Persembahan Kecil untuk Negriku

Karena sudah mengorbankan hampir seluruh hari pertama kongres, hari ke dua ini gue mau ikut semua sampe selesai, apalagi nanti malam ada dinner, hehehe. Walaupun sempat diwarnai insiden cari-carian karena salah seorang teman gue masih tinggal di hotel berbeda, akhirnya kita bisa ikut kongres dengan tenang. Hari ini hari presentasi poster. Jam 10.10 – 10.40 setiap peserta wajib berdiri di samping poster masing-masing untuk siap memberikan keterangan jika ada yang ingin bertanya, terutama dewan juri. Sedikit ngobrol-ngobrol dengan peserta dari Thailand yang posisi posternya di sebelah gue. Bahasa Inggrisnya, sama berantakannya sama gue, hehehehe… Waktu dewan juri datang dan menanyakan beberapa hal, gue jadi deg-degan. Setelah mereka selesai dengan poster gue, langsung gue merasa lemes, sedih. Gue merasa jawaban-jawaban gue tidak memuaskan mereka. Merasa bodoh, tapi ya sudah lah, namanya juga pengalaman pertama, jadi pelajaran aja. Lain kali gue jadi udah tau rasanya ikut presentasi poster dan gue bisa lebih siap. Tambahan juga, gue harus melatih bahasa Inggris gue, terutama percakapan resmi.

Selesai sesi presentasi poster, masih ada waktu sedikit sebelum masuk ke simposium berikut. Seperti biasa salah satu hiburan saat kongres adalah berkunjung ke booth-booth perusahaan farmasi, suka ada gimic-gimic lucu, hehehe…

Simposium demi simposium, ada yang menarik, ada yang membosankan. Saking membosankannya, jujur, akhirnya gue ngobrol. Curhat mengenai masa-masa akhir pendidikan spesialis yang gue rasa berat banget. Diawali dengan cerita temen gue tentang kekecewaan beberapa dosen dengan penampilan gue saat ujian akhir. Entah bermaksud proyeksi atau bukan, tapi gue memang merasa sudah kehabisan energy waktu ujian akhir. Energi gue fisik dan mental udah habis untuk ngerjain penelitian, dengan 210 sampel dan wawancara psikiatri terstruktur yang gue lakukan sendirian, belum lagi tambahan beberapa kuesioner titipan, dan berbagai faktor X. Empat bulan keluar masuk daerah cipinang besar selatan, satu bulan olah data, bikin laporan, ujian pemaparan sampai ujian tesis. Dua minggu kemudian ujian lokal, dua minggu kemudian ujian nasional. Energi gue udah sisa-sisa cadangan. Hasil buat gue memang mengecewakan, lulus tapi seakan seadanya. Nilai di atas kerta memang buat beberapa orang tidak bermakna, hanya sekedar nilai. Tapi buat gue saat itu sangat mengecewakan, karena gue menganggap itu adalah hasil usaha gue selama 4 tahun dan tidak seperti apa yang gue harapkan. Memang untuk diberikan ke orang tua gue yakin tidak mengecewakan (ga bermaksud narsis) tapi untuk target pribadi gue, mau tidak mau gue kecewa. Biar gimana salah satu cara gue bisa mengukur diri gue sendiri salah satunya mau ga mau dari nilai. Tapi ya sudah lah, sekarang sudah terobati dan ada banyak hal yang gue dapat selama pendidikan yang nilainya jauh lebih tinggi daripada nilai yang gue raih di atas kertas.

Dan itulah hidup, saat waktu istirahat, sambil masih membicarakan sedikit keluh kesah gue saat mengerjakan penelitian, gue dan teman gue berjalan ke toilet melewati poster-poster yang dipajang. Otomatis mata gue tertuju pada poster gue sendiri. Kok ada tempelannya, pita kuning dengan angka 3. Lho, kenapa poster gue ditempel? ‘wah lu menang, tri!’ gitu kata temen gue. Masih ga percaya saat itu, karena dua poster di sebelah gue juga ditempel pita dengan angka yang sama. Beberapa poster lain juga, memang ada juga yang ditempel pita merah dengan angka 1 dan dua, tapi masing-masing hanya satu. Sementara ada 5 poster yang ditempel pita warna kuning dengan angka 3. ‘Mungkin dilombain lagi’ kata temen gue. Ya sudah, gue tidak terlalu mempedulikan.

Ketika mau mulai simposium berikut, seorang psikiater dari Surabaya bertanya ke gue, ‘Astri, kamu udah tau belum, aku dititipin pesen sama Prof. Pichet (ketua panitia kongres), kamu menang juara ketiga, dapat hadiah uang (sensor,hehehe) baht, selamat ya.’

Seneng banget rasanya dan betul aja, saat selesai simposium gue dan teman-teman melihat lagi ke poster gue. Sudah ada tempelan lagi, pengumuman pemenang dan hadiahnya. Seneng banget. Mungkin kecil, tapi buat gue berarti banget, norak memang kayaknya, tapi gapapa lah. Ironi hidup, poster yang gue presentasikan berisi hasil penelitian gue yang buat gue mengecewakan. Gue menjalani penelitian dengan menghabiskan seluruh energi gue, tapi hasil dari penelitian itu tidak seperti yang diinginkan banyak pihak, termasuk beberapa pembimbing dan penguji. Bahkan gue sempat mendengar beberapa komentar tidak enak tentang penelitian gue. Tapi ternyata, itulah yang membuat nama gue ada di antara nama-nama peserta negara lain. Walaupun di urutan terakhir dari 5 pemenang ketiga, yang mungkin berarti gue urutan ke delapan. Tapi itu untuk pertama kalinya gue mewakili Indonesia. Dari 8 orang penerima award, memang Indonesia cuma di urutan terakhir, cuma satu (ada 4 wakil dari Indonesia). Tapi buat gue, itu kebanggaan tersendiri. Memang tidak seperti cita-cita gue masa kecil, pengen jadi juara olimpiade. Memang tidak ada kibaran bendera merah putih dan kumandang lagu Indonesia Raya, memang tidak sehebat olimpiade fisika, matematika, kimia, apalagi Barcelona, Atlanta, Sydney, Athena, Beijing. Memang hanya ASEAN, memang hanya di kalangan mental health, tapi minimal akhirnya ada yang bisa gue berikan untuk Indonesia, walaupun cuma kecil, sangat kecil.

Dan akhirnya, gue bisa beli buku…saat dinner gue menyempatkan diri untuk kabur sebentar ke Kinokuniya, gue tidak mau berlama-lama memang, karena bisa-bisa gue menghabiskan semua uang hadiah itu. Gue terus menerus mengingatkan diri gue bahwa gue masih harus hidup 3 hari lagi di Bangkok dan uang hadiah ini bisa gue pakai untuk itu karena gue tidak mau menghabiskan uang bokap gue lebih banyak lagi. Gue juga mau beli oleh-oleh dengan uang ini. Gue membeli 2 buku yang paling gue inginkan dan bisa dipakai di sanggar. Gue beli juga buku untuk Galang.

Ada yang agak kurang menyenangkan sebelumnya. Demi membeli buku-buku ini, gue harus menelan ‘ledekan’ dari teman. Beberapa teman gue malam itu ingin pergi menonton pertunjukkan ‘Thai Girl’, mungkin sebagian besar sudah tau pertunjukkan apa itu, yang belum tau mungkin sudah bisa menduga. Kabarnya pertunjukkan itu menarik dan unik, menunjukkan keahlian tertentu dari alat kelamin perempuan. Dengan harga 800 baht, gue menolak dengan tegas karena mau membeli buku. Tapi gue harus mendengar dikatakan aneh, dan diberi wejangan bahwa itu khas di Thailand, kapan lagi bisa nonton itu, nanti gue nyesel, lagian kan gue udah menang hadiah uang, dsb…dsb… lucunya ada salah seorang teman gue, dan dia cowo, yang juga ga mau ikut nonton, dengan alasan yang sama, uangnya udah menipis. Tapi dia ga dibilang aneh dan ga diberi wejangan yang sama.

Malamnya, di hotel, ketika teman-teman gue pulang, mereka berkomentar, ‘lu bisa nyesel sih kalo ikut, tapi gue ga nyesel kok. Kasihan juga ngelihat mereka, di awal pertunjukan 2 orang koitus (hubungan badan) di panggung, muka 2 orang itu kayak menderita banget, gue kasihan ngelihatnya, udah gitu ada cewe-cewe yang vaginanya bisa dimasukin macem-macem, tali yang panjang banget, bola, terus bisa ngerokok, malah bisa niup kayak sumpit untuk pecahin balon di atas dan bisa pas kena balonnya. Orangnya kebanyakan udah tua-tua, ada juga yang muda-muda, tapi emang kasihan sih ngelihatnya.’

Jadi ada yang berminat nonton? Ati-ati dirazia ya…

Leave a Reply