Antara Novel dan Film – sedikit pengalaman menonton Laskar Pelangi

Selain dinanti-nantikan, sebuah film yang diangkat dari novel laris biasanya juga dibayangi oleh kekhawatiran tidak bisa memuaskan imajinasi pembaca novelnya. Tapi seperti juga yang dikatakan beberapa orang bahwa konsep menonton film harus berbeda dari konsep membaca buku; walaupun film itu diangkat dari sebuah buku. Film adalah bentuk imajinasi si pembuat filmnya. Sebagaimanapun seorang pembuat film melibatkan penulis bukunya, berkonsultasi dengan penulis bukunya; tetap saja pembuat film mempunyai imajinasi dan kreativitas bahkan misi tersendiri. Meminjam istilah orang-orang yang mengerti seni, bahasa tulisan dan bahasa gambar tentulah berbeda.

Itu juga pasti yang dialami film Laskar Pelangi…

Beberapa hari sebelum film Laskar Pelangi diputar perdana di bioskop, seorang temen gue, Igon, SMS, kebetulan kita sama-sama pecinta novelnya. Di SMSnya dia tulis begini; gue pengen nonton Laskar Pelangi, tapi gue takut kecewa. Mungkin karena gue udah ‘teracuni’ episode Kickandy yang menayangkan behind the scenenya, langsung aja gue promosiin, gue bilang, tenang aja, filmnya pasti bagus banget, Andrea Hiratanya aja memuji filmnya. Apalagi setelah gue nonton film Laskar Pelangi tepat tanggal 25 September, langsung aja gue sms ke orang-orang; bagus banget, harus nonton!!! Ternyata beberapa hari kemudian gue dapet sms lagi dari Igon, yang isinya menggambarkan kekecewaannya tentang film itu yang menurut dia ada ketidaksesuaian dengan buku dan beberapa akting yang kurang bagus. Agak ga terima sebetulnya gue dengan pendapat dia, makanya gue langsung nulis aja di sini, hehehehe…

Sebagai seorang awam di bidang seni, baik seni tulis apalagi film; tentu aja pendapat gue ini layak diperdebatkan atau bahkan ditolak habis-habisan, tapi dari pada gue terus menerus ga bisa tidur karena mikirin sms protesnya Igon tentang film Laskar Pelangi, mending gue nulis aja…

Ada beberapa hal memang yang gue anggap menjadi ‘kekurangan’ dari film tersebut; mau ga mau memang gue masih tetep belum bisa melepaskan diri dari bayangan bukunya; beberapa hal yaitu:

1. Sebagai pengagum sosok Lintang, gue agak fanatik; tidak boleh ada kekurangan sedikit pun dalam kecerdasan bujang pesisir berkulit ‘angus’ itu. Beberapa kali (dua atau tiga kali kalo ga salah) Lintang gagal menjawab pertanyaan (TIDAK termasuk saat jawabannya betul tapi dianggap salah) atau terlambat memencet bel; saat latihan cerdas cermat di kelas maupun saat lomba yang sebenarnya. Walaupun gue menangkap maksudnya adalah membuat Lintang menjadi lebih membumi, tapi sebagai pengagum kecerdasan Lintang, gue agak kurang terima. Tapi biar bagaimana pun, adegan cerdas cermat luar biasa.

2. Sosok penting yang menjadi sumber inspirasi Andrea Hirata, ibunda guru tersayang, ibu Muslimah. Menurut gue (sebagai seorang awam di dunia akting) akting Cut Mini patut diberi pujian, dia bisa memunculkan karakter seorang guru idealis yang punya semangat untuk memberikan cinta dan pendidikan bagi anak-anaknya; tidak terlihat karakter Cut Mini ataupun putri Melayu yang biasa diperankannya dengan logatnya itu. Tapi apakah itu karakter sang ibunda guru yang sebenarnya, menurut gue masih kurang. Ibu Muslimah di situ digambarkan sedikit ‘kurang mulia’. Entah karena akting Cut Mini atau memang Riri Riza membumikan juga sosok ibu Muslimah yang digambarkan Andrea Hirata di bukunya dengan begitu mulia. Sosok guru idealis, ya, sosok guru pejuang, ya, sosok guru yang penuh cinta, ya; tapi sosok tersebut terlalu diwarnai emosi seorang ‘perempuan biasa’, bukan perempuan tangguh yang tampak dalam sosok ibu Muslimah versi Andrea Hirata. Kekuatan ibu Muslimah dalam film muncul justru dari sosok pak Harfan, pak Zul dan kesepuluh orang anaknya; bukan dari diri sang ibunda guru sendiri.

3. Kenakalan dan keriaan Laskar Pelangi memang tampak dalam adegan-adegan saat mereka bermain luncur-luncuran dengan menggunakan daun dan dahan pohon di bukit, juga saat mereka berlarian di antara bebatuan di pantai; tapi sayang, pembaca yang menonton filmnya agak kehilangan sosok Syahdan dan Trapani. Harun, Kucai, Sahara dan Akiong, walau tidak terlalu tersembunyi, masih tampak berperan, tapi Syahdan dan Trapani seakan tenggelam. Memang agak sulit memunculkan satu demi satu karakter 10 anak itu dan pasti akan panjang sekali jika digambarkan semua dengan detil di film. Tapi mungkin hubungan erat Trapani dengan ibunya, akan menjadi bumbu yang menarik, apalagi kalau novel Sang Pemimpi akan difilmkan; adegan pertemuan Ikal dengan Trapani dan ibunya di rumah sakit Jiwa pasti akan menjadi adegan yang ditunggu-tunggu; untuk itu perlu gambaran awal tentang hubungan Trapani dan ibunya di film Laskar Pelangi.

4. Adegan tarian saat karnaval, merupakan adegan menarik dan bagus. Tapi jika lagi-lagi kita coba membandingkan dengan bukunya; mungkin sebetulnya masih bisa dibuat lebih ‘heboh’.

5. Sosok tambahan yang ada di film, yaitu Pak Mahmud. Gue merasa Tora kurang greget dalam memainkan tokoh yang memang seperti agak mengambang ini, semi-antagonis mungkin ya. Tapi melihat Tora memainkan pak Mahmud, tampak akting Tora seperti saat main extravaganza, tak begitu terasa greget akting Tora seperti dalam Arisan!

6. Yang terakhir ayah Ikal. Mungkin karena dandanannya, ayah Ikal memang digambarkan klimis dan selalu tampil dengan baju terbaiknya yaitu kemeja safari berkantong empat yang disetrika halus oleh sang istri; di saat-saat mengantar Ikal ke momen-momen penting di sekolah. Tapi entah kenapa, dari penampilan Matias Muchus yang tampak justru ayah Ikal ini seperti seorang guru atau pegawai negri; bukan kuli PN yang sederhana.

Mungkin hal-hal itu yang gue anggap sebagai kelemahan. Kenapa gue banyak pakai kata mungkin karena gue tetap merasa gue bukan orang yang ahli di bidang seni, bahkan cenderung buta; gue hanya orang yang senang nonton, senang baca dan senang memberi komentar, hehehe.

Tapi lepas dari kekurangan-kekurangan itu, secara keseluruhan gue melihat apa yang disebut detil-detil yang sangat diperhatikan Riri Riza. Sebagai film, memang Laskar Pelangi terlihat detil-detilnya. Secara keseluruhan gue pun menangkap ada pesan sosial yang ingin disampaikan. Film ini menurut gue begitu humanis dan bisa membuat perasaan penontonnya campur aduk.

Di saat awal film pun, saat melihat sosok Ikal dewasa dari belakang di dalam bis, menurut gue sebagai orang awam itu pengambilan gambar yang menarik. Tapi begitu kalimat demi kalimat meluncur dari mulut Lukman Sardi (pemeran Ikal dewasa – kebetulan gue juga mengagumi Lukman Sardi karena perannya sebagai Herman Lantang di Gie), entah kenapa rasa haru itu mulai muncul. Keharuan yang luar biasa muncul juga saat Lintang (tokoh yang paling gue kagumi dari 10 anggota Laskar Pelangi) muncul. Tak perlu menunggu kalimat keluar dari mulutnya, melihat sosok kurusnya mengayuh sepeda gue yakin semua orang sudah tau, itu Lintang. Pada adegan-adegan awal ini pun bukan bermaksud drama queen, tapi memang rasanya agak sulit membendung produksi kelenjar lakrimasi.

Gue tidak hafal persis urut-urutan adegannya, makanya gue ga sabar pengen nonton lagi; tapi dari awal sampai akhir ada begitu banyak adegan menarik; beberapa hal yang gue anggap sangat luar biasa dari film ini selain pembukaannya adalah:

  1. Adegan saat Laskar Pelangi bermain-main, di bukit atau di antara bebatuan di pantai yang luar biasa indah. Mereka seperti betul-betul sedang bermain, lepas betul, seperti betul-betul diri mereka memang sedang bermain saat itu, tidak terlihat sama sekali beban mereka sedang bermain film. Dan adegan berdiri di atas batu menatap pelangi, indah.
  2. Kekuatan film juga ada pada anak-anak Belitung. Mengingat mereka bukan dari kalangan artis dan belum pernah berakting di depan kamera, menjadi luar biasa bagaimana mereka begitu pas memerankan dan memunculkan karakter masing-masing. Peran paling luar biasa menurut gue ada di Mahar, bocah tengil yang sok tahu tapi jenius dalam bidang seni itu betul-betul pas dimainkan Veris. Cara dia memanggil teman-temannya dengan sebutan ‘boy’, saat dia menyuruh Ikal mendengarkan musik jazz, cara dia nangkring di atas pohon mencari inspirasi atau mendengarkan radio transistor bututnya, si tengil Mahar yang selalu mengalungkan radio transistor ke mana-mana, pas betul.

Satu tokoh yang perlu gue sisipkan di sini adalah Harun. Dia memang bukan tokoh sentral di film ini. Tapi sosok manis Harun menjadi penting karena dia justru adalah penyelamat yang membuat teman-temannya bisa sekolah. Harun yang tokohnya diperankan seorang anak yang aslinya memang bersekolah di SLB merupakan bumbu pemanis yang memang manis. Bagaimana Harun menjawab pertanyaan tentang peta buta yang sebetulnya paling mudah dan kemudian dipuji oleh bu Mus dan teman-temannya, bagaimana Harun ditertawakan oleh guru-guru SD PN, bagaimana Harun berdiri menatap bingung sekaligus tampak lucu melihat tingkah Ikal yang sedang jatuh cinta. Harun bisa menjadi tokoh yang nyata dan mewarnai hidup Laskar Pelangi.

Ikal kecil yang manis, nakal tapi selalu ingin tau akan sekeliling, Zulfanny, tidak sebaik Mahar aktingnya, tapi sosok Ikal pun keluar dari Zulfanny, seakan Zulfanny adalah Ikal, Ikal adalah Zulfanny. Paling gue penasaran adalah mampukah dia mengekspresikan kekaguman pada kuku-kuku, itu adalah akting yang paling sulit menurut gue, bagaimana seorang anak kecil, jatuh cinta pada kuku-kuku cantik dan harus diekspresikan dari wajah, bukan kata-kata. Dan adegan itu tidak mengecewakan. Ekspresi wajah Zulfanny memang terbantu dari efek-efek kamera yang dibuat, dengan sinar-sinar dan sekuntum bunga yang jatuh. Tapi Zulfanny mampu mengeluarkan ekspresinya.

Lintang tetap Lintang, Ferdian mampu membuat gue makin jatuh cinta pada Lintang. Lagi-lagi, tidak sebagus akting Mahar, tapi Ferdian mampu menghadirkan sosok Lintang yang jenius, kalem, dewasa tapi sangat sederhana. Yang patut diacungi jempol dan paling gue kagumi adalah saat Lintang beradu akting dengan aktor kawakan Alex Komang, bukan hanya adu dialog, bahkan beradu dialog diam, karena sosok pria cemara angin ini sepertinya serupa dengan anaknya Lintang, tak banyak cakap tapi banyak berbuat. Sedikit merinding melihat adu akting antara Alex Komang dan Ferdian. Lintang yang selama ini menjadi sosok paling misterius, karena bahkan ibu Muslimahpun tidak begitu ingat pada bujang cerdas itu, sekaligus juga karena dendam sahabat sebangku yang putus sekolah itu yang menjadi salah satu faktor yang menyemangati Andrea sampai mampu menikmati pendidikan di altar suci ilmu pengetahuan. Ferdian mampu menghadirkan sosok misterius itu dan sekarang gue tidak bisa melepaskan bayangan wajah Lintang (yang adalah wajahnya Ferdian) yang mengayuh sepeda kemudian terhenti karena harus menunggu buaya besar yang sedang menyebrang jalan yang akan dilintasinya, tak bisa melepaskan bayangan bujang berkulit hitam yang sedang menutup mata kemudian dengan keras menyerukan jawaban dengan benar saat cerdas cermat.

Satu lagi adegan menarik, saat Lintang dan Ikal bertentangan pendapat, Ikal yang bingung kenapa Lintang masih harus datang tiap hari ke sekolah padahal bu Mus tidak lagi masuk sepeninggal pak Harfan. Dengan menarik tangan Ikal keluar kelas Lintang menjelaskan, kurang lebih begini, “dengar ini Ikal, bapaku seorang nelayan dari pesisir, aku anak laki-laki pertama dengan empat orang adik, seharusnya aku langsung ikut bapaku ke laut, jadi nelayan, tapi bapak suruh aku sekolah, aku harus sekolah, sekolah Muhammadiyah inilah yang mau terima aku untuk sekolah.” Kemudian mereka menjemput teman-temannya untuk sekolah.

Selalu terngiang kata-kata Lintang pada sahabatnya, Mahar,

“LASKAR PELANGI KAU HARUS SEKOLAH!“

Delapan puluh kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. – seharipun Lintang tak pernah bolos.

Suatu hari rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek…tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu “Padamu Negri” di depan kelas. (Laskar Pelangi – bab 10)

  1. Kekuatan film ini juga datang dari sekian banyak aktor kawakan yang terlibat. Walau mendapat peran sedikit, tampak jelas mereka serius dalam berakting, total aktingnya dikeluarkan. Sedikit kekurangan memang menurut gue datang dari Tora Sudiro. Adegan terbaik adalah antara pak Harfan dan pak Zul, saat berdialog tentang perlunya mempertahankan sekolah Muhammadiyah gudang kopra itu. Tapi selain itu gue juga tersihir dengan cerita-cerita pak Harfan di depan anak-anaknya.
  2. Sarat pendidikan dan pembelajaran, sarat nilai-nilai sosial dan humanis; itu menjadi kekuatan yang sangat mewarnai keseluruhan film. Satu kalimat dari pak Harfan yang tidak bisa gue lupakan, ‘hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya dan bukan menerima sebanyak-banyaknya’
  3. Adegan menjelang penutup yang jelas sangat amat mengharukan, lebih dari adegan-adegan yang lain, saat Lintang harus pergi dari sekolah. Sejak narasi suara dari Ikal dewasa yang menceritakan ‘sejak hari bersejarah itu (SD Muhammadiyah jadi juara cerdas cermat) Lintang tak pernah muncul di sekolah, kemudian adegan tanpa dialog antara seorang bapak yang menyerahkan surat Lintang pada bu Mus, saat membaca surat Lintang, sampai masih tanpa dialog saat Lintang menatap dan ditatap Laskar Pelangi dan bu Mus, Lintang mengayuh sepedanya dan tidak lagi menengok ke belakang, walau kemudian Ikal berlari dan berlari mengejar Lintang sambil meneriakkan namanya, Lintang tidak juga menoleh dan terus mengayuh sepedanya. Saat adegan itu yang diiringi suara Lukman Sardi, saat itu muncul dendam di hati, kenapa ada anak yang tidak bisa mendapat pendidikan, semua anak harus mendapat pendidikan!

Aku merasa amat pedih karena seorang anak supergenius, penduduk asli sebuah pulau terkaya di Indonesia harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya.’ (Laskar Pelangi - bab 30)

One Response to “Antara Novel dan Film – sedikit pengalaman menonton Laskar Pelangi”

  1. albertkurni Says:

    buset, ibu ini ternyata pecandu berat banget laskar pelangi sampai sebegitunya.

Leave a Reply