Archive for September, 2008

Antara Novel dan Film – sedikit pengalaman menonton Laskar Pelangi

Tuesday, September 30th, 2008

Selain dinanti-nantikan, sebuah film yang diangkat dari novel laris biasanya juga dibayangi oleh kekhawatiran tidak bisa memuaskan imajinasi pembaca novelnya. Tapi seperti juga yang dikatakan beberapa orang bahwa konsep menonton film harus berbeda dari konsep membaca buku; walaupun film itu diangkat dari sebuah buku. Film adalah bentuk imajinasi si pembuat filmnya. Sebagaimanapun seorang pembuat film melibatkan penulis bukunya, berkonsultasi dengan penulis bukunya; tetap saja pembuat film mempunyai imajinasi dan kreativitas bahkan misi tersendiri. Meminjam istilah orang-orang yang mengerti seni, bahasa tulisan dan bahasa gambar tentulah berbeda.

Itu juga pasti yang dialami film Laskar Pelangi…

Beberapa hari sebelum film Laskar Pelangi diputar perdana di bioskop, seorang temen gue, Igon, SMS, kebetulan kita sama-sama pecinta novelnya. Di SMSnya dia tulis begini; gue pengen nonton Laskar Pelangi, tapi gue takut kecewa. Mungkin karena gue udah ‘teracuni’ episode Kickandy yang menayangkan behind the scenenya, langsung aja gue promosiin, gue bilang, tenang aja, filmnya pasti bagus banget, Andrea Hiratanya aja memuji filmnya. Apalagi setelah gue nonton film Laskar Pelangi tepat tanggal 25 September, langsung aja gue sms ke orang-orang; bagus banget, harus nonton!!! Ternyata beberapa hari kemudian gue dapet sms lagi dari Igon, yang isinya menggambarkan kekecewaannya tentang film itu yang menurut dia ada ketidaksesuaian dengan buku dan beberapa akting yang kurang bagus. Agak ga terima sebetulnya gue dengan pendapat dia, makanya gue langsung nulis aja di sini, hehehehe…

Sebagai seorang awam di bidang seni, baik seni tulis apalagi film; tentu aja pendapat gue ini layak diperdebatkan atau bahkan ditolak habis-habisan, tapi dari pada gue terus menerus ga bisa tidur karena mikirin sms protesnya Igon tentang film Laskar Pelangi, mending gue nulis aja…

Ada beberapa hal memang yang gue anggap menjadi ‘kekurangan’ dari film tersebut; mau ga mau memang gue masih tetep belum bisa melepaskan diri dari bayangan bukunya; beberapa hal yaitu:

1. Sebagai pengagum sosok Lintang, gue agak fanatik; tidak boleh ada kekurangan sedikit pun dalam kecerdasan bujang pesisir berkulit ‘angus’ itu. Beberapa kali (dua atau tiga kali kalo ga salah) Lintang gagal menjawab pertanyaan (TIDAK termasuk saat jawabannya betul tapi dianggap salah) atau terlambat memencet bel; saat latihan cerdas cermat di kelas maupun saat lomba yang sebenarnya. Walaupun gue menangkap maksudnya adalah membuat Lintang menjadi lebih membumi, tapi sebagai pengagum kecerdasan Lintang, gue agak kurang terima. Tapi biar bagaimana pun, adegan cerdas cermat luar biasa.

2. Sosok penting yang menjadi sumber inspirasi Andrea Hirata, ibunda guru tersayang, ibu Muslimah. Menurut gue (sebagai seorang awam di dunia akting) akting Cut Mini patut diberi pujian, dia bisa memunculkan karakter seorang guru idealis yang punya semangat untuk memberikan cinta dan pendidikan bagi anak-anaknya; tidak terlihat karakter Cut Mini ataupun putri Melayu yang biasa diperankannya dengan logatnya itu. Tapi apakah itu karakter sang ibunda guru yang sebenarnya, menurut gue masih kurang. Ibu Muslimah di situ digambarkan sedikit ‘kurang mulia’. Entah karena akting Cut Mini atau memang Riri Riza membumikan juga sosok ibu Muslimah yang digambarkan Andrea Hirata di bukunya dengan begitu mulia. Sosok guru idealis, ya, sosok guru pejuang, ya, sosok guru yang penuh cinta, ya; tapi sosok tersebut terlalu diwarnai emosi seorang ‘perempuan biasa’, bukan perempuan tangguh yang tampak dalam sosok ibu Muslimah versi Andrea Hirata. Kekuatan ibu Muslimah dalam film muncul justru dari sosok pak Harfan, pak Zul dan kesepuluh orang anaknya; bukan dari diri sang ibunda guru sendiri.

3. Kenakalan dan keriaan Laskar Pelangi memang tampak dalam adegan-adegan saat mereka bermain luncur-luncuran dengan menggunakan daun dan dahan pohon di bukit, juga saat mereka berlarian di antara bebatuan di pantai; tapi sayang, pembaca yang menonton filmnya agak kehilangan sosok Syahdan dan Trapani. Harun, Kucai, Sahara dan Akiong, walau tidak terlalu tersembunyi, masih tampak berperan, tapi Syahdan dan Trapani seakan tenggelam. Memang agak sulit memunculkan satu demi satu karakter 10 anak itu dan pasti akan panjang sekali jika digambarkan semua dengan detil di film. Tapi mungkin hubungan erat Trapani dengan ibunya, akan menjadi bumbu yang menarik, apalagi kalau novel Sang Pemimpi akan difilmkan; adegan pertemuan Ikal dengan Trapani dan ibunya di rumah sakit Jiwa pasti akan menjadi adegan yang ditunggu-tunggu; untuk itu perlu gambaran awal tentang hubungan Trapani dan ibunya di film Laskar Pelangi.

4. Adegan tarian saat karnaval, merupakan adegan menarik dan bagus. Tapi jika lagi-lagi kita coba membandingkan dengan bukunya; mungkin sebetulnya masih bisa dibuat lebih ‘heboh’.

5. Sosok tambahan yang ada di film, yaitu Pak Mahmud. Gue merasa Tora kurang greget dalam memainkan tokoh yang memang seperti agak mengambang ini, semi-antagonis mungkin ya. Tapi melihat Tora memainkan pak Mahmud, tampak akting Tora seperti saat main extravaganza, tak begitu terasa greget akting Tora seperti dalam Arisan!

6. Yang terakhir ayah Ikal. Mungkin karena dandanannya, ayah Ikal memang digambarkan klimis dan selalu tampil dengan baju terbaiknya yaitu kemeja safari berkantong empat yang disetrika halus oleh sang istri; di saat-saat mengantar Ikal ke momen-momen penting di sekolah. Tapi entah kenapa, dari penampilan Matias Muchus yang tampak justru ayah Ikal ini seperti seorang guru atau pegawai negri; bukan kuli PN yang sederhana.

Mungkin hal-hal itu yang gue anggap sebagai kelemahan. Kenapa gue banyak pakai kata mungkin karena gue tetap merasa gue bukan orang yang ahli di bidang seni, bahkan cenderung buta; gue hanya orang yang senang nonton, senang baca dan senang memberi komentar, hehehe.

Tapi lepas dari kekurangan-kekurangan itu, secara keseluruhan gue melihat apa yang disebut detil-detil yang sangat diperhatikan Riri Riza. Sebagai film, memang Laskar Pelangi terlihat detil-detilnya. Secara keseluruhan gue pun menangkap ada pesan sosial yang ingin disampaikan. Film ini menurut gue begitu humanis dan bisa membuat perasaan penontonnya campur aduk.

Di saat awal film pun, saat melihat sosok Ikal dewasa dari belakang di dalam bis, menurut gue sebagai orang awam itu pengambilan gambar yang menarik. Tapi begitu kalimat demi kalimat meluncur dari mulut Lukman Sardi (pemeran Ikal dewasa – kebetulan gue juga mengagumi Lukman Sardi karena perannya sebagai Herman Lantang di Gie), entah kenapa rasa haru itu mulai muncul. Keharuan yang luar biasa muncul juga saat Lintang (tokoh yang paling gue kagumi dari 10 anggota Laskar Pelangi) muncul. Tak perlu menunggu kalimat keluar dari mulutnya, melihat sosok kurusnya mengayuh sepeda gue yakin semua orang sudah tau, itu Lintang. Pada adegan-adegan awal ini pun bukan bermaksud drama queen, tapi memang rasanya agak sulit membendung produksi kelenjar lakrimasi.

Gue tidak hafal persis urut-urutan adegannya, makanya gue ga sabar pengen nonton lagi; tapi dari awal sampai akhir ada begitu banyak adegan menarik; beberapa hal yang gue anggap sangat luar biasa dari film ini selain pembukaannya adalah:

  1. Adegan saat Laskar Pelangi bermain-main, di bukit atau di antara bebatuan di pantai yang luar biasa indah. Mereka seperti betul-betul sedang bermain, lepas betul, seperti betul-betul diri mereka memang sedang bermain saat itu, tidak terlihat sama sekali beban mereka sedang bermain film. Dan adegan berdiri di atas batu menatap pelangi, indah.
  2. Kekuatan film juga ada pada anak-anak Belitung. Mengingat mereka bukan dari kalangan artis dan belum pernah berakting di depan kamera, menjadi luar biasa bagaimana mereka begitu pas memerankan dan memunculkan karakter masing-masing. Peran paling luar biasa menurut gue ada di Mahar, bocah tengil yang sok tahu tapi jenius dalam bidang seni itu betul-betul pas dimainkan Veris. Cara dia memanggil teman-temannya dengan sebutan ‘boy’, saat dia menyuruh Ikal mendengarkan musik jazz, cara dia nangkring di atas pohon mencari inspirasi atau mendengarkan radio transistor bututnya, si tengil Mahar yang selalu mengalungkan radio transistor ke mana-mana, pas betul.

Satu tokoh yang perlu gue sisipkan di sini adalah Harun. Dia memang bukan tokoh sentral di film ini. Tapi sosok manis Harun menjadi penting karena dia justru adalah penyelamat yang membuat teman-temannya bisa sekolah. Harun yang tokohnya diperankan seorang anak yang aslinya memang bersekolah di SLB merupakan bumbu pemanis yang memang manis. Bagaimana Harun menjawab pertanyaan tentang peta buta yang sebetulnya paling mudah dan kemudian dipuji oleh bu Mus dan teman-temannya, bagaimana Harun ditertawakan oleh guru-guru SD PN, bagaimana Harun berdiri menatap bingung sekaligus tampak lucu melihat tingkah Ikal yang sedang jatuh cinta. Harun bisa menjadi tokoh yang nyata dan mewarnai hidup Laskar Pelangi.

Ikal kecil yang manis, nakal tapi selalu ingin tau akan sekeliling, Zulfanny, tidak sebaik Mahar aktingnya, tapi sosok Ikal pun keluar dari Zulfanny, seakan Zulfanny adalah Ikal, Ikal adalah Zulfanny. Paling gue penasaran adalah mampukah dia mengekspresikan kekaguman pada kuku-kuku, itu adalah akting yang paling sulit menurut gue, bagaimana seorang anak kecil, jatuh cinta pada kuku-kuku cantik dan harus diekspresikan dari wajah, bukan kata-kata. Dan adegan itu tidak mengecewakan. Ekspresi wajah Zulfanny memang terbantu dari efek-efek kamera yang dibuat, dengan sinar-sinar dan sekuntum bunga yang jatuh. Tapi Zulfanny mampu mengeluarkan ekspresinya.

Lintang tetap Lintang, Ferdian mampu membuat gue makin jatuh cinta pada Lintang. Lagi-lagi, tidak sebagus akting Mahar, tapi Ferdian mampu menghadirkan sosok Lintang yang jenius, kalem, dewasa tapi sangat sederhana. Yang patut diacungi jempol dan paling gue kagumi adalah saat Lintang beradu akting dengan aktor kawakan Alex Komang, bukan hanya adu dialog, bahkan beradu dialog diam, karena sosok pria cemara angin ini sepertinya serupa dengan anaknya Lintang, tak banyak cakap tapi banyak berbuat. Sedikit merinding melihat adu akting antara Alex Komang dan Ferdian. Lintang yang selama ini menjadi sosok paling misterius, karena bahkan ibu Muslimahpun tidak begitu ingat pada bujang cerdas itu, sekaligus juga karena dendam sahabat sebangku yang putus sekolah itu yang menjadi salah satu faktor yang menyemangati Andrea sampai mampu menikmati pendidikan di altar suci ilmu pengetahuan. Ferdian mampu menghadirkan sosok misterius itu dan sekarang gue tidak bisa melepaskan bayangan wajah Lintang (yang adalah wajahnya Ferdian) yang mengayuh sepeda kemudian terhenti karena harus menunggu buaya besar yang sedang menyebrang jalan yang akan dilintasinya, tak bisa melepaskan bayangan bujang berkulit hitam yang sedang menutup mata kemudian dengan keras menyerukan jawaban dengan benar saat cerdas cermat.

Satu lagi adegan menarik, saat Lintang dan Ikal bertentangan pendapat, Ikal yang bingung kenapa Lintang masih harus datang tiap hari ke sekolah padahal bu Mus tidak lagi masuk sepeninggal pak Harfan. Dengan menarik tangan Ikal keluar kelas Lintang menjelaskan, kurang lebih begini, “dengar ini Ikal, bapaku seorang nelayan dari pesisir, aku anak laki-laki pertama dengan empat orang adik, seharusnya aku langsung ikut bapaku ke laut, jadi nelayan, tapi bapak suruh aku sekolah, aku harus sekolah, sekolah Muhammadiyah inilah yang mau terima aku untuk sekolah.” Kemudian mereka menjemput teman-temannya untuk sekolah.

Selalu terngiang kata-kata Lintang pada sahabatnya, Mahar,

“LASKAR PELANGI KAU HARUS SEKOLAH!“

Delapan puluh kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. – seharipun Lintang tak pernah bolos.

Suatu hari rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek…tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu “Padamu Negri” di depan kelas. (Laskar Pelangi – bab 10)

  1. Kekuatan film ini juga datang dari sekian banyak aktor kawakan yang terlibat. Walau mendapat peran sedikit, tampak jelas mereka serius dalam berakting, total aktingnya dikeluarkan. Sedikit kekurangan memang menurut gue datang dari Tora Sudiro. Adegan terbaik adalah antara pak Harfan dan pak Zul, saat berdialog tentang perlunya mempertahankan sekolah Muhammadiyah gudang kopra itu. Tapi selain itu gue juga tersihir dengan cerita-cerita pak Harfan di depan anak-anaknya.
  2. Sarat pendidikan dan pembelajaran, sarat nilai-nilai sosial dan humanis; itu menjadi kekuatan yang sangat mewarnai keseluruhan film. Satu kalimat dari pak Harfan yang tidak bisa gue lupakan, ‘hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya dan bukan menerima sebanyak-banyaknya’
  3. Adegan menjelang penutup yang jelas sangat amat mengharukan, lebih dari adegan-adegan yang lain, saat Lintang harus pergi dari sekolah. Sejak narasi suara dari Ikal dewasa yang menceritakan ‘sejak hari bersejarah itu (SD Muhammadiyah jadi juara cerdas cermat) Lintang tak pernah muncul di sekolah, kemudian adegan tanpa dialog antara seorang bapak yang menyerahkan surat Lintang pada bu Mus, saat membaca surat Lintang, sampai masih tanpa dialog saat Lintang menatap dan ditatap Laskar Pelangi dan bu Mus, Lintang mengayuh sepedanya dan tidak lagi menengok ke belakang, walau kemudian Ikal berlari dan berlari mengejar Lintang sambil meneriakkan namanya, Lintang tidak juga menoleh dan terus mengayuh sepedanya. Saat adegan itu yang diiringi suara Lukman Sardi, saat itu muncul dendam di hati, kenapa ada anak yang tidak bisa mendapat pendidikan, semua anak harus mendapat pendidikan!

Aku merasa amat pedih karena seorang anak supergenius, penduduk asli sebuah pulau terkaya di Indonesia harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya.’ (Laskar Pelangi - bab 30)

Persembahan Kecil untuk Negriku

Saturday, September 6th, 2008

Karena sudah mengorbankan hampir seluruh hari pertama kongres, hari ke dua ini gue mau ikut semua sampe selesai, apalagi nanti malam ada dinner, hehehe. Walaupun sempat diwarnai insiden cari-carian karena salah seorang teman gue masih tinggal di hotel berbeda, akhirnya kita bisa ikut kongres dengan tenang. Hari ini hari presentasi poster. Jam 10.10 – 10.40 setiap peserta wajib berdiri di samping poster masing-masing untuk siap memberikan keterangan jika ada yang ingin bertanya, terutama dewan juri. Sedikit ngobrol-ngobrol dengan peserta dari Thailand yang posisi posternya di sebelah gue. Bahasa Inggrisnya, sama berantakannya sama gue, hehehehe… Waktu dewan juri datang dan menanyakan beberapa hal, gue jadi deg-degan. Setelah mereka selesai dengan poster gue, langsung gue merasa lemes, sedih. Gue merasa jawaban-jawaban gue tidak memuaskan mereka. Merasa bodoh, tapi ya sudah lah, namanya juga pengalaman pertama, jadi pelajaran aja. Lain kali gue jadi udah tau rasanya ikut presentasi poster dan gue bisa lebih siap. Tambahan juga, gue harus melatih bahasa Inggris gue, terutama percakapan resmi.

Selesai sesi presentasi poster, masih ada waktu sedikit sebelum masuk ke simposium berikut. Seperti biasa salah satu hiburan saat kongres adalah berkunjung ke booth-booth perusahaan farmasi, suka ada gimic-gimic lucu, hehehe…

Simposium demi simposium, ada yang menarik, ada yang membosankan. Saking membosankannya, jujur, akhirnya gue ngobrol. Curhat mengenai masa-masa akhir pendidikan spesialis yang gue rasa berat banget. Diawali dengan cerita temen gue tentang kekecewaan beberapa dosen dengan penampilan gue saat ujian akhir. Entah bermaksud proyeksi atau bukan, tapi gue memang merasa sudah kehabisan energy waktu ujian akhir. Energi gue fisik dan mental udah habis untuk ngerjain penelitian, dengan 210 sampel dan wawancara psikiatri terstruktur yang gue lakukan sendirian, belum lagi tambahan beberapa kuesioner titipan, dan berbagai faktor X. Empat bulan keluar masuk daerah cipinang besar selatan, satu bulan olah data, bikin laporan, ujian pemaparan sampai ujian tesis. Dua minggu kemudian ujian lokal, dua minggu kemudian ujian nasional. Energi gue udah sisa-sisa cadangan. Hasil buat gue memang mengecewakan, lulus tapi seakan seadanya. Nilai di atas kerta memang buat beberapa orang tidak bermakna, hanya sekedar nilai. Tapi buat gue saat itu sangat mengecewakan, karena gue menganggap itu adalah hasil usaha gue selama 4 tahun dan tidak seperti apa yang gue harapkan. Memang untuk diberikan ke orang tua gue yakin tidak mengecewakan (ga bermaksud narsis) tapi untuk target pribadi gue, mau tidak mau gue kecewa. Biar gimana salah satu cara gue bisa mengukur diri gue sendiri salah satunya mau ga mau dari nilai. Tapi ya sudah lah, sekarang sudah terobati dan ada banyak hal yang gue dapat selama pendidikan yang nilainya jauh lebih tinggi daripada nilai yang gue raih di atas kertas.

Dan itulah hidup, saat waktu istirahat, sambil masih membicarakan sedikit keluh kesah gue saat mengerjakan penelitian, gue dan teman gue berjalan ke toilet melewati poster-poster yang dipajang. Otomatis mata gue tertuju pada poster gue sendiri. Kok ada tempelannya, pita kuning dengan angka 3. Lho, kenapa poster gue ditempel? ‘wah lu menang, tri!’ gitu kata temen gue. Masih ga percaya saat itu, karena dua poster di sebelah gue juga ditempel pita dengan angka yang sama. Beberapa poster lain juga, memang ada juga yang ditempel pita merah dengan angka 1 dan dua, tapi masing-masing hanya satu. Sementara ada 5 poster yang ditempel pita warna kuning dengan angka 3. ‘Mungkin dilombain lagi’ kata temen gue. Ya sudah, gue tidak terlalu mempedulikan.

Ketika mau mulai simposium berikut, seorang psikiater dari Surabaya bertanya ke gue, ‘Astri, kamu udah tau belum, aku dititipin pesen sama Prof. Pichet (ketua panitia kongres), kamu menang juara ketiga, dapat hadiah uang (sensor,hehehe) baht, selamat ya.’

Seneng banget rasanya dan betul aja, saat selesai simposium gue dan teman-teman melihat lagi ke poster gue. Sudah ada tempelan lagi, pengumuman pemenang dan hadiahnya. Seneng banget. Mungkin kecil, tapi buat gue berarti banget, norak memang kayaknya, tapi gapapa lah. Ironi hidup, poster yang gue presentasikan berisi hasil penelitian gue yang buat gue mengecewakan. Gue menjalani penelitian dengan menghabiskan seluruh energi gue, tapi hasil dari penelitian itu tidak seperti yang diinginkan banyak pihak, termasuk beberapa pembimbing dan penguji. Bahkan gue sempat mendengar beberapa komentar tidak enak tentang penelitian gue. Tapi ternyata, itulah yang membuat nama gue ada di antara nama-nama peserta negara lain. Walaupun di urutan terakhir dari 5 pemenang ketiga, yang mungkin berarti gue urutan ke delapan. Tapi itu untuk pertama kalinya gue mewakili Indonesia. Dari 8 orang penerima award, memang Indonesia cuma di urutan terakhir, cuma satu (ada 4 wakil dari Indonesia). Tapi buat gue, itu kebanggaan tersendiri. Memang tidak seperti cita-cita gue masa kecil, pengen jadi juara olimpiade. Memang tidak ada kibaran bendera merah putih dan kumandang lagu Indonesia Raya, memang tidak sehebat olimpiade fisika, matematika, kimia, apalagi Barcelona, Atlanta, Sydney, Athena, Beijing. Memang hanya ASEAN, memang hanya di kalangan mental health, tapi minimal akhirnya ada yang bisa gue berikan untuk Indonesia, walaupun cuma kecil, sangat kecil.

Dan akhirnya, gue bisa beli buku…saat dinner gue menyempatkan diri untuk kabur sebentar ke Kinokuniya, gue tidak mau berlama-lama memang, karena bisa-bisa gue menghabiskan semua uang hadiah itu. Gue terus menerus mengingatkan diri gue bahwa gue masih harus hidup 3 hari lagi di Bangkok dan uang hadiah ini bisa gue pakai untuk itu karena gue tidak mau menghabiskan uang bokap gue lebih banyak lagi. Gue juga mau beli oleh-oleh dengan uang ini. Gue membeli 2 buku yang paling gue inginkan dan bisa dipakai di sanggar. Gue beli juga buku untuk Galang.

Ada yang agak kurang menyenangkan sebelumnya. Demi membeli buku-buku ini, gue harus menelan ‘ledekan’ dari teman. Beberapa teman gue malam itu ingin pergi menonton pertunjukkan ‘Thai Girl’, mungkin sebagian besar sudah tau pertunjukkan apa itu, yang belum tau mungkin sudah bisa menduga. Kabarnya pertunjukkan itu menarik dan unik, menunjukkan keahlian tertentu dari alat kelamin perempuan. Dengan harga 800 baht, gue menolak dengan tegas karena mau membeli buku. Tapi gue harus mendengar dikatakan aneh, dan diberi wejangan bahwa itu khas di Thailand, kapan lagi bisa nonton itu, nanti gue nyesel, lagian kan gue udah menang hadiah uang, dsb…dsb… lucunya ada salah seorang teman gue, dan dia cowo, yang juga ga mau ikut nonton, dengan alasan yang sama, uangnya udah menipis. Tapi dia ga dibilang aneh dan ga diberi wejangan yang sama.

Malamnya, di hotel, ketika teman-teman gue pulang, mereka berkomentar, ‘lu bisa nyesel sih kalo ikut, tapi gue ga nyesel kok. Kasihan juga ngelihat mereka, di awal pertunjukan 2 orang koitus (hubungan badan) di panggung, muka 2 orang itu kayak menderita banget, gue kasihan ngelihatnya, udah gitu ada cewe-cewe yang vaginanya bisa dimasukin macem-macem, tali yang panjang banget, bola, terus bisa ngerokok, malah bisa niup kayak sumpit untuk pecahin balon di atas dan bisa pas kena balonnya. Orangnya kebanyakan udah tua-tua, ada juga yang muda-muda, tapi emang kasihan sih ngelihatnya.’

Jadi ada yang berminat nonton? Ati-ati dirazia ya…

Dari Wat Arun ke Kinokuniya

Saturday, September 6th, 2008

Hari ke dua di Bangkok masih diwarnai suasana jalan-jalan. Gue dan teman-teman sepakat untuk menerima tawaran sebuah tur yang relatif ‘murah’, 1000 baht untuk mengunjungi 3 tempat wisata lengkap dengan transportasi dan tur guide. Jadilah kita memutuskan untuk menunda mendaftar kongres.

Perjalanan diawali dengan bis, sambil mendengar cerita tentang Thailand secara sekilas dari si pemandu wisata yang orang Thailand asli tapi fasih berbahasa Indonesia. Satu hal yang gue tangkap dari ceritanya adalah bahwa rakyat Thailand sangat mencintai rajanya. Hal itu diperkuat selama hari-hari berikut di Bangkok, gue melihat di mana pun foto raja selalu ada. Yang gue tangkap adalah raja ini dicintai karena beliau juga sangat mencintai negri dan rakyatnya. Walaupun raja hanya sebagai simbol dalam pemerintahan, tapi beliau sebetulnya punya peran besar. Salah satu contoh adalah ketika krisis moneter melanda hampir sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia dan Thailand, yang dilakukan raja adalah membayar hutang-hutang Thailand kepada IMF dengan uangnya sendiri. Menurut raja, jika negara masih punya hutang pada IMF, tidak mungkin mereka bisa melakukan pembangunan. Setelah itu memang terbukti, Thailand lepas dari krisis ekonomi dalam waktu 2 tahun. Hal lain yang diceritakan pemandu wisata adalah tentang buah-buahan. Sebagian besar buah-buahan yang ada di Thailand saat ini, asal muasalnya dari Indonesia. Raja mengembangkan suatu laboratorium penelitian untuk mendapatkan bibit buah-buahan yang unggul. Sebagian besar yang dikembangkan adalah buah-buahan asal Indonesia. Setelah tim kerajaan berhasil mendapatkan bibit yang baik, maka Raja membagikan kepada rakyatnya secara gratis dan sehingga mereka bisa menanam dan mengembangkan buah-buahan dari bibit unggul.

Rombongan kemudian tiba lagi di tepi Chao Praya, namun di sisi yang berbeda. Dari situ kami naik perahu dan kembali menyusuri Chao Praya. Masih sama seperti hari sebelumnya, hanya panas lebih menyengat karena saat itu sekitar jam 10an. Sempat menepi sebentar di tepi sebuah temple untuk member makan kepada serombongan ikan patin. Kepercayaannya ikan patin di situ tidak boleh ditangkap apalagi di makan. Jika ada orang yang menangkapnya maka orang tersebut akan mengalami hal yang buruk. Namun orang-orang sangat dianjurkan untuk memberikan makanan kepada ikan-ikan patin tersebut karena bisa mendatangkan keberuntungan. Apalagi jika makanannya adalah roti yang bisa didapat dari tukang perahu/pemandu wisata, dengan memberikan sumbangan senilai 20 baht. Kepercayaan atau bisnis? Dikembalikan kepada para turis…Namun demikian memang menarik melihat ratusan ikan patin menyerbu potongan-potongan roti. Termasuk besar ukuran ikan-ikan tersebut.

Setelah puas member makan ikan, perahu kembali bergerak. Tidak jauh, sesaat kemudian kami menepi di dekat sebuah bangunan yang luar biasa indah. Wat arun atau disebut juga temple of the down. Ceritanya gue agak lupa, tapi intinya, waktu jaman-jaman perang, ada seorang raja atau jendral, yang bersembunyi di daerah tersebut. Tapi kemudian beliau merasa senang dengan daerah tersebut dan dibangunlah temple itu. Tapi detilnya cari di blog orang lain atau web site aja ya, gue ga gitu jelas dengernya waktu pemandu wisata cerita. Temple itu cukup tinggi, dari puncaknya kita bisa melihat pemandangan kota Bangkok. Sebelum naik pemandu wisata sempat memperingatkan, naiknya relatif mudah, tapi turunnya sulit, karena anak tangganya sempit dan tangganya curam.

Namun karena sudah sampai di situ, rasanya sayang kalau tidak menikmati temple itu sampai ke puncaknya. Sambil berjalan tentu sambil foto-foto. Di tingkat pertama sudah cukup terlihat bahwa tangga itu curam, nyaris tegak lurus dengan tanah. Tapi ya sudah lah, naik terus, walaupun dengan kuat berpegangan pada pegangan besi yang ada di kedua sisinya. Di situ gue semakin menyadari, kalo gue ada ‘sedikit’ fobia ketinggian. Jujur aja, waktu naik tangga, gue deg-degan banget, tangan dan kaki gue keringat dingin, aneh kan. Begitu sampe di atas, kayaknya gue ga mau terlalu dekat dengan dinding pinggirnya. Tapi demi melihat pemandangan kota Bangkok, gue berani-beraniin agak ke pinggir. Ternyata memang menarik, kota Bangkok dari atas tidak bisa dibilang terlalu indah, tapi tidak juga jelek. Mungkin karena yang lebih banyak terlihat dari temple itu adalah wilayah kota tua.

Sejak awal masuk ke jantung kota Bangkok, melalui jalan tol dari bandara, gue memang tidak terlalu melihat perbedaan antara Bangkok dengan Jakarta. Bahkan ketika melintasi jalan tol dari bandara, gue merasa sama persis situasinya dengan jalan tol pluit menuju tanjung priok. Begitu juga ketika keluar tol, daerahnya serupa dengan jika kita keluar tol dalam kota di daerah kelapa gading atau cempaka putih. Bedanya hanyalah tulisan di papan penunjuk jalan dan papan iklan, yang berbahasa Thailand, selebihnya nyaris sama persis.

Maka pemandangan dari atas Wat Arun cukup menarik, walau tidak indah dan juga tidak jelek. Wat arun sendiri sedikit mengingatkan gue pada Borobudur, bangunan bertingkat-tingkat. Sama-sama indah, sama-sama anggun tapi punya kekhasan tersendiri. Bedanya mungkin Wat Arun sudah dilapisi semen dan serupa cat, warna-warni dan dihiasi patung-patung di sepanjang dindingnya.

Seperti kata pemandu wisata, perjalanan menuruni temple lebih menantang nyali, terutama bagi orang-orang yang takut ketinggian. Akhirnya, kembali gue menggunakan jurus andalan, ngesot, gue menuruni tangga dalam posisi duduk, intinya gue merasa lebih nyaman kalau semakin banyak bagian badan gue yang bersentuhan dengan tangga. Jadi sambil memegang pegangan besi kuat-kuat, gue turun dalam posisi duduk, malu sih, tapi biarlah, daripada gue jatuh. Soale kalo lagi takut gitu kayaknya keseimbangan pun jadi terganggu, juga koordinasi gerak tangan dan kaki; jadi ga mau ambil risiko deh.

Setelah puas menikmati temple, gue dan beberapa teman menyusul peserta lain; yang kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak (alias dosen-dosen gue). Mereka lagi-lagi sedang belanja. Di samping temple itu memang banyak kios-kios yang menjual aneka kerajinan Thailand untuk souvenir, serupa lah di berbagai tempat wisata pada umumnya. Mulai dari kaos dan baju berbagai ukuran, aneka macam kain termasuk sutra Thailand, gantungan kunci, dan berbagai pernak pernik lain.

Puas belanja (beberapa sampe harus dipanggil berulang kali sama pemandu wisata), kembali ke perahu. Menyusuri Chao Praya sebentar lagi, berhenti di tepi sebuah pasar. Rombongan berjalan masuk melewati pasar tersebut, lagi-lagi sama, ga beda dengan pasar-pasar tradisional di Jakarta, baunya pun sama.

Menyebrangi jalan dan sampailah kami di bangunan berikut. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa seperti Wat Arun. Hanya serupa kuil sederhana saja, namanya Wat Pho, berbentuk rumah kuno yang memanjang, panjang sekali. Keistimewaannya ada di dalam bangunan tersebut, reclining Budha, atau patung Budha tidur, kabarnya itu adalah posisi Budha ketika terangkat ke Nirwana. Setelah mengantri untuk melepas alas kaki, kami memasuki bangunan itu, betul luar biasa besar dan indah, berlapis emas. Gue lupa ukurannya, pokoknya gede banget deh, cari lagi aja ya di blog lain or web site, tulisan ini emang ga informatif banget ya…kalo kita mau foto keseluruhan patung itu, dari kakinya. Di alas kakinya juga ada ukiran, berbagai macam gambar, sempet dikasih tau juga maknanya apa, tapi gue lupa…di situ kita juga bisa menyumbang 20 baht untuk mendapatkan satu mangkok penuh koin. Koin-koin itu untuk ditaruh lagi di dalam mangkok-mangkok yang terpasang berjajar di sepanjang dinding menuju pintu keluar, gue lupa jumlahnya ada berapa, 200an kalo ga salah. Dan mengisi mangkok-mangkok itu lagi-lagi untuk mendapat keberuntungan, tapi rupa-rupanya gue ga terlalu beruntung, karena masih ada beberapa mangkok yang tersisa tapi koin di mangkok gue udah habis.

Perjalanan dilanjutkan lagi dengan naik bis, melewati beberapa tempat sambil mendengar cerita pemandu wisata tentang perdana mentri terguling, Thaksin. Kalo mendengar ceritanya, agak-agaknya pemandu wisata ini sedikit mendukung Thaksin.

Ternyata rombongan menuju ke sebuah tempat penjualan batu-batu, perhiasan tentu. Saphir, jade, dan sebagainya lah, gue ga ngerti. Perhiasan, emas, perak, berhiaskan batu-batu warna warni bebagai jenis. Buat sebagian besar orang, pasti menarik, buat gue, tidak terlalu, sekali melihat-lihat, bagus, udah gitu, bosan. Apalagi gue ga mampu belinya, hehehe…tapi emang pada dasarnya gue ga terlalu suka perhiasan, lihat aja sekali dua kali, udah gitu cukup. Masuk ke sisi gedung di sebelahnya, lagi-lagi, baju dan aneka pernak pernik. Yah daripada bengong, lihat-lihat lagi, iseng-iseng coba satu baju, rok terusan pendek, bunga-bunga, warna hitam. Model begitu kayaknya lagi trend di Bangkok, semalam waktu di Night Bazar juga cukup banyak baju model begini. Tapi gue pernah lihat juga sih di Jakarta. Ternyata, waktu gue coba, gue melihat dampak dari tidak memperhatikan pola makan dan tidak pernah olah raga, gue gendut banget!eh, ga banget deh, tapi lumayan gendut, ga cocok deh pake baju itu, hehehehe…

Bosan banget ngeliat2 toko, tapi belum ada tanda-tanda kebosanan dari temen2 gue dan peserta rombongan lain, mereka masih asyik belanja. Gue yang emang ga minat beli apa-apa karena uang terbatas, akhirnya memilih keluar toko, masuk lagi dari depan dan duduk di ruang tunggu yang cukup nyaman. Sambil ‘baca’ Koran, lihat Koran lebih tepatnya, karena pake tulisan Thailand. Kabarnya tulisan dan bahasa Thailand ini mirip tulisan dan bahasa Jawa Kuno, Sansekerta.

Menunggu cukup lama, lapar…akhirnya puas juga rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu itu belanja, next destination, makan…lagi-lagi ditraktir sama sebuah perusahaan. Lumayan, tapi itu berarti, lagi-lagi makan di restoran, udah bosen banget sebetulnya sih, pengen makan di pinggir jalan ato di pasar. Tapi ya udah lah, namanya juga gratis, hehehehe…

Sehabis makan, rupa-rupanya ada tambahan satu tempat yang akan dikunjungi…lagi-lagi toko, toko kain sutra. Mirip di pasar baru, yang jual keturunan India, tapi tokonya ini kayaknya memang berkelas, bagus, tapi gue sangat tidak tertarik. Lihat-lihat sebentar, terus gue masuk bis, tunggu di bis.

Ada yang menarik yang gue catat dari beberapa pedagang di Thailand. Gue memang tidak berniat belanja, jadi ga pernah tawar menawar atau menanyakan harga, tapi gue bersama temen-temen yang selalu belanja. Gue perhatikan tidak semua pedagang itu ramah, mungkin sama ya dimana-mana. Ada juga yang ramah tapi banyak juga yang menunjukkan kekesalan secara terang-terangan. Pada umumnya mereka menawar dengan harga tinggi, seperti biasa, ada yang bisa ditawar oleh pembeli sampai kurang dari setengah tawaran si penjual. Tapi jika tawar menawar tidak berjalan baik, cukup banyak penjual yang langsung pasang muka masam, atau mengomel sendiri dalam bahasa Thailand. Ketidakramahan ini juga dijumpai di toko yang bagus dan besar. Karena bosan melihat gulungan kain, sebelum masuk bis, gue sempet menemani 2 orang temen gue untuk melihat-lihat toko di sebrangnya yang tidak hanya menjual kain, tapi juga baju, tas dan aneka pernak pernik lain. Temen-temen gue itu seperti biasa menawar dan menanya beberapa barang, tapi mungkin mereka belum tertarik membeli, sehingga akhirnya menolak. Tapi si penjaga toko menawari barang lain, lagi-lagi dijawab dengan ‘no’ oleh kami, dan sepertinya si penjaga toko tersebut kesal dan berkata ‘no…no…no…’ dilanjutkan dengan omongan dalam bahasa Thailand sambil berlalu begitu saja dari hadapan kami. Sempet kaget juga dengan sikap itu, tapi mungkin dia kesal karena kami tidak beli apa-apa.

Perjalanan selesai, kemudian di antara kembali ke hotel Shangri La yang letaknya berseberangan dengan Siam Paragon, Plaza terbesar di Bangkok, tempat kongres ASEAN Federation of Psychiatry and Mental Health. Setelah mencari-cari, kami menemukan tempat dan mulai melakukan registrasi ulang. Terjadi sedikit kebingungan karena ternyata sebagian besar panitia tidak bisa berbahasa Inggris. Setelah beres urusan registrasi, kami ikut salah satu simposium yang uniknya diadakan di dalam teater bioskop. Menurut panitia yang memberikan sambutan, hal tersebut sengaja dilakukan supaya peserta bisa merasakan nikmatnya bioskop milik mereka. Dari luar sebetulnya biosop ini sedikit lebih bagus dari Blitz Megaplex di Grand Indonesia, tampak lebih luas ruang lobbynya, tapi teaternya tidak senyaman di Blitz, juga tidak senyaman dibandingkan beberapa 21cineplex dan XXI yang ada di Jakarta.

Selesai ikut simposium, kami menempel poster. Salah satu alasan gue mengikuti kongres ini karena abstrak gue diterima untuk ikut poster presentation award. Karena masih keterbatasan dana, gue masih membatasi diri ikut kongres di luar negri, kalo ga presentasi mendingan ga usah ikut. Tapi kalo presentasi, harus ikut, karena itu jadi pengalaman yang luar biasa buat pengembangan diri dan sedikit narcissistic supply tentunya. Tapi gue sarankan banget terutama buat temen-temen yang masih sekolah, apapun bidang ilmunya, apalagi kedokteran, jangan pernah melewatkan kesempatan untuk bisa ke luar negri, bukan sekedar jalan-jalan tentunya, tapi ikut dalam kongres, seminar atau apapun sesuai bidang ilmu, dan kalo bisa jangan males-males atau ragu-ragu untuk masukin paper. Itu menjadi nilai tambah yang sangat bagus, bukan hanya menambah keilmuan, tapi juga pengembangan diri, pengalaman dan juga jaringan.

Beres urusan poster, lagi-lagi, diajak makan, lagi-lagi direstoran. Tapi restorannya kali ini cukup menarik, gue lagi-lagi lupa namanya. Tapi tempatnya ga jauh dari Shangri la (sebagai catatan, gue ga nginep di Shangri La, tapi di hotel Asia, satu sky train station dari Siam Paragon). Nyebrang jalan dari depan Shangri la, terus nyebrang lagi, di situ restorannya, nuansa etnik Thailand. Makanannya enak juga, ada sayur kayak lodeh, tapi asem, lainnya gue lupa, maaf, tapi ditutup sama mangga yang manis itu.

Sehabis makan beberapa teman mau ke Siam Paragon, yah gue ikut aja deh, tapi kebayang kan apa yang bakal dilihat, Siam Paragon ga beda jauh dari Senayan City, malah bagusan Grand Indonesia kalo menurut gue, tapi yah itung2 lihat mal di Bangkok. Lagi-lagi lihat sepatu dan tas. Tapi salah seorang temen gue punya usul menarik, dia mau ke Kinokuniya, langsung aja gue ikut dia. Dan inilah tempat gue, mungkin ga beda sama beberapa toko buku import di Jakarta, tapi mal ini juga ga beda dari Jakarta kan? Biar gimana gue lebih menikmati melihat buku ketimbang baju ato sepatu. Serangkaian buku opa Freud dan Frankl, buku-buku menarik tentang pendidikan dan pendampingan trauma. Bagus-bagus banget, di sesi psikologi dan pendidikan aja ga abis-abis rasanya gue lihatnya. Kayaknya pengen gue beli semua. Tapi memang ada satu buku yang gue sangat mempertimbangkan untuk membeli, tentang pendampingan remaja yang mengalami kekerasan seksual. Harganya sebetulnya ga terlalu mahal, buku-buku yang sangat menarik kisaran 1000 – 1200 baht, banyak juga yang di bawah 1000 baht. Gue ga tau, tapi gue merasa lebih murah ketimbang buku-buku import di Indonesia. Apalagi pas gue melihat Harry Potter dengan berbagai jenis sampul depan, terus masuk ke sesi anak-anak. Banyak banget buku-buku bagus dan menarik, gue merasa alangkah beruntungnya anak-anak di negara-negara yang produksi bukunya sangat banyak dan kreatif (sebagian besar juga bukan dari Thailand). Gue ketemu buku anak-anak tentang Human Body yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang bagus bahkan ada yang dilengkapi dengan replika bagian-bagian tubuh manusia. Buku-buku seperti ini yang gue cari-cari selama ini buat gue ngajar di sanggar.

Di tengah tumpukan buku yang bagus-bagus, gue merasakan campur aduk. Di satu sisi seneng banget gue bisa ngelihat begini banyak buku bagus-bagus, bahkan beberapa boleh dibaca di situ. Sekaligus juga sedih, sedih karena ga bisa beli buku-buku ini, sedih karena mengingat di Indonesia masih sangat terbatas buku-buku bagus, apalagi untuk anak-anak. Walau harus diakui sekarang sudah semakin banyak buku-buku bagus tapi tetap masih kurang banyak. Bayangkan kalo semua anak Indonesia bisa mengakses ribuan buku bagus ini. Bayangkan jika semua anak Indonesia bisa mengakses ribuan buku bagus hasil karya bangsa sendiri. Lagi-lagi mimpi, mimpi yang suatu saat HARUS jadi kenyataan. Saat itu gue sekaligus mengerti rasanya tidak bisa membeli buku. Gue teringat kisah Andy Noya, bagaimana sedihnya dia dulu karena ga mampu beli buku, saat di Kinokuniya, walaupun situasinya mungkin berbeda dengan apa yang dialami Bang Andy dulu, gue merasa paham betul cerita dan apa yang dia rasakan saat mengalami ceritanya itu.

Ketika meninggalkan Kinokuniya yang udah mau tutup, gue berjanji, gue akan usahakan untuk membeli beberapa buku besok walaupun itu berarti, tidak akan ada oleh-oleh yang gue beli.

Menyusuri Chao Praya

Monday, September 1st, 2008

Buat orang-orang yang udah pernah
pergi ke Bangkok, tulisan ini mungkin tidak menarik, tapi gapapa lah, karena
seperti biasa, tulisan2 gue adalah salah satu saluran narsisisme gue :-)

Akhirnya setelah pergulatan
panjang terutama mengenai dana, guememutuskan pergi ke Bangkok, setelah
mendapat sponsor tunggal dari bokap gue…yah walaupun dengan ‘agak’ malu karena
gue masih tetap menggantungkan sebagian hidup pada bokap gue. Pertimbangannya adalah
tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ikut kongres sekaligus presentasi poster di
AFPMH (ASEAN Federation of Psychiatry and Mental Health).

Perjalanan melalui udara dengan
menggunakan maskapai ‘murah’ gue lalui dengan agak bosan, maklumlah agak norak,
gue belum pernah naik pesawat lebih dari 2 jam, tapi untung gue ditemani Andy’s Corner; cukup untuk mengalihkan
kecemasan gue berada di ketinggian 30.000 kaki.

Setelah mendarat di Suvarnabhumi,
nebeng jemputan temen gue untuk ke hotel. Sebelumnya dapet sms, beruntung,
diundang makan malam oleh sebuah perusahaan (tau lah kalo dokter yang ngundang
biasanya perusahaan apa…). Cuma sempet taro koper sehabis check in (gue nebeng
temen gue yang kebetulan dapet award jadi dapet gratisan kamar, lumayan), langsung
menuju lantai 2 hotel tersebut yang kebetulan langsung menuju stasiun sky
train. Setelah mengecek peta, sempet agak norak sedikit waktu beli tiket,
maklum, ga ada sky train di Indonesia. Menunggu sesaat dan menikmati perjalanan
dengan sky train yang lumayan sejuk. Turun di stasiun yang dianggap paling
dekat dengan hotel yang dituju. Masih sempet tanya sana sini sampai akhirnya
menemukan hotel mewah berlambang S besar berwarna kuning itu. Menunggu lumayan
lama, dengan perut keroncongan karena belum makan siang. Ternyata sore itu kita
akan ditraktir makan malam di sebuah restoran yang terletak di pinggir Chao
Praya. Hotel tempat berkumpulnya pun berlokasi di tepi Chao Praya. Naik perahu
menyusur sungai besar, sedikit teringat pengalaman menyusur sungai di green
canyon Indonesia. Gue membayangkan, tentu saja, sungai ‘kebanggaan’ Jakarta,
Ciliwung, juga Kali Malang dan Kali Cipinang yang belakangan ini ‘akrab’ dengan
gue. Tidak seluas Chao Praya memang, tapi bukan tidak mungkin dikembangkan juga
transportasi air seperti ini. Chao Praya berwarna coklat, menurut tur guide, telah dikembangkan teknologi
untuk mengolah air sungai ini menjadi air untuk mandi, cuci, bahkan minum bagi
warga Bangkok. Sepanjang tepian Chao Praya menyuguhkan pemandangan unik,
bercampur antara kecantikan beberapa temple,
kemewahan hotel dan restoran serta kegetiran rumah-rumah kayu kumuh. Di antara
itu tampak pemandangan paling mengagumkan, Grand
Palace
yang anggun.

Restoran itu berada sekitar 15
menit dari hotel S. Suasana makan malam di tepi sungai yang temaram membuat
suasana cukup menyenangkan, terasa kehangatan kota Bangkok yang saat itu
sebetulnya agak ‘panas’ dengan berbagai demonstrasi. Makanan? Pasti enak,
apalagi buat orang yang baru makan 2 donat sejak pagi. Agak lupa sih, menunya,
tapi yang jelas enak. Ada ayam yang serupa ayam gulai/opor. Ada kepiting ah…lupa
lagi gue namanya, ada macem-macem deh, dan yang pasti ada tom yam. Hidangan ditutup
dengan ketan khas Thailand dan mangganya yang manis.

Perjalanan pulang kembali
menyusuri Chao Praya…nuansa semakin sendu mengiringi langit yang semakin gelap…

Tipikal orang Indonesia,
kemanapun dia pergi yang dituju adalah pusat perbelanjaan…malam itu beberapa
dari kami pergi ke Night Bazar di Lumphini Park. Unik-unik dan lucu-lucu barang
yang dijual di sana. Tapi gue belum mau belanja, masih menahan diri. Terutama karena
memang uang yang terbatas. Tapi akhirnya tergoda juga, beli rok terusan hitam
berbunga-bunga, rencananya buat ke Lombok bulan depan. Cape belanja, pulang
lagi ke hotel. Masih nekat naik train, walaupun mesti berganti-ganti dari MRT
ke sky train. Lagi-lagi norak, karena terkagum-kagum melihat bangunan yang
berlapis-lapis dari subway ke sky train. Sampai hotel, malas mandi, cuma ganti
baju, terus tidur…

Lanjutin besok deh..eh, lanjutin
nanti malem karena ini udah pagi 00.30, jam 6.00 gue udah mesti bangun lagi,
udah ah, ngantuk…