mencoba melangkah…

February 22nd, 2007 by astriparawita

Menjalani hidup dengan rutinitas pribadi, sering kali membuat kita lupa dan berkurang kepekaan akan kehidupan lain di sekitar kita. Bahkan sebagai seorang dokter yang selalu didengung-dengungkan tentang pentingnya empati, melayani semua orang tanpa pandang latar belakangnya, benarkah kita akan bisa menjadi sesosok manusia tanpa apriori yang bisa menerima setiap manusia lain apa adanya???

Entah kenapa dunia ini diciptakan begitu beragam, untuk saling melengkapi katanya. Tapi, keberagaman itulah yang sering dijadikan kambing hitam untuk suatu permasalahan bahkan konflik yang pada akhirnya mengorbankan banyak orang.

Kenapa harus ada warna kulit, ras, suku, agama, tingkat pendidikan, status sosial, status ekonomi, pangkat, kedudukan, jabatan, profesi…atribut-atribut SAMPAH yang ketika semua itu hilang, apakah manusia tidak lagi menjadi manusia???

Seringkali kita berbicara atas nama warna kulit, ras, suku, agama, tingkat pendidikan, status sosial, status ekonomi, pangkat, kedudukan, jabatan, profesi…dan melupakan hati..

Padahal, ketika kita kehilangan HATI, masihkah kita menjadi manusia???

Gue pun seringkali terjebak dalam apriori-apriori berdasarkan atribut-atribut sampah itu, dan ketika gue ingin menentang semua itu, apakah gue salah? Ketika figur ideal dinilai HANYA berdasarkan atribut-atribut sampah itu, salahkah kalau gue menentangnya?

Cibubur, 120207

Mengenang malam, ketika setetes embun menyejukkan kekeringan di akar…

Saya mimpi tentang sebuah dunia,

Di mana ulama – buruh dan pemuda,

Bangkit dan berkata – Stop semua kemunafikan,

Stop semua pembunuhan atas nama apapun.

Dan para politisi di PBB,

Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,

Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,

Dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi rasa benci pada siapapun,

Agama apa pun, rasa apa pun, dan bangsa apa pun,

Dan melupakan perang dan kebencian

Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

TUHAN – saya mimpi tentang dunia tadi,

Yang  tak pernah akan datang…

SHG

sepenggal kisah yang tersisa dari banjir…

February 22nd, 2007 by astriparawita

Kepedulian Dari yang Tidak Dipedulikan

…Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras…

…Tangan-tangan yang kuat dan terkepal

Dan marilah tengadah ke langit hitam

Sambil menghitung bintang-bintang

Atau bicara tentang cita-cita rakyat yang agung

Jumat, 2 Februari 2007

Hari ini menjengkelkan sekali, entah kenapa aku merasa lelah, kemarin memang habis jaga malam, tapi tidak ada pasien, aku menghabiskan malam dengan online…rasa-rasanya ingin sekali pulang, tapi belum waktunya, nanti jam 3 sore baru bisa pulang.

Ada kabar dari rumah, jalanan banjir, tidak mungkin pulang, ah…aku jengkel sekali, aku ingin sekali pulang, ingin istirahat…

Ada telpon dari sanggar, banyak warga yang kebanjiran mengungsi di sanggar, khawatir banyak yang sakit, apa aku bisa datang? Aku pasti mau datang, tapi sepertinya tidak mau hari ini, aku cape dan rasanya malas untuk bekerja, membantu orang sekalipun…

Aku bingung…aku harus ke mana? Menginap lagi di RSCM, mungkin bisa online lagi malam ini, tapi rasa-rasanya sudah jenuh dengan kamar jaga itu…tawaran dari Yunita untuk menginap di rumahnya, mungkin bisa…

Akhirnya aku dan karimun hitam yang semakin setia, keluar dari RSCM, tumben, jalan diponegoro lancar, belok kanan memasuki salemba, masih lancar, belok kiri ke pramuka, lancar juga, terus tanpa hambatan sampai perempatan pemuda, belok kiri lagi memasuki bypass ke arah tanjung priok, masuk tol di pintu tol pulomas, semua lancar, kosong sekali jalanan hari ini, katanya banjir di mana-mana???

Terus lancar sampai lewat pluit, terpikir ke pluit, tapi pasti banjir…terus ke arah grogol…banyak mobil dari arah berlawanan, kenapa? YA AMPUN…antrian panjang kendaraan terlihat padat sekali, berjalan perlahan, lambat sekali, aku melihat ke bawah jembatan layang tol itu, ternyata grogol banjir cukup dalam, hampir sepinggang orang dewasa,  di jalur tol juga ada genangan yang cukup dalam, penyebab kemacetan, selepas genangan lancar sekali, tapi untuk bisa ke taman anggrek, aku harus keluar di slipi dan berputar arah, dan ternyata slipi padat sekali, juga saat putar arah ke tomang, padat sekali…tapi, akhirnya, sampai juga aku di taman anggrek…menghabiskan malam dengan hedonisme, seperti biasa di hari jumat, tapi kali ini di sebuah kafe di TA, ingin ke chiyyo sebetulnya, tapi tidak mungkin…

Malamnya menikmati keindahan Jakarta dari PL, dari jauh tampak antrian kendaraan di jalur tol masih juga padat, malam

Jakarta

tampak indah…padahal, ada kedinginan dan kegetiran di banyak tempat akibat luapan air…

Sempat bermain CM sebelum tidur, entah kenapa, selalu dan selalu, seperti ada yang memenuhi dan berkecamuk di pikiran, belum juga hilang…tapi malam itu, aku senang, seorang teman yang begitu kurindukan, membalas dan membalas sms, hal yang jarang sekali dia lakukan, apalagi mendengar kemajuan yang dia raih, mulai bekerja..miss u, bro

Sebetulnya Shirley pulang tadi malam, tapi tidak mungkin bertemu dengan kondisi seperti ini, akhirnya hanya via telpon…

Malam itu, aku berencana…besok HARUS ke AKAR…

Dan..hujan turun lagi…

Sabtu, 3 Februari 2007

Pagi hari aku terbangun…jam 8, aku lihat di ponselku, yunita sudah bangun, dan sepertinya sedang visit pasien via telpon, hebat…sudah seperti konsulen dia…hehehe…

Setelah mandi, aku dan yunita turun untuk makan, resto jepang, terakhir kali aku makan di resto ini yang di plangi, bersama seorang sahabat, yang sepertinya cukup sering mengganggu pikiranku belakangan ini…

Sehabis makan, kami belanja, biskuit, air kemasan, susu, tidak bisa terlalu banyak karena keterbatasan ekonomi J setelah itu aku berpisah dengan yunita, menjemput eva ke pluit, ambil beberapa obat di klinik gereja, lalu menuju akar…

Tol pluit tanjung priuk lagi2 lancar, tapi di km 17 antrian padat sekali dan kendaraan berjalan lambat, sms ke radio yang rajin sekali mengupdate berita banjir dan lalulintas, akhirnya menjadi rutin sms ke sana sepanjang perjalanan ke Akar…

Di daerah kelapa gading, banyak mobil dan warga di pinggir jalan, banyak yang tampak akan mengungsi, kelapa gading memang daerah terparah…

Selepas itu lancar, masih terus mengirim sms ke radio itu…keluar kebon nanas, tidak bisa lewat, banjir cukup tinggi, padahal sudah dekat sekali, terpaksa berputar, keluar taman mini, lewat RS polri, melewati genangan cukup tinggi, sampai akhirnya bisa menembus kemacetan jalan dan tiba dengan selamat di akar walau hari mulai gelap…

Di akar tidak begitu ramai, kawan-kawan tampak sibuk memasak, rupanya mereka menyiapkan nasi bungkus. Ada beberapa pengungsi di lantai 3, memeriksa beberapa orang kemudian memeriksa persediaan obat, banyak yang kurang…

Ada 2 lokasi yang kabarnya membutuhkan obat, penas dan halim, aku mau lihat lokasi itu, kawan-kawan memberitahukan, harus nerobos banjir, masalah atau tidak untukku? Ah, tidak pernah masalah, sampah, lumpur, banjir…samar2 aku ingat 5 tahun yang lalu pun aku menikmati banjir mengunjungi warga yang membutuhkan obat…

Kawan-kawan akan membagikan lilin untuk warga penas yang masih bertahan di rumah…dan perjalanan pun di mulai…

Kaki-kaki kami melangkah menyusuri jalan menuju lokasi banjir, yang ternyata adalah daerah yang tadi kami hindari dengan mobil, perlahan air yang kami tembus semakin meninggi, sampai di atas pinggangku, melewati pohon yang setengah tumbang, menyusuri gang kecil dan…di ujung gang, seperti sebuah sungai…ternyata daerah itu adalah rumah-rumah di pinggir kali, antara jalan setapak dan kali yang berarus cukup deras itu hanya di batasi pagar kayu yang tidak begitu jelas, namun ada tambang di sepanjang jalan, entah bagaimana caranya melewati semua itu…tapi kawan-kawan Akar memang luar biasa, kekagumanku semakin bertambah, hampir sepanjang jalan mereka menjaga aku, eva dan linda dengan mengambil posisi di belakang kami, seakan membatasi kami dengan kali, di sisi jalan ini pun terasa arus cukup deras…kami terus berjalan, aku dengan susah payah mempertahankan keseimbangan dengan berpegangan pada tambang, air sudah setinggi leher…kami tiba di rangkaian rumah-rumah kayu berlantai 2, membagikan lilin sambil menanyakan apa ada yang membutuhkan obat, kami janjikan besok untuk membawakan obat…kami terus berjalan, melewati jembatan yang hanya kelihatan pegangannya saja, menembus arus kali yang deras, sampai di sebrang kami membagikan lilin lagi ke rumah-rumah di sana, semakin sulit buatku karena arus lebih deras, tapi lagi-lagi, dengan bantuan kawan-kawan, aku bisa melewatinya…di satu rumah sempat cemas dengan seorang ibu yang sudah cukup tua yang tinggal sendiri, kami mencoba membujuk untuk mengungsi ke sanggar, tapi si ibu tidak mau, terpaksa kami tinggal dengan hati cemas…

Perjalanan pulang bukan mudah, bahkan lebih sulit karena harus melawan arus, kawan-kawan tetap menjaga kami dengan baik, sehingga aku lebih tenang, hebat sekali mereka, sudah hafal betul jalan yang kami lalui, bahkan mereka tahu persis di tempat-tempat tertentu ada gerobak yang terbenam, ada selokan atau ada undakan…

Semakin mendekat ke gang, semakin deras arus yang dilalui, lagi-lagi kawan-kawan selalu berdiri di antara kami dan kali, sesekali mereka membantu kami berpegangan, sampai akhirnya kami kembali ke jalan besar kebon nanas…

Banyak yang memenuhi pikiranku sambil melangkah dengan basah sekujur tubuh di jalan aspal yang kering, luar biasa kawan-kawanku ini, kawan-kawan yang seringkali mengalami ketidakpedulian masyarakat, kawan-kawan yang mungkin menjadi bagian dari ‘kelompok’ yang sering tersisih dan disisihkan, tapi mereka pun seakan tidak peduli dengan semua itu, mereka terus dan terus berkarya, musik, teater, pendidikan alternatif, bahkan membantu sahabat-sahabat kecil yang terkena gempa di klaten sampai menolong korban banjir, tanpa memikirkan imbalan, balasan apalagi penghargaan…bahkan seakan tanpa memikirkan keselamatan dan kesehatan diri sendiri…ketika di luar kami bertemu dengan beberapa orang yang mau memberikan nasi bungkus tapi tidak tahu caranya mencapai rumah warga, kawan-kawan yang baru saja keluar dari air, kembali lagi mengantar mereka sambil membawa gerobak nasi bungkus, hebat sekali…

Betapa aku semakin merasa kecil, betapa aku semakin merasa malu…dan terus muncul pertanyaan untuk diri sendiri, apa yang sudah kamu lakukan untuk orang lain???

Minggu, 4 Februari 2007

Hari ini anniversary orang tuaku, tapi aku belum bisa pulang, sudah bisa mungkin, karena banjir di jalan kabarnya sudah surut, tapi hari ini aku memilih ke Akar, teringat warga di penas dan penampungan halim yang kemarin aku jenguk sehabis dari penas…pulang dari Akar, aku dan eva sempat mampir ke gereja, mengambil beberapa obat lagi…aku bingung sekali, bagaimana harus melengkapi obat-obat yang sangat minim, banyak sekali yang mengganggu pikiran tapi aku tidak bisa berpikir, akhirnya aku dan eva tertidur jam 2 pagi…di kos eva…

Esoknya kami baru bangun jam 7 walaupun alarm sudah berbunyi sejak jam6.30, lelah dan mengantuk, aku segera mandi, ada pesan singkat dari yunita, untunglah dia bisa ikut ke Akar karena eva hari ini tidak bisa. Aku dan eva pergi ke pasar Gloria, glodok untuk membeli obat di apotik dewi, untunglah kami mendapat diskon dan sumbangan vitamin serta obat batuk untuk anak, terima kasih ya…

Di Gloria, tergoda sekali untuk makan yang enak-enak, hehehehe…

Pulang belanja, kembali ke gereja, mengambil 5 dus air kemasan, menunggu yudy yang juga mau ikut, mengantar eva ke kos, menjemput yunita di depan hotel di slipi…langsung berjalan ke Akar…sempat bingung jalan mana yang bisa dilewati, akhirnya dengan panduan pak de dan dijemput kribo, sampai juga aku, yunita, yudy di Akar, jauh terlambat dari waktu yang dijanjikan…

Kami segera membagi diri, aku dan yunita ke penampungan halim, yudy ikut kawan-kawan Akar membagikan makan siang di penas, sambil membawa paket-paket obat yang sudah kami siapkan, sempat mencemaskan yudy karena kabarnya air naik jauh lebih tinggi dari kemarin…bahkan melampaui tinggi badan omat yang cukup tinggi…

Tapi sudahlah, yudy pasti bisa, kawan-kawan pasti menjaga…

Aku dan yunita mulai berjalan ke penampungan halim, dengan kursi kayu dan meja panjang kami mulai memeriksa pasien satu demi satu…batuk pilek, gatal-gatal, panas dingin, pegal-pegal dan sakit kepala yang mendominasi, beberapa mulai diare, terutama anak-anak; ternyata cukup banyak orang dewasa dan tua yang darah tinggi…semakin dan semakin lelah, namun pasien tak juga berhenti, lapar sekali rasanya…dan seperti biasa, belum bersentuhan dengan kafein, membuat mood yang cenderung disforik menjadi iritabel, ini salah satu kelemahanku di kala lelah, mulai mengeluh dan mengomel walau hanya dalam pikiran…

Untung kemudian datang bantuan, JC-yehezkiel, teman kuliah dulu, sudah lama sekali tidak ketemu JC, dia lagi libur PTT dan rupanya rumahnya dekat sini, dia dan teman-teman datang membantu, juga membawa obat, cukup lega…aku dan yunita memutuskan beristirahat sebentar untuk makan siang…ditemani opung, kami makan di sebuah warung…opung bercerita bagaimana ia dan kawan-kawan memasang tambang ketika banjir mulai datang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa melakukan hal itu, memasang tambang di tengah arus banjir yang cukup deras, bahkan dengan tambang pun aku kesulitan berjalan di sana, apalagi harus memasang tambang tanpa pegangan, dengan ketinggian air yang lebih tinggi dari yang aku lewati kemarin. Cuma satu kalimat yang disampaikan opung kepada kawan-kawan; ‘yang mau ikut berani mati’. Itu saja kalimat itu bukan ancaman atau mengada-ada, karena arus memang deras dan kedalaman air melebihi ukuran tinggi rata-rata kawan-kawan termasuk opung. Tapi mereka bisa melakukan itu…obrolan kemudian berpindah ke gunung, rinjani masih menjadi tawaran opung, tentu saja aku mau, tapi mengatur waktu yang sulit. Terpikir untuk mengajak teman-teman ke gede atau pangrango, karena kemarin waktu melawan arus banjir, andre sempat bilang, ini lebih berat dari naik gunung. Mendengar itu langsung aku tawarkan rencana naik gunung yang disambut semangat oleh kawan-kawan. Usai membereskan pengobatan di penampungan, kami kembali ke sanggar, terima kasih JC dan teman2 untuk bantuan tenaga dan obat-obatan…

Yunita dan opung pergi ke penas, opung akan mengecek tali dan keadaan di sana, yunita mau melihat seperti apa kondisi penas. Jam 5 aku, yudy dan kawan-kawan pergi sambil membawa makan malam, lilin dan obat untuk warga penas. Mendorong gerobak berisi 5 boks makanan ramai-ramai menyusuri jalan menuju penas. Di tepi jalan sebelum wilayah banjir, tampak tronton berisi pria-pria tegap berseragam (aku tidak begitu mengerti itu seragam apa, hanya ada tulisan paskhas or something seperti itu di badan tronton), lengkap dengan perahu karet, entah apa yang mereka lakukan karena kemudian mereka pergi…aneh, aku pikir, mereka tidak tampak basah, berarti mereka tidak turun, apa mereka hanya ditugaskan memantau keadaan? Apa mereka tidak tau kalau masih ada puluhan warga yang bertahan di rumah di pinggir kali tanpa makanan dan obat selain yang diberikan kawan-kawan akar? Apa mereka tidak melihat kawan-kawan mendorong gerobak berisi tumpukan boks? Apa mereka tidak terpikir untuk bertanya di mana yang membutuhkan bantuan? Apa mereka tidak berpikir untuk membantu? Entahlah, tapi mereka pergi begitu saja, dengan tronton, perahu karet dan badan tegapnya…dan kami kembali menembus banjir…

Perjalanan kali ini sepertinya akan lebih sulit karena membawa beban boks berisi nasi dan air minum, lucu juga, boks bisa dihanyutkan sehingga tidak perlu berat menggotong. Tim membagi 2, sebagian melewati gang yang kemarin aku lalui, sebagian melewati sebuah gedung yang belum selesai di bangun, menurut kribo, pilihannya adalah, melalui gang-melawan arus kali yang deras atau melalui gedung-tertusuk paku; hehehe, pilihan yang sulit…

Aku memilih melewati gedung karena kemarin sudah melewati gang, di gedung itu bertemu dengan 2 orang ibu dan anaknya yang juga sedang mengungsi, sayang aku tidak membawa cukup obat yang diminta ibu itu…aku bisa melalui gedung dengan selamat, paling tidak tanpa tertusuk paku. Kembali bergabung dengan kawan-kawan; sempat merasakan nikmat dan tegangnya naik rakit, karena ternyata ada rakit yang dibawa kawan-kawan untuk mengangkut 2 boks. Tapi hanya sebentar, kemudian aku turun, ternyata lebih nyaman tanpa rakit, karena di atas rakit terlalu bergoyang, lebih khawatir jatuh dari rakit.

Sampai di jembatan kami berhenti, tidak semua ke sebrang jembatan, sebagian menunggu kawan-kawan yang membagikan nasi ke beberapa rumah di seberang jembatan, sebagian lagi menunggu di jembatan. Rupanya di atas jembatan sudah dipasang bekas meja pingpong, sehingga bisa dijadikan tempat duduk. Lucu juga, aku duduk di atasnya dan menikmati makanan ringan bersama linda. Menikmati derasnya arus kali, pikiranku menerawang…sampai dikagetkan oleh ambon yang mengingatkan, jangan bengong di kali, hahahha….

Setelah semua nasi dibagikan, kami kembali, menentang arus pinggir kali. Kami berjalan sambil tertawa dan bercanda, menyenangkan sekali bekerja dengan kawan-kawan ini, seakan semua dijalani dengan santai, bukan beban, bahkan beratnya arus kali, bolak-balik sekian kali setiap hari, bagi mereka adalah suatu hal yang menyenangkan, dijalani dengan tawa dan canda; mau tidak mau membuat mood ku terangkat, menyenangkan bekerja dengan mereka…

Kembali ke sanggar, aku mandi dan membereskan obat. Menikmati segelas kopi hangat, kemudian terasa mengantuk, aku harus mengantar yunita dan yudy. Maka kami pamit pulang…

Dan akhirnya…aku pulang ke rumah…

Pesona Alam Bawah Tanah…

January 30th, 2007 by astriparawita

Awal tahun ini, menyambung ritual yang gue mulai tahun lalu, dibuka dengan trip dahsyat…menelusuri ‘AKU’ (baca: gua) BUNIAYU (meminjam kata2 bang andrey, supaya lebih sopan J)…sebetulnya niat menjerumuskan diri ke kedalaman bumi udah jadi salah satu impian gue sejak lama, sejak gue mendengar kakak ipar gue yang dulunya waktu kuliah suka caving (secara dia ikut pencinta alam yang pendirinya keren itu), apalagi waktu gue denger cerita dia menelusuri goa yang banyak tengkoraknya (kabar2nya siy sisa2 masa palu arit dulu…); gue semakin penasaran, pengen tau apa rasanya masuk goa…dan setelah merasakan indahnya berada di ketinggian awan (walo ‘baru’ 2910 dpl), pengen tau juga rasanya ‘turun’ ke kedalaman bumi…

Trip awal tahun ini penuh ketidakpastian sebetulnya, waktu gou kirimin gue berita ini via mail dan gue buka MPnya om gembong, gue pengeeennn banget ikutan trip ini, tapi sedikit ragu karena ga ada temen gue yang mau ikut (gou beralasan ga suka caving, tapi gue tau banget sekarang dia iri beratsss sama gue, apalagi kalo udah baca blog gue ini, huehehehehe…), tapi ternyata panggilan alam lebih kuat J setelah mengalami keterlambatan baik dalam konfirmasi keikutsertaan maupun kedatangan ke senayan (maap ye teman2 krn terpaksa nungguin gue, maklum jarak jauh karang tengah – senayan gue tempuh dengan kendaraan yang katanya primadona Jakarta saat ini J ), namun akhirnya gue tergabung juga di dalam bis yang membawa 40an orang menuju Buniayu, Nyalindung, Sukabumi…

Dan…begini ceritanya…

Perjalanan diawali seperti biasa dari senayan, menembus jalan bebas hambatan sampe ke sukabumi, melewati berbagai kemacetan sebelum masuk kota sukabumi dan menyusuri puluhan tikungan menanjak menuju Nyalindung…sedikit mengingatkan gue pada perjalanan ke Ujung Genteng beberapa bulan lalu, secara arahnya emang nyaris sama…tapi sebetulnya sih, perjalanan lebih banyak gue habiskan bersama buaian mimpi, secara malem sebelumnya gue menghabiskan malam di Chiyyo sampe tutup (maksudnya, Chiyyonya nungguin gue pulang baru tutup, hehehehe), begitu di rumah, mendengar berita dari Nias, sampe jam01.30 n pagi2 gue udah bangun lagi, jam6, itu pun jadi telat dengan segala kesibukan pagi hari (apaan coba???)

Maka…tibalah kami di desa itu…turun dari bis, beruntung bisa ‘nebeng’ mobil sampe rumah yang dijadiin basecamp, disambut dengan belaian angin desa yang sejuk menjelang dingin, sentuhan lembut kabut tipis yang menggayut di udara, lambaian ramah daun2 pepohonan yang segar, serta senyuman manis penduduk desa…senengggggg bisa ada di alam lagi…setelah satu bulan berkutat dengan kemacetan, keruwetan, kesesakan, kepenatan, kepedihan JAKARTA, akhirnya gue bisa melepaskan semua itu bersama hembusan napas yang kuat dan kembali mampu menarik napas dalam dengan lega…

Di rumah, kami disambut dengan gorengan dan bandrek, minuman hangat yang sebetulnya enak banget untuk suasana sore menjelang malam di desa yang dingin (tapi secara gue ga suka bandrek dan ga menemukan kopi, ya sudahlah, gue minum air sehat, air putih, cukup…)

Habis itu briefing sebentar terus makan malem, enak banget masakannya, tapi kok gue lupa, apa makanannya ya? Kalo ga salah sayur kayak capcay gitu sama ayam ya? Lupa gue, pokoknya enak lah…

Malem itu kita dapet kesempatan ‘latihan’ mengenal sang ‘aku’, kami semua masuk ke ‘aku’ angin, yang merupakan ‘aku’ wisata setempat…aduh, kok agak ribets ya pake ‘aku’? hehehe…balik ke goa lagi deh, berbeda dengan beberapa goa wisata yang udah pernah gue masukin (goa jepang di yogya, goa kiskendo, beberapa goa di cagar alam pangandaran), goa yang satu ini cukup nyaman karena udah ada undakannya, jadi kita bisa jalan dengan tenang, tapi tetep aja, pesona di dalamnya luar biasa…gue paling suka ngeliat relief dinding dan bebatuan; dan itu semua bentukan air, gila ya, dahsyatnya kekuatan aliran air bisa membuat pesona yang begitu indah…terus beruntung juga bisa ngeliat serangga buta, bentuknya mirip banget jangkrik, cuman lebih gede dan sungutnya panjang benerrr…terus sempet ngerasain beberapa detik di kegelapan abadi, wueeehhh, seruuu…

Habis menikmati ‘aku’ angin, briefing sebentar buat penjelajahan sebenarnya, terus bobo deh, nyiapin energi…nah, ada sedikit peristiwa lucu…sekitar sebulan yang lalu, ketika gue lagi berjalan menyusuri hutan gunung putri bersama dekapan rasa nyeri dan ngilu di kedua lutut, gue bertemu dengan dua orang pendaki gunung yang pada akhirnya membarengi jalan gue dan temen2; dan ternyata gue ketemu lagi dengan salah seorang di antaranya…mas dwi..the gondrong…hehehe…jadilah malem itu kita sempet ngobrol2 sedikit, pengantar tidur, hehehe…

Jam 12 tepat, mulai bangun, satu demi satu dan semua, beres-beres, terus langsung mencoba2 baju, sepatu, topi (a.k.a helm) wueeehhh, kayak mau kondangan, cari baju ama sepatu yang pas, hehehe…setelah semua beres, dibagiin bekal, botol air mineral dalam kemasan sama makanan ringan biskuit berlapis karamel dan coklat, secara ga mau sebutin merk J berjalan pelan2 menyusuri jalan desa yang sepi menuju lubang ‘aku’; dipimpin kang iwan kalo ga salah ya…gue tergabung di tim satu bersama 20 orang lainnya, yang daftarnya bisa ditanyakan langsung ke om gembong, secara gue ga hapal, hehehe…sampe di lubang ‘aku’, kita diturunin satu satu, goa vertikal boo…sebetulnya gue agak deg2an juga turun vertikal 32m, secara fobia ketinggian, gue inget jaman2 repling nurunin dinding kampus dulu…sok berani, biasa…takut tapi demen, jadilah gue repling dengan merayap, boro2 berani mengayunkan itu tali, jalan turun aja setapak demi setapak dan tali dipegang kuat2…nah, yang ini lebih ngeri sepertinya, gue takut sih, tapi ga mau mundur, sempet sms didit waktu sebelum tidur tadi, minta petunjuk…akhirnya diberani2in, ya mau gimana lagi, gue turun bareng mbak cindy, yang ada gue pegangan mbak cindy terus n ga berani buka mata, payah deh gue, pas udah mau deket tanah barulah gue berani buka mata…dan…di antara ketakutan pun, gue menyadari pesona alam yang begitu indah, serasa memasuki sebuah istana batu yang luar biasa megah, goa besar berdiameter, berapa ya, luas banget deh, dengan penerangan lampu karbit mas iwan, jadi suasananya remang2 gimana gitu, dan di bawah, teman2 yang udah nyampe duluan udah pada rame…apalagi begitu menjejakkan kaki ke tanah, padat tapi becek, jadi agak susah tuh untuk melangkah, luar biasa deh, perasaan saat itu, gue ga bisa lupain saat gue masih tergantung di tali mulai berani buka mata dan memandang sekeliling goa, gambaran itu masih terekam jelas di otak gue sekarang…sayang gue ga bisa foto saat itu, boro2 foto, secara tangan masih gemeteran…tapi setelah bisa berdiri tegak di tanah dan napas sama detak jantung mulai teratur, teuteup dunk…poto2 rame2 tim korpri (gitu deh, kalo lidah indonesia ngomong rope free J) !huehehehehe…

Sekitar jam 4, tim 1 mulai berjalan, sepanjang jalan nyaris ga pernah ga ketemu air, air terus menyertai setiap hitungan langkah kami, serupa sahabat setia…gue masih selalu terpesona dengan relief dinding dan bebatuan yang lagi2 hasil karya aliran sang air, bentukan stalagtit dan stalagmit, berbagai bentuk bebatuan sepanjang lorong goa, bahkan bentuk goanya sendiri, yang unik2, sungguh pesona yang luar biasa, di beberapa tempat yang cukup tinggi dan luas bahkan gue bisa membayangkan nikmatnya tinggal di sana, serasa sebuah istana yang eksotis dan sejuk…di beberapa tempat jalur ga bisa dibilang mudah, susah banget malah…jadilah beberapa kali rombongan terhenti cukup lama, lumayan buat istirahat, namun sebetulnya, istirahat yang terlalu lama nyaris sama dengan siksaan buat gue, udara dingin kembali terasa secara suhu tubuh mulai turun karena duduk diem, belum lagi hantaman rasa kantuk; beberapa kali bahkan gue sempat tertidur saat istirahat atau saat menunggu giliran jalan…paling sengsara kembali berjalan setelah cukup lama diam, berat banget rasanya mengembalikan suhu tubuh dan mengusir rasa kantuk yang makin kuat…tapi lagi2, jalur yang berat dan pesona alam yang indah merupakan kombinasi yang pas untuk mengembalikan semangat dan membantu memulihkan ato paling ga mempertahankan stamina…masih terus ditemani aliran air, langkah demi langkah semakin dan semakin jauh masuk ke goa, sampai akhirnya…di satu tempat, mau ga mau kita harus turun pake tali, di bawah aliran air cukup deras, tapi mas iwan ato yang lain ya? Maaf, gue lupa…udah nunggu di bawah, dengan sigap beliau memberi instruksi untuk kami ketika satu demi satu menuruni tali itu…lagi2, takut juga gue, walo ga gitu tinggi n gue tau itu air ga dalem, tapi tetep aja deg2an, kalo gue jatuh, kebentur batu gimana? Padahal gapapa sih, kan gue pake helm, lagian di bawah juga kan ditungguin, jadi pasti aman…tapi namanya juga takut…lagi2 gue teringat, saat manjat tanjakan setan pas ujan, licin banget, dengan tali webbing yang dipasang frans sama tommy…akhirnya semua selamat melewati hambatan itu…jalan lagi, air masih terus setia menemani, bahkan terkumpul banyak di dalam sepatu bot, sehingga setiap langkah diiringi musik air yang berkecipakan (bahasa apa coba…) terus airnya makin lama makin sedikit, lumpurnya tambah lama tambah banyak, tambah tinggi, goanya tambah pendek, jadilah, merayap di lumpur, huehehehehe…enak banget, seru…merasakan sensasi lembutnya sentuhan lumpur, jadi pengen berlama2 berendam di dalam lumpur J lembutnya lumpur ‘aku’ buniayu, ga kalah deh sama kelembutan pasir pantai cipanarikan ujung genteng J…tapi sesudah itu, tambah berat bos! Nanjak2 terus, licin, terjal, membuat pikiran untuk menurunkan berat badan muncul beberapa kali, secara gue merasa berat banget ngangkat badan gue…tapi…kang ferry bersedia memberikan pahanya untuk tempat pijakan gue supaya gue bisa manjat lebih mudah, gile, gue langsung merasa bersalah gitu dengan berat badan gue (lho?)…tapi memang, selain pesona alam yang luar biasa, tim pemandu, kang ferry dan rekan2, RUARRR BIASAAA! TOP ABIIIEEESSS! Salut banget gue sama mereka, hebat deh pokoknya…TERIMA KASIH BANGET buat mereka, selaku tim pemandu sekaligus tim sukses kami, khususnya yang baru pertama kali caving J

Terus dan terus, jalur semakin dan semakin berat, tapi entah kenapa, tetep nikmat dan menantang…sampe akhirnya, itulah, tantangan terakhir, tebing setinggi sekitar 7m, bagusnya udah disiapin tangga baja sama timnya kang ferry, tapi lagi2, secara fobia ketinggian…tangganya kelihatan emang kuat, tapi kecil, tiap anak tangganya ngepas banget untuk satu kaki, dan udah pasti licin secara sepatu2 yang naek penuh lumpur…tapi gue ga mau mikir, sama seperti kehidupan yang gue coba jalani sekarang, setapak demi setapak, satu demi satu anak tangga…tanpa berani menengok ke belakang dalam arti ngeliat ke bawah dan males juga menatap ke atas…tapi gue tau, setelah ini, segalanya menjadi lebih mudah…dan lagi2, terima kasih untuk akang yang nungguin tangga di atas, entah kenapa, sampe atas gue malah agak kesulitan narik badan gue, untung si akang jago, bantuin gue naik dari anak tangga terakhir…lagi2…maap…lupa nama si akang teh siapa???

Setelah itu, emang betul, jalanan lebih mudah, tapi nanjak…mulai lagi, stamina yang udah drop banget, inget masa2 melangkah yang semakin dan semakin berat saat mau menggapai puncak gede dari surken…waktu di kejauhan mulai tampak cahaya mentari lewat sebentuk lubang yang tampak kecil di kejauhan, dengan napas yang semakin berat, perlahan tapi pasti melangkah menanjak menggapai secercah sinar harapan…udah ga kuat kalo cuma pake 2 kaki, terpaksalah, 2 tangan juga membantu menopang dan mengangkat berat badan demi mencapai mulut gua yang agak di atas itu…

Dan waktu mencapai hangat dan terangnya mentari pagi, waktu keluar dari kegelapan goa, disambut teriakan ‘selamat datang di peradaban’…rasanya…aduh…gue ga bisa menemukan kata2 yang tepat…indah banget! Seneng, luar biasa deh pokoknya!

Tapi ternyata perjalanan belum selesai, setelah poto2 dan toss bareng dengan yel2 yang sama (KORPRI!), langkah demi langkah mulai menyusuri perkebunan dan sawah2, diantara pohon karet yang sedang mengumpulkan getah…kami semua berjalan kembali ke basecamp…lelah, kotor, berlumur lumpur tapi senang…

Sepatu bot semakin lama semakin ga nyaman, secara lumpur semakin memadat dan walau berbunyi kecipakan tapi ga ada air yang keluar waktu sepatu itu dibuka…akhirnya, atas saran beberapa orang, sepatu gue buka; saat telapak kaki bersentuhan langsung dengan tanah desa, malah jauh lebih nyaman…ingat lagi…waktu live in, waktu ke ladang sama bapak dan ibu, waktu jalan dari muntilan ke kaliurang…

Dan sampailah di basecamp, disambut cowo gondrong kriwil2, yang teriak2 heboh nanya ke kita2, gimana? Excited ga? (ini mas dhemy bukan namanya?hehehe, maap lagi, gue ga tau)…jelas lah, excited banget, top abis, seneng benerrrr…

Dan gue seneng banget, di awal tahun ini, lagi2 boleh ngerasain pengalaman MENYENANGKAN yang ga BAKAL bisa dilupain, walo kalo dipikir2 gue masih lebih suka naik gunung, tapi gue juga suka caving dan SIAP untuk nge-cave lagi! Jadi pas kan hobi gue lengkap nge-cave dan nge-cafe, huehehehehehe…..jadi inget, air yang setia menemani sepanjang perjalanan menelusuri ‘aku’ emang membuat gue pengen banget minum kopi, secara warnanya mirip kopi susu gitu, hehehe…mirip2 capuccinonya chiyyo lah warnanya J

Dan tentu aja…thanks GOD! Gue berSYUKUR banget, senakal2nya gue, masih selalu dikasih kesempatan menikmati kasih sayangNYA lewat keindahan dan kedahsyatan ciptaannNYA…terus TERIMA KASIH BANGET buat semua PANITIA – OM GEMBONG (thanks udah nungguin gue yang senantiasa terlambat, baik konfirmasi keikutsertaan maupun kedatangan di senayan, THANKS BANGET buat seluruh trip ini J), MBAK LUCKY (thanks juga karena udah bantuin gue ngebersihin ‘air mata’ darah di bis J), MBAK AMY (makanannya enak banget! thanks juga), TITIAN (maap banget, gue ga terlalu yakin orangnya yang mana? Mbak? Mas? Pak? Bu? Maap ya, tapi pasti THANKS juga), MAS DHEMY (ini cowo gondrong kriwil2 yang rajin banget bantuin kita2 pilih, pake, ngebenerin sampe ngelepas baju n sepatu bukan? Yang teriak2 menyambut kita satu demi satu waktu nyampe lagi di basecamp?Thanks banget juga-btw, kalo emang yang itu, mukanya mirip banget, asli mirip abisss, sama temen gue, tapi temen gue itu cewe) dan BANG ANDREY yang LOETJOE! (thanks terutama buat gangguannya saat kita2 mau tidur, huehehehehe…siap2 mengganti semua GUA menjadi AKU, biar lebih sopan J) dan semua panitia lain, TERIMA KASIH BANGET buat TIMNYA KANG FERRY, buat pak TOING (salut banget gue sama bapak yang satu ini, staminanya hebat!), buat mas ALUN untuk poto2nya (luar biasa tukang poto eh, fotografer ini, oks banget, tetap setia memfoto dalam berbagai situasi J), ditunggu hasil poto2nya mas…dan semua yang gue lupa namanya tapi udah bantuin kita banget, TERIMA KASIH BANGET, MATUR NUWUN,NGGIH. thanks juga buat semua temen2 baru yang MENYENANGKAN, terutama Mbak Cindy yang turun bareng gue, dan banyak bantuin gue juga sepanjang penelusuran (thanks banget ya, mbak, maap nyusahin J), Bang Daurie yang nemenin gue dengan cerita tentang MELATI waktu di bis (menarik dan menyenangkan ceritanya tuh, bang!), Mas Dwi gondrong, yang udah nemenin gue sepanjang jalan di kebun bawang dan kasih gue salonpas untuk ngobatin lutut gue (hihihi, tapi ini di trip yang laen, seneng banget bisa ketemu lagi!), thanks juga buat nasihat2nya tentang pentingnya menjaga lutut (pasti gue akan lebih hati2 dan rendah hati, mas! J, sampe ketemu di pangrango dan semeru!)

Seneng…seneng…seneng…mudah2an cepet ada trip lagi..tapi ada cerita yang kurang mengenakan nih, secara gue berhasil melewati berbagai rintangan, hambatan dan tantangan selama penelusuran goa dengan hanya lecet2, tapi gue terpaksa ‘bersimbah’ darah saat di bis! Boo…malu ga sih? Begitulah, akibat 2 hari ga kesentuh cafein, jadilah gue tidur dengan sukses tapi terlalu LELAP, tanpa bisa punya pertahanan diri terhadap serangan goyangan bis di jalan yang ga rata, tiba2 gue terbangun akibat kepala gue membentur benda keras yaitu pinggiran jendela yang dari besi itu, mungkin ingetnya masih pake helm J sakit banget, tapi gue cuek, secara ngantuk berats, gue langsung ambil posisi tidur lagi, tapi kali ini tangan menyangga kepala, tapi kok…tangan gue basah…dan ternyata…jidat gue berdarah!!!payah dey, untung mbak lucky dengan sigap membantu gue membersihkan darah dan memasang plester, tapi jadilah bertambah satu goresan di wajah, hiks…hiks…padahal lukanya kecil banget, tipis lagi, ya sutra lah, yang penting teuteup cantik…huehehehehe….

Maap ya kalo tulisan ini kurang oke, secara sekarang jam 2 pagi dan hujan mulai turun..insomnia lagi kah? Tau deh…tapi postingnya besok di kampus…

Wah, tapi gue harus mengucapkan SELAMAT juga pada teman2 gue yang hari sabtu-minggu saat gue BERSENANG2 MENIKMATI INDAHNYA PESONA ALAM BAWAH TANAH, mereka SIBUK BEKERJA! Huehehehehe, SALUT buat para pekerja keras, hahahahha, nangte ye bos-bos, masih ada caving2 berikutnya, loe pada KUDU nyobain caving! Dan buat temen2 gue yang laen, yang sekaligus guru2 gue di alam, igon, ryue, dika, merwin, frans-udah pernah caving belon loe pada?huehehehe, sombong dikit, makanye, pulang jakarta cepetan (buat frans, selesain koas cepetan J), biar bisa jalan2 lagi, jangan sekolah n kerja terus…sekolah aja jauh2 banget sih! beruntung juga gue sekolah di sini, bisa disambi jalan2, hehehehe…tapi kalian mesti bangga, sebagai guru2 gue, sekarang murid kalian ini udah bisa pergi sendiri, caving pula, hehehehe…ga sabar nih nunggu kalian pulang buat cerita2 dan jalan bareng…igon-udah mau pulang kan? Pangrango ya!; dika-sama, Pangrango! Tapi mudah2an gue ada rejeki biar bisa ke nias sebelum tugas loe selesai, kita jalan di sana J; ricky yue, maret pulang kan? Tapi ga sempet jalan kali ya? Gue ke manila deh, loe masih lama kan di sana? Jadi gue sempet nabung dulu J; merwin-aduh, gue ga tau gimana caranya buat ke jerman, belum tentu dalam 5 tahun ke depan gue bisa ke sana L tapi gue tunggu, loe masih utang pangrango juga kan? J; Frans-gue tau deh, loe anak hutan, biar gimana ga bakal gue bisa ngalahin lutung J tapi loe bisa bangga dunk sama gue sekarang, banyak kemajuan nih hasil didikan loe juga kan, hehehehe, btw, loe juga masih utang pangrango, kompor dan KTP loe masih disandera!!! utang aja diinget..miss you guyz…

puisi…

December 29th, 2006 by astriparawita

r i n d u

Tak pernah terlupakan

Serupa gambar film yang terus terputar

Saat kaki melangkah menembus kegelapan malam

Waktu pijakan menyusuri tanah berbatu

Ketika bintang berkedip genit dan bulan tersenyum ramah

Belaian lembut angin malammu yang dingin dan sentuhan hangat mentari pagimu

Setiap tetesan peluh

Setiap helaan napas

Berlarian di lembah indahmu

Menikmati cantiknya edelweissmu

Mengagumi Suryakencanamu, puncak, tebing dan kawahmu

Menatap puncak Pangrango yang anggun berselimut kabut

Sore itu…

Ketika melihat puncak Gede dan Pangrango

Rindu itu datang lagi…

Pacet, di hari Natal 2006

cape deh….

December 27th, 2006 by astriparawita

sepertinya hari ini bukan hari baik untuk ngeblog, dari tadi koneksi internet di mana2 eror, di bagian, di perpus sampe di warnet favorit gue, yang di matraman maupun sekarang di puri…bete deh…

oiya..

MET NATAL YA…

CARITAS CRISTI URGET NOS…

natal tahun ini cukup menyenangkan, walopun gue merindukan seseorang (cieee…) tapi gapapa, gue kumpul sama keluarga gue, secara jarang banget kita kumpul, di wisma yang udah puluhan tahun gue kunjungi dari sejak gue umur setahun kali, wisma kompas di Pacet…ga banyak berubah tempat itu dari apa yang gue inget duluuuu banget, walopun aroma cemaranya semakin berkurang…seneng aja bisa kumpul sekeluarga walopun akhirnya gue lebih banyak nonton DVD, hehehehe….

tukeran kado, ke gereja, makan sate sinta, hehehe….gue misa natal di gereja biara st. clara, pacet; kita udah dateng sekitar satu jam sebelum misa, tapi ternyata tempat di dalem udah penuh, mungkin juga itu kapel kali ya, bukan gereja, akhirnya duduk di luar, ujan lagi, tapi ada nuansa beda rasanya misa di sana, walopun ga lihat altar langsung, ga di dalem gedung, tapi pas ujan dan melihat biarawati2 st. clara dengan baju coklat2nya, nuansanya beda, kerasa bener2 natal…nyaman deh…

tapi ada nuansa lain, malam natal itu, gue bener2 pengen banget ngopi di warung di gunung putri…gue kangen ke gede, secara itu udah deket banget…apalagi waktu gue lihat gede dan pangrango berdiri di depan gue, rasanya pengeeeen banget gue naik saat itu…tapi ga mungkin ya…buat temen2 yang udah pernah naik bareng gue, dan tau betapa oyotnya gue, mungkin rasanya ga mungkin gue bisa sekangen ini naik gunung, tapi ga tau kenapa, gue emang oyot banget kalo naik gunung, apalagi yang terakhir…yang masih menyisakan sedikit sesal dan sedih, tapi gue ga pernah kapok naik lagi, walopun gue ga tau, mungkin temen2 gue yang kapok naik bareng gue, huehehehehe…

dua hari setelah natal ini, pasien banyak banget, aneh…sesudah natal dan menjelang tahun baru kok pasien malah jadi banyak, banyak pasien baru juga, kemarin 3 hari ini 3, gila deh, padahal minggu2 awal di bulan desember sepi banget, sampe gue bisa pulang siang terus (n bikin iri orang2 karena siang2 aja gue udah bisa ngafe, hehehe)…tapi 2 hari ini bener2 banyak, secara kemarin gue dateng telat karena langsung dari pacet, niatnya pengen pulang cepet, eh, malah pulang sore, gue ga bawa mobil lagi, akhirnya pulang naik bis sambil nostalgia, secara bis yang gue naikin adalah bis yang selalu gue naikin dulu pas sma, hehehe…tapi karena cape yang ada gue tidur sepanjang jalan, untung ga bablas…

menjelang ujian, menjelang akhir tahun…males banget belajar…bawaannya pengen liburan…

tapi pasien banyak, ujian banyak….yang ada harusnya hari ini belajar, tadi pengen banget ke chiyyo, udah lama ga ke sana, kangen juga, pengen belajar di sana, tapi males sendirian, cuma temen2 gue ga ada yang bisa, akhirnya gue memilih mampir sebentar di warnet sebelum pulang….

di psikiatri anak, gampang2 susah, ilmunya menyenangkan sekaligus memusingkan…jujur aja gue lebih suka  menghadapi pasien anak ketimbang remaja yang jauh lebih bikin pusing…emang sih kalo dilihat2, kebanyakan orang tuanya pasti bermasalah juga…

tapi ada yang bener2 menampar gue, dari dulu gue paling ga suka anak sakit, ga tau deh, ga enak aja lihat anak sakit, makanya gue ga mau jadi dokter anak (secara ilmunya jg gue ga sanggup, hehehe), tp mau ga mau gue dihadapkan juga pada anak yang sakit…seorang anak, belum ada seperempat usia gue, harus menghadapi that ‘DAMN DISEASE!’ dengan metode terapi yang ga enak itu, dan gue langsung deg2an gitu waktu TS residen anak bilang, dengan terapi (yang menyakitkan namun efektif itu) pun secara teori hitungannya sekitar satu putaran bumi mengelilingi sang surya, gila! nyebelin, ngeselin, dan ga tau mesti gimana, ini lah bagian yang paling ga nyaman dari menjadi seorang dokter…apalagi psikiater…bocah kecil yang dulunya ceria, seneng aktivitas outdoor, banyak temen, suka outbond, suka petualang, ga takut flying fox…ah, betapa gue pengen bawa dia ke puncak gede, nyusurin jalan setapaknya,jatuh bangun di antara pepohonannya, ngelihat indah tebing dan kawahnya, mengagumi pangrango di kejauhan, betapa gue ingin ajak dia ke surya kencana, lari-lari di antara edellweiss sambil main sama anjing2 lucu di gunung itu…(tapi gue kan oyot)…kenapa juga dia mesti terbaring, menghadapi nyeri di kaki akibat that damn disease, menghadapi terapi yang ga enak…tapi yang bisa gue lakukan cuma ajak dia maen, ajak dia cerita…dan dia masih semangat..luar biasa…

gue inget waktu gue koas dulu, entah kenapa segala sesuatu yang paling jelas teringat justru masa2 di bagian anak, gue inget betul (mungkin edo juga masih inget) gimana si kecil 600 gram bertahan hidup sehari penuh TANPA penunjang hidup apapun, sampe akhirnya keluarga menyanggupi untuk diberi penunjang hidup sederhana yang berarti ‘cuma’ infus dan oksigen, dan ketika beberapa hari kemudian, gue ga sanggup melihat semua itu dilepas dari si kecil karena orang tuanya mau bawa dia pulang ke rumah, bayi kecil, 600 gram, punya semangat hidup begitu luar biasa, tapi akhirnya…ga ada yang bisa dilakukan, kenapa? karena orang tuanya ga mampu, DAMN!!!

gue juga masih inget, saat gue melihat kembarannya galang, muntah…cairan…coklat, NEC…wkt si kecil itu apneu…waktu harus melepas kepergian dia dengan rela…

PUJI TUHAN, galang bisa bertahan hidup dan sehat sampai sekarang…tapi inget dia dulu, gimana tangan dan kaki kecilnya ditusuk sana sini, sampe kepala, gimana dadanya yang mungil naik turun mempertahankan nafasnya melawan serangan sepsis dan apneu, gimana dia harus puasa karena NEC, gimana dia bertahan hidup tanpa tau dimana dan siapa orang tuanya…

kadang gue berpikir…anak jauh lebih kuat dari orang dewasa…

KIDS…nyebelin tapi ngangenin…

dan mengingat si kecil lincah yang sekarang cuma bisa terbaring lemah menanti hari2 menjalani terapi yang berat…mengingat si kecil galang yang nakal tapi perjuangan bertahan hidupnya luar biasa…mengingat anak2 dengan halusinasi, dengan kelebihan energi, dengan kekurangan kemampuan mental, dengan dunianya sendiri…mengingat anak2 yang dengan entengnya orang tua atau guru mengatakan anaknya males, bandel, ga bisa diatur, padahal mungkin dia adhd, rm, autisme dan berbagai hal lain yang harusnya diterapi…mengingat semua itu…gue cuma bisa bilang, self talk…belajar, tri…belajar….mungkin loe ga bisa nyembuhin mereka, mungkin loe ga bisa membuat mereka seperti harapan melambung orang tuanya, tapi siapa tau, loe bisa membuat hidup mereka, sesingkat atau selama apapun, menjadi lebih nyaman, buat mereka, buat keluarga…menjadi sedikit menyenangkan…

udah ah..pulang, tri…belajar…

MOTHER’S DAY

December 22nd, 2006 by astriparawita

Hari ini gue dibangunkan dengan cara yang tidak menyenangkan, emang sih gue tidur cukup cepat kemarin, jam9 gue udah tidur kayaknya, tanpa makan malem, cape banget…

Eh, tiba2 gue dibangunkan oleh suara sms, pas gue liat jam1.30 pagi, pengirim…ya ampunn…ngpain si abang sms gue pagi2 buta??? Setelah gue bales smsnya ternyata dia telpon dan minta gue on air, ih si abang, kerja ngajak2 orang, sebel, secara gue ngantuks beratz n suara gue serak2 baru bangun tidur gitu, agak sexy sih jadinya, huehehehe…

Dengan berat hati demi membantu teman gue dan temennya nirmala (oky), gue terima ajakannya on air, ngomongin hari ibu, bayangin coba, hampir jam 2 pagi, dibangunin, masih ngantuk2, suruh ngomongin hari ibu, hihihi…sejujurnya gue setengah2 ga sadar juga apa yang gue omongin, biasa lah secara baru bangun tidur…

Tapi habis on air, gue malah ga bisa tidur, gue malah jadi kepikiran nyokap gue, tapi keganggu juga sama film sih, akhirnya gue nonton startrek dan scent of a woman, hehehehe….pagi2 gue jadi agak telat bangun, padahal mesti rapat jam8, tapi gapapa sih…sepanjang jalan gue denger radio (radio lain, bukan yang semalem) yang lagi ngomongin tentang hari ibu juga, gue jadi inget lagi omong2an gue dini hari tadi, gue jadi kepikiran nyokap gue…dini hari tadi, yang pertama ditanya ke gue adalah apa makna ibu buat gue…apa makna nyokap gue buat gue…gila ga sih, lagi ngantuk2, baru bangun, pagi2 buta, ditanyain pertanyaan berat gitu, semalem gue cuma bilang, sulit dilukiskan dengan kata2, memang sulit, tapi sebetulnya banyak, seperti yang gue bilang semalem, nyokap gue perannya sangat besar untuk membuat gue jadi seperti sekarang ini, dia nyokap yang luar biasa, tapi ada banyak hal yang ga kesebut sama gue semalem…banyak hal yang gue kagum sama nyokap, tapi jujur aja, gue ga pernah ungkapin itu dengan kata2 ke nyokap, gue kagum karena nyokap gue rela ninggalin karirnya demi anak2, nyokap gue masih berusaha membagi antara waktu kerja dengan anak2, sempet berhenti kerja waktu gue lahir, tapi kemudian dipanggil lagi dan diangkat jadi pegawai tetap lagi di kantornya (sesuatu yang pada masa itu ga mungkin terjadi di kantor itu, karyawan yang udah mengundurkan diri, bisa masuk dan diangkat lagi) tapi dengan berat hati nyokap gue mundur lagi karena ketika anaknya udah 3, betul2 ga mungkin buat nyokap gue kerja di sana, padahal udah 9 tahun nyokap gue kerja di kantornya itu (catatan: kantornya dulu adalah radio yang nelpon gue semalem, hehehe…). gue sendiri sepertinya ga akan mungkin melakukan hal itu, tapi gue ga tau secara gue belum nikah J tapi kebayang deh, gue sampe sekarang aja masih sekolah, jadi total gue sekolah sekitar 23 tahun, dan masih sekitar 1,5tahun ke depan, total sekitar 25 tahun gue menghabiskan hidup gue menuntut ilmu, ga mungkin ilmu yang gue pelajari bertahun2 itu ga gue manfaatkan untuk kerja kelak, tapi tentu aja, gue akan mengutamakan keluarga dan anak J tapi untuk meninggalkan kerjaan sama sekali seperti nyokap gue, buat gue ga mungkin…kehebatan lain dari nyokap gue adalah, di usianya yang sekarang, ketika anak2nya udah bisa dia lepas satu demi satu, seharusnya nyokap gue tinggal tenang2 di rumah, santai2 menikmati masa tuanya, tapi beliau memberanikan diri dan memantapkan hati untuk merawat satu orang anak lagi, my sweet little Galang…sejujurnya gue sering sedih juga, gue tau nyokap gue cape, stres dan terkadang hilang kesabaran, tapi beliau masih tetep ngurus Galang, dibantu pengasuhnya tentu aja, sementara gue, jarang banget bisa pulang sore ke rumah, lebih banyak pulang malem, makanya sebetulnya, kalo mau kumpul2 sama temen2, gue lebih suka di atas jam8, karena gue jadi bisa pulang dulu, dan menjelang Galang tidur gue baru pergi lagi, sabtu minggu pengennya di rumah, tapi itu pun ga selalu bisa, biasa lah, godaan kehidupan duniawi sama temen2 begitu besar, kadang gue sedih sih…mungkin ini akan jadi resolusi gue di tahun depan, mudah2an gue bisa lebih banyak luangin waktu untuk di rumah, bantuin nyokap ngurus galang or sekedar temenin nyokap aja…gue tau sih, marah2nya beliau, kesel2nya beliau, mungkin karena pengaruh gue juga yang jarang bisa ada di rumah temenin beliau…

Gue inget betul, kebiasaan gue jarang di rumah itu udah berlangsung lama, sejak smp emang gue suka aktif di berbagai kegiatan, sma juga gitu, tapi paling banyak mungkin pas kuliah semester2 awal, banyak banget kegiatan yang gue ikutin di dalam dan di luar kampus, otomatis gue jadi jarang di rumah, bahkan hari minggu sekalipun, nyokap emang sempet protes, sampe akhirnya ga bisa protes lagi…tapi yang gue inget adalah, nyokap ga pernah lupa menyisihkan makanan yang gue suka, setiap dia masak sesuatu yang dia tau gue suka, dan gue ga sempet makan, pasti dia tinggalin untuk gue, dan kalo gue di rumah, pasti gue disuruh makan macem2 makanan yang ada di rumah, beliau cuma bilang, kamu kan jarang di rumah…dan hal itu berlangsung terus sampai sekarang… nyokap juga sering bawain gue makanan ke sekolah bahkan sampe gue kuliah, masa2 gue koas adalah yang tersering gue dibawain makanan, ga cuma sarapan, tapi nyokap juga sempet siapin makan siang untuk gue bawa ke kampus, bahkan sampai sekarang pun, saat beliau ‘ketambahan beban’ ngurus galang, sesekali beliau masih sempat menyiapkan makan pagi untuk gue bawa, apalagi kalo dia tau malemnya gue ga makan, seperti tiga hari ini, waktu gue mau berangkat, udah siap makanan untuk gue bawa, LUAR BIASA…

Gue juga inget waktu gue kecelakaan 6 tahun yang lalu, gimana stresnya nyokap karena gue kecelakaan sendirian di probolinggo, untung bokap bisa nyusul, tapi gue ga bisa langsung pulang karena repot urus administrasi pesawat, 3 hari gue ketahan di probolinggo tanpa bisa diapa2in, padahal gue perlu di operasi, yah di gips sih, tapi malah tambah ga nyaman; dan ternyata, tiap hari nyokap nangis, waktu gue sampe di carolus, nyokap keliatan cemas banget, sementara gue santai2 aja, hehehe, yah, habisnya mau diapain lagi, namanya juga kecelakaan; nyokap tungguin gue hampir tiap hari, bolak balik carolus rumah yang lumayan jauh, naek kendaraan umum..terus waktu gue dioperasi, nyokap juga cemas tungguin gue, apalagi operasi berlangsung lebih lama dari yang dibilang dokternya…waktu gue pulang rumah, nyokap udah ngeberesin kamar gue, jadi beda banget, dan boneka mickey kesayangan gue dia taro di tempat tidur, jadi cantik gitu kamar gue, padahal biasanya berantakan, hehehehe….beberapa hari di rumah gue juga belum bisa mandi sendiri, masih dibantu, dan nyokap selalu bantuin gue, nyiapin makan gue, nyokap beli piring khusus kayak di rumah sakit supaya menu gue bisa tetep lengkap seperti waktu di rumah sakit, nyokap juga kasih tambahan susu dan telur tiap malem seperti waktu di rumah sakit…tapi, gitu deh, begitu gue bisa keluar rumah 3 bulan kemudian, dan gue mendapat karimun biru tersayang itu, dimulailah lagi rutinitas gue yang lebih banyak di luar rumah sampe sekarang….gue inget, hampir semua temen gue bilang waktu gue kecelakaan, ini teguran, tri, loe disuruh istirahat sama Tuhan, loe kebanyakan kegiatan sih….mudah2an Tuhan ga punya ide seperti itu lagi sekarang, hehehehe…..

Semalem, gue juga ditanya, apa nyokap bangga sama gue; jujur aja gue ga tau, logikanya, seorang ibu pasti bangga sama anaknya, tapi sampe sekarang, gue bener2 ngerasa belum bisa banggain nyokap, secara kerjaan gue sekolah terus, belum menghasilkan apa2, mungkin bukan materi, tapi dengan ilmu gue pun kayaknya belum ada yang bisa gue berikan untuk nyokap…gue inget dulu pas selesai dokter dan mau acara sumpah, gue berusaha keras untuk jadi ketua panitia, kenapa, jujur aja supaya gue bisa ada di atas mimbar, ketua panitia pasti akan pidato, dan gue mau nyokap-bokap gue bisa bangga lihat anaknya pidato di atas mimbar, hal kecil mungkin tapi gue berharap bisa membuat mereka bangga, karena gue inget, waktu wisuda sarjana, nilai2 gue biasa banget, gue ga bisa kayak adek gue, yang dapet cincin sehingga nyokap gue duduk di kursi yang khusus, saat sumpah pun, nilai gue memang lebih baik, tapi masih standar biasa, jadi gue pengen kasih nyokap bokap sesuatu yang lain, caranya ya itu tadi…

Gue bener2 pengen bisa kasih sesuatu yang berharga buat nyokap dan bokap juga, sampe sekarang, gue ga tau apa, gue cuma berharap, bisa nyelesain pendidikan gue segera dengan prestasi yang lebih baik, banyak hal yang gue lakukan saat ini pun sebetulnya lebih untuk nyokap bokap, sepertinya ambisius dan menghabiskan waktu juga, tapi itu semua, selain untuk kesenangan gue (secara gue ga bisa kalo ga aktif di kegiatan), gue juga pengen bisa bikin orang tua gue bangga, bikin paper dan presentasi di seminar lokal dan internasional, masukin tulisan ke jurnal ilmiah, paling ga ada sesuatu yang bisa gue tunjukin ke mereka kalo gue berbuat sesuatu di pendidikan ini, kesannya narsis ya, tapi emang gue pengen aja berbuat sesuatu untuk mereka secara sampe sekarang gue merasa belum sukses dan belum bisa kasih apa2 untuk orang tua gue…

Dan yang paling gue sesali adalah sikap gue yang sering kasar, apalagi kalo lagi beda pendapat, walopun pada akhirnya tetep aja nyokap gue yang bener…emang yang paling sering dan paling keinget sama gue dan gue sesali adalah perbedaan2 gue tentang pilihan pacar gue, hehehe…selain pacar2 yang sempet dijalani, beberapa kali gue deket dengan orang yang ‘salah’ walo ga sampe pacaran tapi sempet membuat ketegangan antara gue dan nyokap, gue sadar sih, nyokap gue itu paling cemas sama gue dibanding kakak ato adek gue kalo deket sama cowo, menurut nyokap, gue beda, gue lebih sensitif dan emosional, hehehe…gue tau sih, walau beliau ga pernah maksa gue untuk cepet nikah or cari pacar, gue tau dia mulai cemas jg, hehehe, tapi udah lah, untungnya gue masih bisa santai, walau beberapa bulan yang lalu sempet salah dan sampe menimbulkan ketegangan juga sama nyokap, sekarang, gue mau menjalani dengan lebih hati2 dan bijak, dan pengennya sih yang pas juga buat nyokap; dilema sih, antara seneng dan sedih, dengan kesuksesan kakak adik gue J …Didit dan Panji, apalagi Didit, bener2 idola nyokap; ga pernah sih beliau bilang secara langsung, tapi dari sikapnya ke mereka, jelas banget gimana sayangnya nyokap sama mereka terutama kakak ipar gue itu…mudah2an gue bisa dapet gabungan Didit dan Panji, huahahahahaha (sori ye pi, rin, hehehehe….), yah, mungkin, memilih pacar yang tepat, juga merupakan salah satu yang bisa membuat nyokap gue bangga, hehehehe…..

Hari ini gue pengen beliin sesuatu buat nyokap, biasanya hari ibu berlalu gitu aja, tapi ngobrol2 di radio semalem, membuat gue banyak berpikir, setengah ngantuk mungkin tapi tetep aja, beberapa pertanyaan betul2 membuat gue berpikir, berpikir dan merenung…mudah2an lah, gue bisa menjadi lebih baik lagi, yah, buat gue sendiri juga dan terutama buat orang tua gue…

Thanks for your love, HAPPY MOTHER DAY, DEAR MOM…

p.s: thanks juga buat yang udah bangunin gue pagi2 buta, walo sempet kesel dibangunin, tapi gue jadi banyak merenung dan membuka pikiran gue, tentang arti seorang ibu…semoga loe juga tambah akrab sama nyokap loe, seperti yang loe bilang waktu itu…btw, gue penasaran sama kue nastarnya J

kenangan akan gede…

December 7th, 2006 by astriparawita

DOA

Dialah yang berjalan setiap tengah malam

Ketika bulan merah karena iri

Membuka hati setiap lelaki

Ditanamnya benih cemburu (betapa sepinya)

Yang berdaun benci

Berbunga dengki

Dan berbuah dendam

Malam itu dia datang pada kami

Ditebarnya benih itu

Pada ilalang di gunung

Dan juga pada angin sejuk yang segar

Cemburu yang dihisap oleh kami

Dendam yang terminum Laknat yang berbunga dalam hati

Kini telah mulai bersemi

Bapa, mengapa cerita ini berulang sepanjang sejarah?

Dan malam itu ketika tangkai-tangkai dengki berbunga dalam hati kami (betapa sedihnya)

Akupun berdoa Bapa, hindarilah daku dari laknat hitam itu

Malam pun turun lagi

Memeluk punggung-punggung

Gunung Gede 18 Februari 1967

soe hok gie

ketika kaki-kaki terasa begitu lelah, dan lutut ini tak sanggup menopang tubuh yang semakin berat…

ketika hati ini terasa begitu lelah, dan logika tak sanggup menopang emosi yang semakin meluap…

ketika uluran tangan berubah menjadi kekecewaan…

ketika kerinduan kepada sahabat begitu memuncak…

ketika itu…

gede dan hutannya…

mengingatkanku

akan arti kehidupan, pengorbanan, kebersamaan, persahabatan, kerendahan hati…dan cinta….

untuk para sahabat…dari setiap masa…

sebagai kenangan akan gede dan lembah surya kencananya…

melanjutkan langkah…

November 12th, 2006 by astriparawita

akhirnya…untuk pertama kalinya dalam 4 bulan ini, 4 hari yang lalu,  gue bisa betul-betul merasa lega, beban yang mengganjal di hati selama ini terangkat dengan begitu ringannya…

itulah hidup..dan..gue lega, akhirnya gue bisa melanjutkan langkah..ada yang pergi ada yang kembali ada yang datang, tapi semua mengarah ke hal yang baik dan gue yakin semakin baik…

sisa-sisa kesalahan mudah-mudahan akan semakin membaik, penerimaan yang lapang, mudah2an bisa dilakukan oleh semua…

akhir yang baik, langkah yang baik, semua akan indah pada waktunya..dan entah kenapa..gue semakin yakin..semua akan indah pada waktunya…

selalu

dengan KASIH

us3

puisi- puisi sang idola

November 12th, 2006 by astriparawita

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba

Pada suatu hari yang biasa

Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelan-pelan

Di lembah kasih, lembah Mandalawangi

Kau dan aku tegak berdiri

Melihat hutan-hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu

Ketika kudekap kau

Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Lampu-lampu berkelipan di

Jakarta

yang sepi

Kota

kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

Tanpa kata, tanpa suara

Ketika malam yang basah menyelimuti

Jakarta

kita

Apakah kau masih akan berkata

Kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua

Kecuali dalam cinta

Hari pun menjadi malam

Kulihat semuanya menjadi muram

Wajah-wajah yang tak kita kenal berbicara

Dalam bahasa yang kita tidak mengerti

Seperti kabut pagi itu

Manisku, aku akan jalan terus

Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan

Bersama hidup yang begitu biru

Selasa, 1 April 1969

Selasa, 11 November 1969

Ada

orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah

Ada

orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada

serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang,

Ada

bayi-bayi yang mati lapar di

Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayangku.

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.

Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.

HIDUP

Terasa pendeknya hidup memandang sejarah.

Tapi terasa panjangnya karena derita.

Maut; tempat perhentian terakhir.

Nikmat datangnya dan selalu memberi salam.

5 Januari 1962

PESAN

Mata yang mengantuk ini,

Adalah mata untuk memandang

Wajahmu yang bening

Seperti riak air

Tangan yang kasar ini

Adalah tangan untuk membelai

Rambut halusmu

Dan hati yang marah ini,

Adalah hati untuk mencintai kau,

Gadis-gadis yang rendah hati

Bersandarlah pada tangan ini

Tangan-tangan yang kuat dan terkepal

Dan marilah tengadah ke langit hitam

Sambil menghitung bintang-bintang

Atau bicara tentang cita-cita rakyat yang agung

Tentang sekolah anak-anak Bu Siti

Atau cita-cita Pak Miun

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang bicara tentang kemerdekaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran-tiran

Aku mengenali mereka

Yang tanpa tentara

Mau berperang melawan diktator

Dan yang tanpa uang

Mau memberantas korupsi

Kawan-kawan,

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

MANDALAWANGI PANGRANGO

Senja itu ketika matahari turun ke dalam jurang-jurang mu

Aku datang kembali

Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Cintaimu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan berbicara padaku tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya

Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar

Terimalah dan hadapilah

Dan di antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara

Aku terima ini semua

Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup

19 Juli 1966

soe hok gie

Doa…

October 3rd, 2006 by astriparawita

Ya TUHAN berilah aku

Ketenangan dan kecerahan hati

Untuk menerima segalanya

Yang tidak dapat kuubah

Keberanian

Untuk mengubah segala hal

Yang dapat kuubah

Dan

Kebijaksanaan

Untuk mengadakan pembedaan

Supaya aku

Menghayati suatu waktu dalam sehari

Menikmati suatu saat dalam waktunya

Menerima kesulitan sebagai pematang

Menuju kedamaian hati

Seperti YESUS telah berbuat

Menerima dunia ini sebagaimana adanya

Bukan seperti yang aku kehendaki

Melainkan seperti yang KAU kehendaki

Percaya

ENGKAU sendiri membuat segala sesuatu beres

Bila seluruh usahaku

Kuserahkan kepada penyelenggaraan KASIHMU

Dengan demikian

Aku layak bahagia sudah di dunia ini

Dan luar biasa bahagia bersamaMU kelak

Amin