mutiara.

Guru Sejati dan Cinta Seorang Murid

Thursday, March 13th, 2008

Laskar Pelangi telah menggugah sekian banyak orang dengan cara yang luar biasa; melalui rangkaian kata yang unik, Andrea Hirata sang Penulis, membuat pembacanya terbawa tidak hanya kepada ‘keindahan’ alam Belitong, namun juga hanyut dalam pribadi masing-masing tokoh yang diceritakan dalam buku tersebut.

Gde Prama mengatakan bahwa kekuatan buku tersebut adalah cinta seorang murid yang mendasari munculnya tulisan tersebut.

Cinta seorang murid pada guru merupakan sesuatu yang unik mengingat sebagian besar dari kita sering kali ‘melupakan’ guru-guru kita. Jika mau jujur, siapa yang masih ingat persis satu demi satu nama-nama guru kita sejak pertama kali kita menginjakkan kaki di sebuah institusi yang namanya sekolah? Rasa-rasanya sebagian besar dari kita sudah tidak ingat pada guru-guru kita. Maka cinta Andrea terhadap ibu guru Muslimah merupakan sebuah bentuk cinta yang langka selain unik. Nilai cinta tersebut semakin bertambah besar karena diungkapkan dengan cara yang luar biasa. Sebuah ungkapan cinta yang menggugah ribuan orang, yang memotivasi ribuan orang, yang menyentil ribuan orang; tidak hanya untuk sukses tapi sekaligus juga untuk mengerti, memaknai, menikmati indahnya sebuah cinta yang tulus.

Melihat cinta yang begitu besar, membuat kita menjadi bertanya, siapakah sosok guru yang sangat dicintai Ikal si murid nakal? Ibu guru Muslimah, adalah sosok yang mewarnai kisah setiap tokoh Laskar Pelangi. Sosok ibu guru ini mencuri hati pembaca sejak awal, saat Ikal menceritakan bagaimana ibu guru yang sabar ini sedang cemas menantikan murid-murid baru yang mendaftar di sekolahnya. Kisah selanjutnya yang menceritakan bagaimana dedikasi beliau dalam mengajar, dengan pendidikan yang terbatas namun beliau tidak pernah berhenti untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak miskin di Belitong. Tanpa balasan yang sesuai dengan pengabdiannya, beliau tidak pernah berhenti mengajar. Satu bukti bahwa beliau mengajar dengan penuh cinta. Semakin tegas kita melihat cinta Ibunda Guru ini tidak hanya pada profesinya namun juga pada anak-anaknya. Bagaimana dalam setiap perjuangan anak-anaknya, Ibunda Guru selalu mendampingi mereka tidak hanya secara fisik namun juga dengan doa. Ibunda Guru ini juga selalu memberikan kesempatan pada setiap muridnya untuk berkembang dengan kelebihan dan keterbatasan mereka. Sosok Ibunda Guru semakin menjadi luar biasa, ketika dia sendiri muncul di depan publik. Saat diwawancarai oleh Andy Noya di acaranya, ibu guru Muslimah menunjukkan sikap sederhana ‘Saya sangat bangga tapi saya tidak sangka kalau dia sampai menuliskan harkat saya sedemikian begitu, jadi saat ini saya agak grogi, masalahnya ibu tidak terpikirkan akan terangkat seperti ini, karena selama ini ibu hanyalah seorang guru desa biasa, ibu tidak mempunyai kelebihan, sekolahnya juga tidak tinggi, tidak pintar, yang pintar adalah muridnya…’

Di kala begitu banyak orang menyebut diri seorang pendidik dan pembela hak-hak anak termasuk hak pendidikan, ibu guru Muslimah berkarya dalam diam, Ibunda Guru memberikan kepada murid-muridnya tidak hanya ilmu, waktu, tenaga namun juga cinta yang begitu besar. Di kala begitu banyak orang yang mengaku dirinya pejuang hak-hak anak, di kala begitu banyak orang yang mendiskusikan, membicarakan, dan melakukan pelatihan tentang hak anak; ibunda guru telah memberikan pemenuhan semua hak tersebut pada anak-anak didiknya. Di kala begitu banyak orang yang mengaku diri pejuang pendidikan anak, berlomba-lomba mengejar begitu banyak penghargaan, melalui tulisan, melalui kata, melalui berbagai pelatihan dan ‘karya’, ibunda guru dengan rendah hati menyatakan dirinya hanya seorang guru desa biasa, yang tidak mempunyai kelebihan dan bukan dia yang pintar namun yang pintar adalah muridnya. Bagi seorang guru sejati, penghargaan yang sebenarnya adalah keberhasilan anak-anak didiknya…