Dari Wat Arun ke Kinokuniya
Hari ke dua di Bangkok masih diwarnai suasana jalan-jalan. Gue dan teman-teman sepakat untuk menerima tawaran sebuah tur yang relatif ‘murah’, 1000 baht untuk mengunjungi 3 tempat wisata lengkap dengan transportasi dan tur guide. Jadilah kita memutuskan untuk menunda mendaftar kongres.
Perjalanan diawali dengan bis, sambil mendengar cerita tentang Thailand secara sekilas dari si pemandu wisata yang orang Thailand asli tapi fasih berbahasa Indonesia. Satu hal yang gue tangkap dari ceritanya adalah bahwa rakyat Thailand sangat mencintai rajanya. Hal itu diperkuat selama hari-hari berikut di Bangkok, gue melihat di mana pun foto raja selalu ada. Yang gue tangkap adalah raja ini dicintai karena beliau juga sangat mencintai negri dan rakyatnya. Walaupun raja hanya sebagai simbol dalam pemerintahan, tapi beliau sebetulnya punya peran besar. Salah satu contoh adalah ketika krisis moneter melanda hampir sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia dan Thailand, yang dilakukan raja adalah membayar hutang-hutang Thailand kepada IMF dengan uangnya sendiri. Menurut raja, jika negara masih punya hutang pada IMF, tidak mungkin mereka bisa melakukan pembangunan. Setelah itu memang terbukti, Thailand lepas dari krisis ekonomi dalam waktu 2 tahun. Hal lain yang diceritakan pemandu wisata adalah tentang buah-buahan. Sebagian besar buah-buahan yang ada di Thailand saat ini, asal muasalnya dari Indonesia. Raja mengembangkan suatu laboratorium penelitian untuk mendapatkan bibit buah-buahan yang unggul. Sebagian besar yang dikembangkan adalah buah-buahan asal Indonesia. Setelah tim kerajaan berhasil mendapatkan bibit yang baik, maka Raja membagikan kepada rakyatnya secara gratis dan sehingga mereka bisa menanam dan mengembangkan buah-buahan dari bibit unggul.
Rombongan kemudian tiba lagi di tepi Chao Praya, namun di sisi yang berbeda. Dari situ kami naik perahu dan kembali menyusuri Chao Praya. Masih sama seperti hari sebelumnya, hanya panas lebih menyengat karena saat itu sekitar jam 10an. Sempat menepi sebentar di tepi sebuah temple untuk member makan kepada serombongan ikan patin. Kepercayaannya ikan patin di situ tidak boleh ditangkap apalagi di makan. Jika ada orang yang menangkapnya maka orang tersebut akan mengalami hal yang buruk. Namun orang-orang sangat dianjurkan untuk memberikan makanan kepada ikan-ikan patin tersebut karena bisa mendatangkan keberuntungan. Apalagi jika makanannya adalah roti yang bisa didapat dari tukang perahu/pemandu wisata, dengan memberikan sumbangan senilai 20 baht. Kepercayaan atau bisnis? Dikembalikan kepada para turis…Namun demikian memang menarik melihat ratusan ikan patin menyerbu potongan-potongan roti. Termasuk besar ukuran ikan-ikan tersebut.
Setelah puas member makan ikan, perahu kembali bergerak. Tidak jauh, sesaat kemudian kami menepi di dekat sebuah bangunan yang luar biasa indah. Wat arun atau disebut juga temple of the down. Ceritanya gue agak lupa, tapi intinya, waktu jaman-jaman perang, ada seorang raja atau jendral, yang bersembunyi di daerah tersebut. Tapi kemudian beliau merasa senang dengan daerah tersebut dan dibangunlah temple itu. Tapi detilnya cari di blog orang lain atau web site aja ya, gue ga gitu jelas dengernya waktu pemandu wisata cerita. Temple itu cukup tinggi, dari puncaknya kita bisa melihat pemandangan kota Bangkok. Sebelum naik pemandu wisata sempat memperingatkan, naiknya relatif mudah, tapi turunnya sulit, karena anak tangganya sempit dan tangganya curam.
Namun karena sudah sampai di situ, rasanya sayang kalau tidak menikmati temple itu sampai ke puncaknya. Sambil berjalan tentu sambil foto-foto. Di tingkat pertama sudah cukup terlihat bahwa tangga itu curam, nyaris tegak lurus dengan tanah. Tapi ya sudah lah, naik terus, walaupun dengan kuat berpegangan pada pegangan besi yang ada di kedua sisinya. Di situ gue semakin menyadari, kalo gue ada ‘sedikit’ fobia ketinggian. Jujur aja, waktu naik tangga, gue deg-degan banget, tangan dan kaki gue keringat dingin, aneh kan. Begitu sampe di atas, kayaknya gue ga mau terlalu dekat dengan dinding pinggirnya. Tapi demi melihat pemandangan kota Bangkok, gue berani-beraniin agak ke pinggir. Ternyata memang menarik, kota Bangkok dari atas tidak bisa dibilang terlalu indah, tapi tidak juga jelek. Mungkin karena yang lebih banyak terlihat dari temple itu adalah wilayah kota tua.
Sejak awal masuk ke jantung kota Bangkok, melalui jalan tol dari bandara, gue memang tidak terlalu melihat perbedaan antara Bangkok dengan Jakarta. Bahkan ketika melintasi jalan tol dari bandara, gue merasa sama persis situasinya dengan jalan tol pluit menuju tanjung priok. Begitu juga ketika keluar tol, daerahnya serupa dengan jika kita keluar tol dalam kota di daerah kelapa gading atau cempaka putih. Bedanya hanyalah tulisan di papan penunjuk jalan dan papan iklan, yang berbahasa Thailand, selebihnya nyaris sama persis.
Maka pemandangan dari atas Wat Arun cukup menarik, walau tidak indah dan juga tidak jelek. Wat arun sendiri sedikit mengingatkan gue pada Borobudur, bangunan bertingkat-tingkat. Sama-sama indah, sama-sama anggun tapi punya kekhasan tersendiri. Bedanya mungkin Wat Arun sudah dilapisi semen dan serupa cat, warna-warni dan dihiasi patung-patung di sepanjang dindingnya.
Seperti kata pemandu wisata, perjalanan menuruni temple lebih menantang nyali, terutama bagi orang-orang yang takut ketinggian. Akhirnya, kembali gue menggunakan jurus andalan, ngesot, gue menuruni tangga dalam posisi duduk, intinya gue merasa lebih nyaman kalau semakin banyak bagian badan gue yang bersentuhan dengan tangga. Jadi sambil memegang pegangan besi kuat-kuat, gue turun dalam posisi duduk, malu sih, tapi biarlah, daripada gue jatuh. Soale kalo lagi takut gitu kayaknya keseimbangan pun jadi terganggu, juga koordinasi gerak tangan dan kaki; jadi ga mau ambil risiko deh.
Setelah puas menikmati temple, gue dan beberapa teman menyusul peserta lain; yang kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak (alias dosen-dosen gue). Mereka lagi-lagi sedang belanja. Di samping temple itu memang banyak kios-kios yang menjual aneka kerajinan Thailand untuk souvenir, serupa lah di berbagai tempat wisata pada umumnya. Mulai dari kaos dan baju berbagai ukuran, aneka macam kain termasuk sutra Thailand, gantungan kunci, dan berbagai pernak pernik lain.
Puas belanja (beberapa sampe harus dipanggil berulang kali sama pemandu wisata), kembali ke perahu. Menyusuri Chao Praya sebentar lagi, berhenti di tepi sebuah pasar. Rombongan berjalan masuk melewati pasar tersebut, lagi-lagi sama, ga beda dengan pasar-pasar tradisional di Jakarta, baunya pun sama.
Menyebrangi jalan dan sampailah kami di bangunan berikut. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa seperti Wat Arun. Hanya serupa kuil sederhana saja, namanya Wat Pho, berbentuk rumah kuno yang memanjang, panjang sekali. Keistimewaannya ada di dalam bangunan tersebut, reclining Budha, atau patung Budha tidur, kabarnya itu adalah posisi Budha ketika terangkat ke Nirwana. Setelah mengantri untuk melepas alas kaki, kami memasuki bangunan itu, betul luar biasa besar dan indah, berlapis emas. Gue lupa ukurannya, pokoknya gede banget deh, cari lagi aja ya di blog lain or web site, tulisan ini emang ga informatif banget ya…kalo kita mau foto keseluruhan patung itu, dari kakinya. Di alas kakinya juga ada ukiran, berbagai macam gambar, sempet dikasih tau juga maknanya apa, tapi gue lupa…di situ kita juga bisa menyumbang 20 baht untuk mendapatkan satu mangkok penuh koin. Koin-koin itu untuk ditaruh lagi di dalam mangkok-mangkok yang terpasang berjajar di sepanjang dinding menuju pintu keluar, gue lupa jumlahnya ada berapa, 200an kalo ga salah. Dan mengisi mangkok-mangkok itu lagi-lagi untuk mendapat keberuntungan, tapi rupa-rupanya gue ga terlalu beruntung, karena masih ada beberapa mangkok yang tersisa tapi koin di mangkok gue udah habis.
Perjalanan dilanjutkan lagi dengan naik bis, melewati beberapa tempat sambil mendengar cerita pemandu wisata tentang perdana mentri terguling, Thaksin. Kalo mendengar ceritanya, agak-agaknya pemandu wisata ini sedikit mendukung Thaksin.
Ternyata rombongan menuju ke sebuah tempat penjualan batu-batu, perhiasan tentu. Saphir, jade, dan sebagainya lah, gue ga ngerti. Perhiasan, emas, perak, berhiaskan batu-batu warna warni bebagai jenis. Buat sebagian besar orang, pasti menarik, buat gue, tidak terlalu, sekali melihat-lihat, bagus, udah gitu, bosan. Apalagi gue ga mampu belinya, hehehe…tapi emang pada dasarnya gue ga terlalu suka perhiasan, lihat aja sekali dua kali, udah gitu cukup. Masuk ke sisi gedung di sebelahnya, lagi-lagi, baju dan aneka pernak pernik. Yah daripada bengong, lihat-lihat lagi, iseng-iseng coba satu baju, rok terusan pendek, bunga-bunga, warna hitam. Model begitu kayaknya lagi trend di Bangkok, semalam waktu di Night Bazar juga cukup banyak baju model begini. Tapi gue pernah lihat juga sih di Jakarta. Ternyata, waktu gue coba, gue melihat dampak dari tidak memperhatikan pola makan dan tidak pernah olah raga, gue gendut banget!eh, ga banget deh, tapi lumayan gendut, ga cocok deh pake baju itu, hehehehe…
Bosan banget ngeliat2 toko, tapi belum ada tanda-tanda kebosanan dari temen2 gue dan peserta rombongan lain, mereka masih asyik belanja. Gue yang emang ga minat beli apa-apa karena uang terbatas, akhirnya memilih keluar toko, masuk lagi dari depan dan duduk di ruang tunggu yang cukup nyaman. Sambil ‘baca’ Koran, lihat Koran lebih tepatnya, karena pake tulisan Thailand. Kabarnya tulisan dan bahasa Thailand ini mirip tulisan dan bahasa Jawa Kuno, Sansekerta.
Menunggu cukup lama, lapar…akhirnya puas juga rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu itu belanja, next destination, makan…lagi-lagi ditraktir sama sebuah perusahaan. Lumayan, tapi itu berarti, lagi-lagi makan di restoran, udah bosen banget sebetulnya sih, pengen makan di pinggir jalan ato di pasar. Tapi ya udah lah, namanya juga gratis, hehehehe…
Sehabis makan, rupa-rupanya ada tambahan satu tempat yang akan dikunjungi…lagi-lagi toko, toko kain sutra. Mirip di pasar baru, yang jual keturunan India, tapi tokonya ini kayaknya memang berkelas, bagus, tapi gue sangat tidak tertarik. Lihat-lihat sebentar, terus gue masuk bis, tunggu di bis.
Ada yang menarik yang gue catat dari beberapa pedagang di Thailand. Gue memang tidak berniat belanja, jadi ga pernah tawar menawar atau menanyakan harga, tapi gue bersama temen-temen yang selalu belanja. Gue perhatikan tidak semua pedagang itu ramah, mungkin sama ya dimana-mana. Ada juga yang ramah tapi banyak juga yang menunjukkan kekesalan secara terang-terangan. Pada umumnya mereka menawar dengan harga tinggi, seperti biasa, ada yang bisa ditawar oleh pembeli sampai kurang dari setengah tawaran si penjual. Tapi jika tawar menawar tidak berjalan baik, cukup banyak penjual yang langsung pasang muka masam, atau mengomel sendiri dalam bahasa Thailand. Ketidakramahan ini juga dijumpai di toko yang bagus dan besar. Karena bosan melihat gulungan kain, sebelum masuk bis, gue sempet menemani 2 orang temen gue untuk melihat-lihat toko di sebrangnya yang tidak hanya menjual kain, tapi juga baju, tas dan aneka pernak pernik lain. Temen-temen gue itu seperti biasa menawar dan menanya beberapa barang, tapi mungkin mereka belum tertarik membeli, sehingga akhirnya menolak. Tapi si penjaga toko menawari barang lain, lagi-lagi dijawab dengan ‘no’ oleh kami, dan sepertinya si penjaga toko tersebut kesal dan berkata ‘no…no…no…’ dilanjutkan dengan omongan dalam bahasa Thailand sambil berlalu begitu saja dari hadapan kami. Sempet kaget juga dengan sikap itu, tapi mungkin dia kesal karena kami tidak beli apa-apa.
Perjalanan selesai, kemudian di antara kembali ke hotel Shangri La yang letaknya berseberangan dengan Siam Paragon, Plaza terbesar di Bangkok, tempat kongres ASEAN Federation of Psychiatry and Mental Health. Setelah mencari-cari, kami menemukan tempat dan mulai melakukan registrasi ulang. Terjadi sedikit kebingungan karena ternyata sebagian besar panitia tidak bisa berbahasa Inggris. Setelah beres urusan registrasi, kami ikut salah satu simposium yang uniknya diadakan di dalam teater bioskop. Menurut panitia yang memberikan sambutan, hal tersebut sengaja dilakukan supaya peserta bisa merasakan nikmatnya bioskop milik mereka. Dari luar sebetulnya biosop ini sedikit lebih bagus dari Blitz Megaplex di Grand Indonesia, tampak lebih luas ruang lobbynya, tapi teaternya tidak senyaman di Blitz, juga tidak senyaman dibandingkan beberapa 21cineplex dan XXI yang ada di Jakarta.
Selesai ikut simposium, kami menempel poster. Salah satu alasan gue mengikuti kongres ini karena abstrak gue diterima untuk ikut poster presentation award. Karena masih keterbatasan dana, gue masih membatasi diri ikut kongres di luar negri, kalo ga presentasi mendingan ga usah ikut. Tapi kalo presentasi, harus ikut, karena itu jadi pengalaman yang luar biasa buat pengembangan diri dan sedikit narcissistic supply tentunya. Tapi gue sarankan banget terutama buat temen-temen yang masih sekolah, apapun bidang ilmunya, apalagi kedokteran, jangan pernah melewatkan kesempatan untuk bisa ke luar negri, bukan sekedar jalan-jalan tentunya, tapi ikut dalam kongres, seminar atau apapun sesuai bidang ilmu, dan kalo bisa jangan males-males atau ragu-ragu untuk masukin paper. Itu menjadi nilai tambah yang sangat bagus, bukan hanya menambah keilmuan, tapi juga pengembangan diri, pengalaman dan juga jaringan.
Beres urusan poster, lagi-lagi, diajak makan, lagi-lagi direstoran. Tapi restorannya kali ini cukup menarik, gue lagi-lagi lupa namanya. Tapi tempatnya ga jauh dari Shangri la (sebagai catatan, gue ga nginep di Shangri La, tapi di hotel Asia, satu sky train station dari Siam Paragon). Nyebrang jalan dari depan Shangri la, terus nyebrang lagi, di situ restorannya, nuansa etnik Thailand. Makanannya enak juga, ada sayur kayak lodeh, tapi asem, lainnya gue lupa, maaf, tapi ditutup sama mangga yang manis itu.
Sehabis makan beberapa teman mau ke Siam Paragon, yah gue ikut aja deh, tapi kebayang kan apa yang bakal dilihat, Siam Paragon ga beda jauh dari Senayan City, malah bagusan Grand Indonesia kalo menurut gue, tapi yah itung2 lihat mal di Bangkok. Lagi-lagi lihat sepatu dan tas. Tapi salah seorang temen gue punya usul menarik, dia mau ke Kinokuniya, langsung aja gue ikut dia. Dan inilah tempat gue, mungkin ga beda sama beberapa toko buku import di Jakarta, tapi mal ini juga ga beda dari Jakarta kan? Biar gimana gue lebih menikmati melihat buku ketimbang baju ato sepatu. Serangkaian buku opa Freud dan Frankl, buku-buku menarik tentang pendidikan dan pendampingan trauma. Bagus-bagus banget, di sesi psikologi dan pendidikan aja ga abis-abis rasanya gue lihatnya. Kayaknya pengen gue beli semua. Tapi memang ada satu buku yang gue sangat mempertimbangkan untuk membeli, tentang pendampingan remaja yang mengalami kekerasan seksual. Harganya sebetulnya ga terlalu mahal, buku-buku yang sangat menarik kisaran 1000 – 1200 baht, banyak juga yang di bawah 1000 baht. Gue ga tau, tapi gue merasa lebih murah ketimbang buku-buku import di Indonesia. Apalagi pas gue melihat Harry Potter dengan berbagai jenis sampul depan, terus masuk ke sesi anak-anak. Banyak banget buku-buku bagus dan menarik, gue merasa alangkah beruntungnya anak-anak di negara-negara yang produksi bukunya sangat banyak dan kreatif (sebagian besar juga bukan dari Thailand). Gue ketemu buku anak-anak tentang Human Body yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang bagus bahkan ada yang dilengkapi dengan replika bagian-bagian tubuh manusia. Buku-buku seperti ini yang gue cari-cari selama ini buat gue ngajar di sanggar.
Di tengah tumpukan buku yang bagus-bagus, gue merasakan campur aduk. Di satu sisi seneng banget gue bisa ngelihat begini banyak buku bagus-bagus, bahkan beberapa boleh dibaca di situ. Sekaligus juga sedih, sedih karena ga bisa beli buku-buku ini, sedih karena mengingat di Indonesia masih sangat terbatas buku-buku bagus, apalagi untuk anak-anak. Walau harus diakui sekarang sudah semakin banyak buku-buku bagus tapi tetap masih kurang banyak. Bayangkan kalo semua anak Indonesia bisa mengakses ribuan buku bagus ini. Bayangkan jika semua anak Indonesia bisa mengakses ribuan buku bagus hasil karya bangsa sendiri. Lagi-lagi mimpi, mimpi yang suatu saat HARUS jadi kenyataan. Saat itu gue sekaligus mengerti rasanya tidak bisa membeli buku. Gue teringat kisah Andy Noya, bagaimana sedihnya dia dulu karena ga mampu beli buku, saat di Kinokuniya, walaupun situasinya mungkin berbeda dengan apa yang dialami Bang Andy dulu, gue merasa paham betul cerita dan apa yang dia rasakan saat mengalami ceritanya itu.
Ketika meninggalkan Kinokuniya yang udah mau tutup, gue berjanji, gue akan usahakan untuk membeli beberapa buku besok walaupun itu berarti, tidak akan ada oleh-oleh yang gue beli.