Guru Sejati dan Cinta Seorang Murid
Laskar Pelangi telah menggugah sekian banyak orang dengan cara yang luar biasa; melalui rangkaian kata yang unik, Andrea Hirata sang Penulis, membuat pembacanya terbawa tidak hanya kepada ‘keindahan’ alam Belitong, namun juga hanyut dalam pribadi masing-masing tokoh yang diceritakan dalam buku tersebut.
Gde Prama mengatakan bahwa kekuatan buku tersebut adalah cinta seorang murid yang mendasari munculnya tulisan tersebut.
Cinta seorang murid pada guru merupakan sesuatu yang unik mengingat sebagian besar dari kita sering kali ‘melupakan’ guru-guru kita. Jika mau jujur, siapa yang masih ingat persis satu demi satu nama-nama guru kita sejak pertama kali kita menginjakkan kaki di sebuah institusi yang namanya sekolah? Rasa-rasanya sebagian besar dari kita sudah tidak ingat pada guru-guru kita. Maka cinta Andrea terhadap ibu guru Muslimah merupakan sebuah bentuk cinta yang langka selain unik. Nilai cinta tersebut semakin bertambah besar karena diungkapkan dengan cara yang luar biasa. Sebuah ungkapan cinta yang menggugah ribuan orang, yang memotivasi ribuan orang, yang menyentil ribuan orang; tidak hanya untuk sukses tapi sekaligus juga untuk mengerti, memaknai, menikmati indahnya sebuah cinta yang tulus.
Melihat cinta yang begitu besar, membuat kita menjadi bertanya, siapakah sosok guru yang sangat dicintai Ikal si murid nakal? Ibu guru Muslimah, adalah sosok yang mewarnai kisah setiap tokoh Laskar Pelangi. Sosok ibu guru ini mencuri hati pembaca sejak awal, saat Ikal menceritakan bagaimana ibu guru yang sabar ini sedang cemas menantikan murid-murid baru yang mendaftar di sekolahnya. Kisah selanjutnya yang menceritakan bagaimana dedikasi beliau dalam mengajar, dengan pendidikan yang terbatas namun beliau tidak pernah berhenti untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak miskin di Belitong. Tanpa balasan yang sesuai dengan pengabdiannya, beliau tidak pernah berhenti mengajar. Satu bukti bahwa beliau mengajar dengan penuh cinta. Semakin tegas kita melihat cinta Ibunda Guru ini tidak hanya pada profesinya namun juga pada anak-anaknya. Bagaimana dalam setiap perjuangan anak-anaknya, Ibunda Guru selalu mendampingi mereka tidak hanya secara fisik namun juga dengan doa. Ibunda Guru ini juga selalu memberikan kesempatan pada setiap muridnya untuk berkembang dengan kelebihan dan keterbatasan mereka. Sosok Ibunda Guru semakin menjadi luar biasa, ketika dia sendiri muncul di depan publik. Saat diwawancarai oleh Andy Noya di acaranya, ibu guru Muslimah menunjukkan sikap sederhana ‘Saya sangat bangga tapi saya tidak sangka kalau dia sampai menuliskan harkat saya sedemikian begitu, jadi saat ini saya agak grogi, masalahnya ibu tidak terpikirkan akan terangkat seperti ini, karena selama ini ibu hanyalah seorang guru desa biasa, ibu tidak mempunyai kelebihan, sekolahnya juga tidak tinggi, tidak pintar, yang pintar adalah muridnya…’
Di kala begitu banyak orang menyebut diri seorang pendidik dan pembela hak-hak anak termasuk hak pendidikan, ibu guru Muslimah berkarya dalam diam, Ibunda Guru memberikan kepada murid-muridnya tidak hanya ilmu, waktu, tenaga namun juga cinta yang begitu besar. Di kala begitu banyak orang yang mengaku dirinya pejuang hak-hak anak, di kala begitu banyak orang yang mendiskusikan, membicarakan, dan melakukan pelatihan tentang hak anak; ibunda guru telah memberikan pemenuhan semua hak tersebut pada anak-anak didiknya. Di kala begitu banyak orang yang mengaku diri pejuang pendidikan anak, berlomba-lomba mengejar begitu banyak penghargaan, melalui tulisan, melalui kata, melalui berbagai pelatihan dan ‘karya’, ibunda guru dengan rendah hati menyatakan dirinya hanya seorang guru desa biasa, yang tidak mempunyai kelebihan dan bukan dia yang pintar namun yang pintar adalah muridnya. Bagi seorang guru sejati, penghargaan yang sebenarnya adalah keberhasilan anak-anak didiknya…