menjelang 30
Monday, April 21st, 2008sebuah renungan ulang tahun
hari-hari belakangan ini, gue pusing dengan segala kepenantan pendidikan; penelitian, penelitian, penelitian dan penelitian…hari-hari menjelang tiga puluh pun tak terasa seperti tahun-tahun sebelumnya; tidak ada ekstasi menjelang berkurangnya usia, tidak ada euforia menghadapi suatu hari yang menyenangkan…semua energi terkuras ke satu hal, penelitian, penelitian dan penelitian….
malam, ini, mau tidak mau, terpikir juga…sendiri, teringat lagi, 2 tahun yang lalu; ketika di waktu ini, tepat di waktu ini, kaki ini melangkah lambat, menapaki jalan berbatu yang menanjak untuk pertama kalinya; masih teringat jelas, ketika 13 pasang kaki itu mendadak berhenti sebentar untuk mengucapkan salam…28 datang…dan esok harinya, surya kencana, meniupkan lilin 28…
satu tahun yang lalu…walau diawali dengan kegetiran…mendampingi teman2 kecil yang luar biasa, pertama kalinya, memasuki 29, bersama anak-anak akar…tulus, senang, terselip sedikit kebanggaan…seminggu kemudian, perayaan yang sesungguhnya, mencapai puncak impian…tidak sendiri, ada yang senantiasa menemani, sampai kini…Mandalawangi…bersama sang idola dan sang cinta….
tahun ini…menjelang 30…rindu…di tengah kepenatan pendidikan, rasanya nyaris tak mungkin menikmati puncak-puncak impian…Gede-Pangrango, Surya Kencana-Mandalawangi….
tapi menjelang 30 paling tidak gue udah tau apa yang gue inginkan…sebelumnya niat untuk mendalami dunia kejiwaan manusia, sudah nyaris rampung, idealisme mengabdi almamater akan segera dimulai, tapi maaf, tujuh tahun atau 8 tahun; cuma itu, untuk kemudian mencapai cita-cita sesungguhnya; sebelumnya gue pikir cita-cita gue adalah menjalani profesi ini; bertemu ‘pasien’ dan ‘mahasiswa’…tapi ternyata tidak; edensor membuka mata gue; edensor mendidihkan hati gue; edensor membuat gue merinding; nyaris bisa merasakan kobaran di dalam hati gue; edensor membuat gue menyadari apa sesungguhnya cita-cita gue; bukan sekedar menapaki gede dan pangrango, tidak sekedar menikmati surya kencana dan mandalawangi; tapi lebih dari itu; gue ingin menjelajah setiap sudut bumi; tidak hanya bertemu ‘pasien’ dan ‘mahasiswa’ ditengah kungkungan tembok rumah sakit dan universitas; tapi gue ingin bertemu setiap manusia di berbagai belahan dunia, tanpa dibatasi oleh tembok apapun…
gue tidak hanya ingin backpacking ke pangandaran, garut, ujung genteng; tapi gue ingin melangkah terus, terus dan terus, dengan ransel di punggung dan lonely planet di tangan, menjumpai tidak hanya sekedar textbook; tapi jiwa manusia di berbagai dunia; memotret dan merekam tidak hanya kehidupan pasien, tapi kehidupan dan lingkungan manusia di berbagai dunia; dunia tembok rumah sakit dan unversitas tidak lagi menarik buat gue; tantangan dunia yang sebenarnya yang ingin gue hadapi…seperti telah berulang kali gue ucapkan, pasti, suatu hari nanti, saat ini DELAPAN TAHUN lagi; setelah menyelesaikan pengabdian pada almamater, setelah membayar hutang2 gue pada almamater…gue siap memulai dengan satu langkah, dengan backpack dipunggung; untuk berteman dengan manusia dan alam di berbagai belahan bumi ini…
salam dan cinta
us3
Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah (Soe Hok Gie)