udah lama ga nulis
Kemarin gue seneng banget, ketemu orang-orang luar biasa, inspiratif…sejak baca bukunya…Laskar Pelangi-Sang Pemimpi-Edensor…gue selalu memimpikan untuk ketemu sang pemimpi itu. Akhirnya kemarin gue bisa ketemu Andrea Hirata ditambah bonus ketemu 2 orang hebat lainnya, Andy Noya dan Dwi-pilot motivator…sederhana mungkin, sebuah diskusi, tapi muatan dalam diskusi tersebut penuh dengan hal-hal yang menggetarkan hati, jiwa dan sukma; entah untuk orang lain, tapi buat gue, pengalaman kemarin luar biasa…minimal memotivasi gue untuk menulis lagi walau sekedar menulis blog…
Kemunculan bang Andy langsung disambut tepuk tangan meriah; stimulus sensorik itu masuk ke dalam otak gue dan memunculkan gambaran seorang yang bersahaja, ‘hanya’ dengan celana training, kaos bertuliskan nama talkshownya yang luar biasa itu dan topi; dihiasi senyumnya yang khas – tampak lebih putih dibanding saat di tv.
Kata-kata indah meluncur dari mulutnya, kisah demi kisah, pengalaman demi pengalaman dirangkai dengan manis diselingi humor-humor segar, khas Andy Noya. Semuanya menyentuh, semuanya membuat terpana; sambil sesekali terbayang lagi beberapa episode kickandy. Tentang orang tua, tentang guru, tentang cita-cita.
Selanjutnya sambil ditemani coffee and lemon, hadir sosok berikut, wajah yang jauh dari tampan dengan lambaian tangan yang memiliki jari-jari tidak sempurna; Dwi-sang pilot yang ditunjuk Tuhan menjadi pilot motivator. Keharuan lambat laun mengalir masuk ke hati, kisah seorang pemuda gagah, calon pilot, yang mimpinya hangus terbakar bersama hampir 50% bagian tubuhnya. Kisah sedih yang berakhir mengharukan yang diceritakan dari mulut sang pelaku sendiri, menciptakan perasaan yang sulit dirangkai menjadi kata-kata; terlalu sedih sekaligus terlalu indah, begitu pahit sekaligus begitu manis. Cinta, menerima apa adanya; yang dalam dunia nyata sehari-hari seakan semakin menjadi slogan kosong; ditunjukkan dengan jelas dan nyata melalui rangkaian kisah mas Dwi.
Dan puncaknya, sang idola (atau milyuner?) baru. Awalnya gue melihat sosok sang demonstran dalam diri sang pemimpi; entah kenapa setiap kali mengingat sang demonstran, ada rasa rindu yang luar biasa, saat melihat sang pemimpi, rindu itu terasa sedikit berkurang, ada sebagian sosok itu, kecil memang, tapi ada, sosok pemimpi adalah juga bagian dari sang demonstran; entah apakah sosok demonstran adalah bagian dari sang pemimpi, sampai saat ini gue belum melihatnya.
Yang jelas, ketika sang pemimpi muncul dengan senyum khasnya yang dihiasi lesung pipi, rasanya saat itu juga semua mimpi gue muncul dan berlomba-lomba menjadi nyata. Sang pemimpi, setidaknya akhirnya gue mempunyai seorang idola yang masih sama-sama berada di dunia nyata, yang masih bisa gue genggam tangannya untuk berjabatan, yang masih bisa gue dengan suaranya secara langsung, yang masih bisa terlibat dalam kontak mata. Lagi cerita yang mungkin sama, kata-kata yang tidak berbeda dari apa yang selama ini gue baca melalui tulisan tangannya, gue dengar melalui media elektronik; tapi selalu dan selalu kisah itu memotivasi, menggetarkan dan tidak pernah sedikit pun membosankan. Cinta murid nakal kepada seorang guru. Cinta guru sederhana yang tulus. Perjuangan bocah dari kampung nun jauh di sana.
Dan saat itu juga gue belajar banyak hal sekaligus. Yang terutama adalah kekuatan cinta dan mimpi. Satu kisah lagi yang membuat hati gue tergetar, terungkap juga saat diskusi kemarin. Kisah yang juga sangat gue kenal, kisah yang juga sudah gue dengar beberapa kali. Tapi kisah yang tidak akan bisa gue lupakan dan tidak akan bosan gue dengar. Kisah sang penghuni hati, kisah sederhana yang menyedihkan. Yang membuat gue sangat terkejut adalah keberanian sang pemilik kisah sekaligus pemilik hati gue itu, mengungkapkannya di muka umum. Saat itu juga gue teringat kisah lain yang baru diceritakan. Kisah mas Dwi tentang kekuatan cinta sang istri yang mau menerima dan mencintai dengan tulus seorang calon pilot yang gagal yang sosoknya ‘dipahat’ oleh lidah-lidah api. Istri Mas Dwi tidak pernah merasa malu. Jujur, gue malu karena sering merasa ‘malu’. Hanya sahabat-sahabat dalam ring 1 gue yang gue ceritakan secara gamblang siapa sang pangeran yang memenuhi hati gue dalam 1.5 tahun ini. Bahkan dengan keluarga pun gue ragu untuk menceritakan sedetil-detilnya. Karena gue khawatir akan tanggapan orang, gue takut orang mempunyai anggapan buruk atau bahkan melecehkan. Padahal, hal yang membuat gue ‘malu’ sesungguhnya adalah hal yang sekaligus juga membuat gue sangat bangga akan kekasih hati gue. Perjuangan dia from zero to hero, not a magnificent hero yet…but someday he’ll be
Belum seminggu sejak gue mengirimkan sms di tengah malam kepada para ring satu gue, tentang kebingungan menjadi manusia aneh, pilihan hidup, pilihan aktivitas, pilihan idealisme dan bahkan pilihan pasangan hidup; yang bukan seperti apa yang dipilih orang pada umumnya akhirnya membawa gue pada kondisi emosi yang sangat tidak stabil, kejenuhan yang sangat menyesakkan, kepedihan yang sangat menyedihkan. Tapi semua menjawab dengan benang merah, itulah gue. Semalam, ketika berada di dekat orang-orang yang mempunyai mimpi yang luar biasa, gue tersadar, mimpi gue belum sedahsyat mereka, karya gue belum seindah mereka, perbuatan gue belum sebanyak mereka; tapi keputusasaan gue jauh melebihi keputusasaan yang pernah mereka bertiga alami digabungkan sekaligus…gue tidak boleh berhenti, sekecil apapun yang sudah dan akan bisa gue lakukan, gue tidak pernah boleh berhenti, sesulit apapun hambatan yang pasti akan gue hadapi, gue tidak pernah boleh mundur, sejauh apapun perbedaan gue dengan orang-orang pada umumnya, gue tidak pernah boleh menyerah; karena gue punya banyak mimpi dan mimpi-mimpi itu akan gue wujudkan bersama para pemimpi lainnya.
Yang gue tau mimpi-mimpi gue tulus, pilihan-pilihan gue ambil secara sadar, bukan pilihan yang ideal menurut orang-orang pada umumnya memang, tapi gue tau pasti, bukan pilihan yang buruk hanya berbeda karena gue memang tidak seperti orang-orang pada umumnya.
BERMIMPILAH MAKA TUHAN AKAN MEMELUK MIMPI-MIMPIMU - arai